Jakarta | Sketsa Online – Krisis akses air bersih masih menjadi tantangan serius di berbagai wilayah lahan gambut di Indonesia. Ironisnya, meski dikelilingi sumber air yang melimpah, masyarakat di kawasan tersebut kerap kesulitan memperoleh air layak konsumsi.
Hal itu disebabkan karakteristik air gambut yang memiliki tingkat keasaman tinggi, berwarna cokelat pekat, serta mengandung zat organik, besi, dan mangan dalam kadar yang melebihi baku mutu. Kondisi tersebut membuat air tidak dapat dimanfaatkan secara langsung tanpa melalui proses pengolahan.
Menjawab persoalan tersebut, tim mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER) mengembangkan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gambut Skala Komunal, sebuah sistem pengolahan air yang dirancang sebagai solusi penyediaan air bersih yang ekonomis, mudah dioperasikan, dan berkelanjutan bagi masyarakat di kawasan lahan gambut.
Inovasi ini dikembangkan oleh Muhammad Karunia Vivaldi, Geovanny Tampubolon, Monica Septyani, Muhammad Raihan Rachman, dan Tiara Wulan Win Nedhari melalui pembelajaran Capstone Design, dengan menjadikan Desa Indrapura sebagai lokasi studi kasus.
Ketua tim, Muhammad Karunia Vivaldi, menjelaskan Desa Indrapura dipilih karena memiliki karakteristik yang merepresentasikan persoalan penyediaan air bersih di kawasan gambut.
“Konsep utama perancangan ini adalah menyesuaikan setiap tahapan pengolahan dengan karakteristik air baku sekaligus proyeksi kebutuhan air masyarakat hingga 20 tahun ke depan. Dengan pendekatan tersebut, sistem yang dirancang tidak hanya mampu meningkatkan kualitas air, tetapi juga memiliki potensi untuk diterapkan secara berkelanjutan dan dikembangkan di wilayah lahan gambut lainnya,” ujar Vivaldi pada Senin (20/7/26).
Sebelum merancang instalasi, tim terlebih dahulu melakukan pengujian kualitas air gambut di Desa Indrapura. Hasilnya menunjukkan tingkat keasaman (pH) air berada di kisaran 3, jauh di bawah standar air minum yang aman, yakni 6,5–8,5.
Selain memiliki warna cokelat pekat, air tersebut juga mengandung besi dan mangan yang melebihi baku mutu sehingga harus diolah terlebih dahulu sebelum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Berangkat dari hasil analisis tersebut, tim kemudian merancang sistem pengolahan yang mempertimbangkan efektivitas teknologi, efisiensi biaya pembangunan, kebutuhan lahan, serta kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan agar dapat diterapkan secara optimal di tingkat masyarakat.
Sistem pengolahan bekerja melalui beberapa tahapan, mulai dari proses penyesuaian tingkat keasaman (pH), penyaringan berbagai zat pencemar, hingga pemurnian menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO).
Melalui rangkaian proses tersebut, air gambut yang semula berwarna cokelat dan mengandung logam dapat diolah menjadi air bersih yang memenuhi standar kualitas.
“Kami merancang sistem yang tidak hanya efektif mengolah air gambut menjadi air bersih, tetapi juga mudah dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat. Harapannya, teknologi ini dapat menjadi solusi yang berkelanjutan bagi desa-desa yang menghadapi persoalan serupa,” tambah Vivaldi.
Dosen Pembimbing Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina, Dr.Eng. Ari Rahman, S.T., M.Eng., menilai inovasi tersebut menjadi bukti bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi mampu melahirkan solusi nyata bagi persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, melalui Capstone Design pada Mata Kuliah Proyek Terintegrasi Berbasis Lingkungan (PTBL), mahasiswa tidak hanya belajar menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga merancang solusi berbasis data yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi sehingga memiliki peluang besar untuk diterapkan secara nyata.
“Dalam pembelajaran Capstone Design pada Mata Kuliah Proyek Terintegrasi Berbasis Lingkungan (PTBL), mahasiswa tidak hanya belajar menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga merancang solusi berbasis data yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi agar dapat diterapkan secara nyata di masyarakat,” jelas Dr. Ari.
Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., mengatakan inovasi tersebut mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam menghasilkan riset terapan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Pengembangan solusi untuk akses air bersih merupakan bagian dari komitmen Universitas Pertamina dalam mendukung pencapaian SDG 6 (Clean Water and Sanitation).
“Capaian Universitas Pertamina sebagai perguruan tinggi swasta peringkat keempat terbaik di Indonesia pada kategori SDG 6 dalam THE Impact Rankings 2026 menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan manfaat dan dampak nyata bagi masyarakat,” tutup Prof. Djoko. (el’s)



