Depok | Sketsa Online – Keterbatasan lahan di wilayah perkotaan tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk memperoleh tambahan penghasilan.
Melalui budidaya lebah trigona atau lebah madu klanceng, Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) terus mendorong terciptanya usaha produktif yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomi.
Kabid DKP3 Kota Depok, Harry Adam Fauzi, S.TP., MM, mengatakan lebah trigona merupakan jenis lebah yang tidak menyengat sehingga relatif aman dibudidayakan di lingkungan permukiman.
Meski demikian, penempatannya tetap harus berada di lokasi yang tenang dan didukung banyak tanaman berbunga sebagai sumber pakan.
“Lebah ini membutuhkan lingkungan yang nyaman dan didukung banyak tanaman berbunga agar koloninya dapat berkembang dengan baik,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Selain berperan sebagai penyerbuk tanaman yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem, budidaya lebah trigona juga memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan.
Harga madu trigona di pasaran dapat mencapai sekitar Rp350 ribu per kilogram, sehingga berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.
DKP3 sendiri telah mengembangkan program tersebut di sejumlah lokasi, salah satunya di Kelurahan Cilangkap. Kelompok masyarakat yang mendapat pendampingan kini mulai merasakan manfaat ekonomi dari hasil penjualan madu yang diproduksi secara berkelanjutan.
Adam menjelaskan, setelah koloni lebah ditempatkan, diperlukan waktu sekitar tiga bulan untuk proses adaptasi sebelum panen pertama dapat dilakukan. Setelah itu, madu dapat dipanen secara berkala tanpa merusak sarang.
“Yang diambil hanya madunya dengan cara disedot dari kantung-kantung madu di dalam sarang. Setelah itu sarang tetap dibiarkan sehingga lebah bisa kembali memproduksi madu untuk panen berikutnya,” jelasnya.
Pada tahap awal, satu koloni mampu menghasilkan sekitar 300 mililiter madu. Seiring bertambahnya usia koloni dan selama habitatnya tetap terjaga, produksi madu akan terus meningkat. Oleh karena itu, keberadaan berbagai jenis tanaman berbunga menjadi faktor penting dalam mendukung produktivitas lebah.
Hasil panen dari kelompok binaan DKP3 juga telah dipasarkan melalui berbagai kegiatan, salah satunya Pasar Tani. Madu dikemas dalam botol dan dijual sekitar Rp50 ribu per botol. Tingginya minat masyarakat membuat produk tersebut kerap habis karena telah dipesan terlebih dahulu.
Untuk memperluas manfaat program, pada tahun ini DKP3 kembali merencanakan pelatihan dan pengembangan budidaya lebah trigona bagi kelompok masyarakat baru, termasuk di wilayah Sukmajaya.
Pemerintah tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga pendampingan serta bantuan percontohan agar masyarakat mampu mengelola usaha budidaya secara mandiri.
Sebelumnya, DKP3 juga pernah mengembangkan budidaya jangkrik dan cacing tanah sebagai alternatif usaha peternakan skala rumah tangga. Namun, lebah trigona dinilai memiliki prospek yang lebih baik karena nilai jual madunya tinggi serta permintaan pasar yang terus meningkat.
Melalui program ini, DKP3 berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah yang terbatas menjadi lahan produktif. Selain mampu menghasilkan nilai ekonomi, budidaya lebah trigona juga berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan melalui proses penyerbukan tanaman.
“Harapannya, semakin banyak masyarakat yang mengembangkan budidaya lebah trigona sebagai usaha produktif yang mampu meningkatkan perekonomian keluarga. Dengan keterbatasan lahan di Kota Depok, budidaya ini diharapkan menjadi solusi peternakan perkotaan yang bernilai ekonomi dan berkelanjutan,” tutupnya. (el’s)

