Bukan Cuma ISPA! Ketua KPAD Depok Ingatkan Abu Vulkanik Bisa Ganggu Mata dan Kulit

Depok | Sketsa Online – Paparan abu vulkanik yang terdeteksi di wilayah Kota Depok dan sekitarnya tidak hanya perlu diwaspadai karena dapat mengganggu saluran pernapasan. Partikel abu juga dapat mengenai mata dan kulit sehingga menimbulkan iritasi.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Depok, Chendi Liana, S.IK., M.I.Kom., meminta masyarakat memberikan perhatian lebih terhadap anak-anak. Aktivitas anak yang cukup banyak dilakukan di luar ruangan membuat mereka perlu mendapat perlindungan selama paparan abu vulkanik masih terjadi.

“Anak-anak menjadi perhatian kami karena aktivitas mereka cukup tinggi, baik bermain maupun kegiatan lainnya di luar ruangan. Dalam kondisi seperti ini, paparan abu perlu diminimalkan agar tidak mengganggu kesehatan mereka,” kata Chendi, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, abu vulkanik tidak dapat diperlakukan sama seperti debu biasa. Partikel halus yang terbawa udara dapat terhirup dan mengiritasi saluran pernapasan, sekaligus menempel pada mata dan kulit.

“Kalau terhirup, dampaknya bisa dirasakan pada saluran pernapasan. Abu yang mengenai mata juga dapat menyebabkan perih, kemerahan, atau rasa seperti ada benda yang mengganjal. Kulit pun dapat mengalami gatal dan iritasi,” ujarnya.

Pada saluran pernapasan, paparan abu dapat memicu batuk, iritasi tenggorokan, hingga rasa sesak. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian ketika anak-anak tetap melakukan aktivitas di luar rumah saat udara mengandung partikel abu.

“Jangan sampai anak-anak tetap bermain di luar ketika kondisi udara sedang terpapar abu. Kalau memang tidak ada kebutuhan, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi terlebih dahulu,” tegas Chendi.

Selain saluran pernapasan, mata anak juga perlu mendapat perhatian. Partikel abu yang masuk atau menempel pada mata dapat menyebabkan perih, kemerahan, berair, gatal, hingga rasa seperti ada benda asing.

“Kalau abu masuk ke mata, jangan dikucek karena bisa membuat iritasi semakin berat. Anak-anak juga perlu diberi pemahaman untuk segera memberi tahu orang tua ketika mata terasa perih atau mengganjal,” katanya.

Paparan pada kulit juga tidak boleh diabaikan. Abu yang menempel dapat menyebabkan kulit terasa gatal dan mengalami iritasi, sehingga kontak langsung dengan partikel abu sebaiknya diminimalkan.

“Jadi perlindungannya bukan hanya pada pernapasan. Mata dan kulit anak juga harus dijaga agar tidak terpapar langsung,” ujarnya.

Untuk mengurangi risiko terhirupnya abu, Chendi mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Masker N95 atau KN95 dapat digunakan, sementara masker bedah tiga lapis menjadi pilihan minimal.

“Kami mendorong agar masyarakat menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah. N95 atau KN95 dapat digunakan, dengan masker bedah tiga lapis sebagai pilihan minimal,” jelasnya.

Namun, penggunaan masker tidak berarti anak-anak bebas beraktivitas di luar ruangan seperti biasa. Chendi menekankan bahwa langkah paling efektif tetap mengurangi paparan dengan membatasi kegiatan di luar rumah selama kondisi belum aman.

“Masker merupakan perlindungan ketika memang harus keluar. Tetapi kalau tidak ada keperluan yang mendesak, lebih baik anak-anak berada di dalam rumah dan mengurangi aktivitas di luar,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Ia berharap orang tua ikut mengawasi aktivitas anak selama kondisi tersebut. Edukasi sederhana mengenai bahaya abu vulkanik juga penting agar anak memahami alasan mereka perlu mengurangi kegiatan di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus keluar.

“Yang paling penting, jangan menunggu sampai anak mengalami batuk, sesak, mata perih, atau iritasi kulit. Pencegahan harus dilakukan lebih dulu dengan mengurangi paparan dan memberikan perlindungan yang diperlukan,” pungkas Chendi. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler