Wujudkan Generasi Emas Indonesia: Ketika Akhlak Menjadi Fondasi, Kolaborasi Menjadi Kekuatan

Depok | Sketsa Online – Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa keberhasilan Indonesia mewujudkan Generasi Emas 2045 tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, maupun kemajuan teknologi.

Lebih dari itu, masa depan bangsa sangat bergantung pada kualitas manusia yang dipersiapkan sejak usia dini melalui pendidikan, lingkungan yang sehat, serta pembentukan akhlak dan karakter yang kuat.

Pandangan tersebut disampaikan Ketua DPC IWAPI Kota Depok, dr. Hj. Karlina, MARS, yang menilai pembangunan manusia harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang. Menurutnya, anak bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan aset strategis bangsa yang akan menentukan daya saing Indonesia di masa depan, termasuk dalam menjawab kebutuhan dunia usaha terhadap sumber daya manusia yang unggul.

“Anak-anak Indonesia yang tumbuh dan berkembang dengan baik, memperoleh pendidikan yang baik, serta hidup di lingkungan yang sehat akan menjadi bibit-bibit generasi muda yang memiliki potensi dan kapabilitas untuk menjawab kebutuhan sumber daya manusia di dunia usaha yang semakin kompetitif,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).

Ia menjelaskan, investasi terhadap anak tidak hanya memberikan dampak sosial, tetapi juga menentukan keberlanjutan pembangunan nasional. Dunia usaha, katanya, membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, etos kerja, kemampuan berkolaborasi, serta rasa tanggung jawab yang tinggi.

Karena itu, setiap anak harus memperoleh hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang di lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung. Selain memperoleh pendidikan yang berkualitas, anak juga membutuhkan ruang untuk bermain, belajar, mengenal lingkungan, mengembangkan kreativitas, serta membangun kemampuan bersosialisasi.

Bagi dr. Karlina, Hari Anak Nasional tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Momentum ini seharusnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan membangun Indonesia dimulai dari kesungguhan seluruh elemen bangsa dalam mempersiapkan generasi penerus sejak hari ini.

Ia menegaskan, tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di pundak keluarga, sekolah, dan pemerintah. Dunia usaha juga memiliki kepentingan sekaligus tanggung jawab moral untuk ikut menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak.

Kontribusi itu dapat diwujudkan melalui berbagai langkah sederhana, namun berdampak nyata, seperti memberikan dispensasi kepada karyawan yang harus merawat anak yang sakit, menyediakan fasilitas penitipan anak di lingkungan kerja, hingga menghadirkan ruang bermain yang aman di sekitar kawasan usaha.

“Kalau belum bisa berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan anak-anak, paling tidak para pengusaha dapat memberikan perhatian terhadap kebutuhan anak-anak di lingkungan tempat usahanya. Kepedulian sekecil apa pun akan menjadi bagian dari investasi bagi masa depan mereka,” katanya.

Selain itu, kepedulian dunia usaha juga dapat diwujudkan melalui penyediaan fasilitas publik yang ramah anak. Keberadaan wastafel yang disesuaikan dengan tinggi badan anak, toilet khusus anak, hingga fasilitas sanitasi yang aman dan nyaman bukan sekadar pelengkap infrastruktur, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter.

Fasilitas tersebut membantu menanamkan kebiasaan hidup bersih, mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab melalui aktivitas sehari-hari yang dilakukan anak sejak usia dini.

Lebih lanjut, dr. Karlina mendorong terbangunnya kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam menghadirkan ruang terbuka hijau, taman bermain edukatif, serta ruang publik yang aman, nyaman, dan mudah diakses oleh seluruh anak.

Ia menilai, membangun generasi unggul tidak mungkin dilakukan secara parsial. Keluarga merupakan sekolah pertama yang membentuk karakter, sekolah memperkuat pengetahuan dan keterampilan, pemerintah menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada anak, dunia usaha menciptakan ekosistem yang mendukung, akademisi melahirkan inovasi, sementara masyarakat menjadi ruang bagi anak untuk belajar menghargai perbedaan dan hidup berdampingan.

Ia juga mengingatkan bahwa ruang bermain tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi. Lebih dari itu, ruang tersebut merupakan wahana pembelajaran yang mampu menumbuhkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, hingga membangun kepercayaan diri anak.

Namun, dari seluruh aspek pembangunan anak, dr. Karlina menegaskan bahwa pendidikan akhlak harus menjadi fondasi utama. Pembentukan akhlak harus dimulai sejak usia dini dan tidak cukup hanya diajarkan melalui mata pelajaran agama di sekolah. Nilai-nilai tersebut harus menjadi budaya yang dibangun secara konsisten di rumah, sekolah, lingkungan, hingga ruang publik.

Anak perlu dibiasakan menghargai orang lain, bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, menjaga kebersihan, memiliki empati, mampu bekerja sama, serta berkomunikasi dengan baik. Kebiasaan-kebiasaan sederhana itulah yang pada akhirnya akan membentuk karakter kuat ketika mereka memasuki usia dewasa.

“Kalau pendidikan akhlak menjadi konsentrasi dan poin penting sejak anak-anak masih kecil, insya Allah mereka akan tumbuh menjadi generasi muda yang memiliki karakter kuat, siap bersaing, dan siap memperoleh kesempatan yang lebih baik pada masa depan,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, dr. Karlina menegaskan bahwa kecerdasan intelektual tanpa diimbangi akhlak dan karakter yang baik tidak akan cukup membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan berdaya saing.

Sebaliknya, ketika keluarga, sekolah, pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat bergerak dalam satu semangat yang sama, Indonesia sedang membangun fondasi kokoh bagi lahirnya generasi yang unggul, berintegritas, adaptif, serta mampu menjawab tantangan zaman.

Ia meyakini, keberhasilan Indonesia memanfaatkan bonus demografi dan mewujudkan Generasi Emas 2045 tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya investasi ekonomi ataupun pesatnya perkembangan teknologi, melainkan oleh keberhasilan bangsa ini membangun manusia yang berakhlak, berkarakter, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

“Pembangunan manusia adalah investasi jangka panjang. Ketika keluarga, sekolah, pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat bersama-sama mengambil bagian dalam membentuk karakter anak sejak hari ini, sesungguhnya kita sedang membangun fondasi Indonesia yang lebih maju, berdaya saing, dan berkeadaban pada masa depan,” tutupnya. (el’s)

spot_img
spot_img

Terpopuler