Saat Air Mata Jatuh di Baitullah: Sebuah Perjalanan yang Mengubah Cara Pandang Hidup

Depok | Sketsa Online – Tidak semua perjalanan diukur dari seberapa jauh seseorang melangkah. Ada perjalanan yang justru mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri, menata kembali prioritas hidup, dan mendekatkannya kepada Sang Pencipta.

Itulah makna yang dirasakan Ketua DPC PPP Kota Depok, H. Mazhab H.M., setelah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.

Di tengah era media sosial yang kerap menjadikan perjalanan ibadah sebagai dokumentasi pengalaman pribadi, H. Mazhab memilih membagikan sisi yang lebih mendalam dari ibadah haji.

Baginya, haji bukan tentang menunjukkan bahwa seseorang telah sampai di Makkah, melainkan sebuah proses panjang untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, melatih kesabaran, serta menyadari bahwa setiap manusia adalah tempatnya salah dan khilaf.

“Haji itu bukan soal kita sudah pernah ke Makkah atau belum. Yang lebih penting adalah apakah setelah pulang kita menjadi pribadi yang lebih baik atau tidak,” ujar H. Mazhab pada Minggu (7/6/26).

Kesadaran itu semakin kuat ketika untuk pertama kalinya ia melihat Ka’bah secara langsung. Momen yang selama ini hanya ia saksikan melalui foto dan layar televisi mendadak hadir di depan matanya.

Alih-alih merasakan kebanggaan karena berhasil menginjakkan kaki di Tanah Suci, yang muncul justru rasa haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

“Yang terlintas bukan rasa bangga karena sudah sampai di sana. Justru yang muncul adalah ingatan tentang berbagai kekurangan dan kesalahan diri selama hidup. Saat melihat Ka’bah, saya merasa sangat kecil di hadapan Allah SWT,” tuturnya.

Air mata pun tak terbendung. Bukan karena lelah menjalani perjalanan panjang ataupun euforia perjalanan spiritual yang selama ini diimpikan, melainkan karena kesadaran bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang penuh keterbatasan dan senantiasa membutuhkan rahmat serta ampunan Allah SWT.

“Terharu karena rasanya seperti diingatkan kembali tentang perjalanan hidup yang sudah kita lalui. Kita merasa bahwa selama ini masih banyak yang harus diperbaiki,” katanya.

H. Mazhab mengungkapkan, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah tidak boleh berhenti pada ritual semata. Esensi ibadah justru terletak pada perubahan sikap dan perilaku setelah seseorang kembali menjalani kehidupan sehari-hari.

Ia menilai salah satu hikmah terbesar dari ibadah haji adalah tumbuhnya rasa kerendahan hati. Di Tanah Suci, jutaan umat Islam dari berbagai negara, bahasa, suku, dan latar belakang berkumpul dalam satu tujuan yang sama.

Tidak ada perbedaan status sosial, jabatan, maupun kekayaan. Semua berdiri sejajar sebagai hamba Allah SWT yang memenuhi panggilan-Nya.

“Waktu berada di sana, kita benar-benar merasakan bahwa semua manusia sama. Yang membedakan bukan jabatan, bukan kekayaan, tetapi ketakwaan di hadapan Allah,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh apa yang dimilikinya di dunia, melainkan oleh kualitas iman, ketakwaan, dan akhlak yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain memperkuat spiritualitas, ibadah haji juga mengajarkan pentingnya ikhtiar dan kedisiplinan. H. Mazhab menyampaikan telah mempersiapkan kondisi fisiknya jauh sebelum keberangkatan. Menurutnya, menjaga kesehatan merupakan bagian dari tanggung jawab seorang muslim dalam menjalankan amanah ibadah.

“Haji itu ibadah yang membutuhkan fisik. Karena itu kesehatan harus dijaga. Niat saja tidak cukup, harus dibarengi ikhtiar agar mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan maksimal,” jelasnya.

Banyak orang berfokus pada biaya dan waktu keberangkatan, padahal persiapan mental, spiritual, dan fisik tidak kalah penting. Masa tunggu yang panjang menuju keberangkatan haji seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas ibadah, memperluas ilmu agama, menjaga kesehatan, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Di balik seluruh rangkaian ibadah yang dijalani, ada satu pelajaran yang paling membekas dalam dirinya, yakni pentingnya memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Ia menyadari bahwa keberhasilan seseorang dalam beribadah tidak hanya tercermin dari banyaknya amal yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga lisan, mengendalikan emosi, menghormati orang lain, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Haji mengajarkan kita untuk lebih sabar, lebih menjaga ucapan, dan lebih menghargai orang lain. Kalau pulang haji tetapi akhlaknya tidak berubah, berarti ada yang perlu dievaluasi dalam diri kita,” ujarnya.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa kemabruran haji tidak dapat diukur dari gelar yang disandang atau banyaknya cerita yang dibagikan setelah pulang dari Tanah Suci. Kemabruran sejati tercermin dalam perubahan karakter dan akhlak yang semakin baik dari waktu ke waktu.

H. Mazhab juga mengajak masyarakat yang memiliki niat menunaikan ibadah haji untuk mempersiapkan diri sejak dini. Panggilan menuju Baitullah bukan sekadar perjalanan menuju tempat suci, melainkan perjalanan untuk menata hati dan memperkuat keimanan.

“Jangan hanya menunggu waktu berangkat. Gunakan masa tunggu itu untuk belajar, memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan menjaga kesehatan. Ketika panggilan Allah datang, kita sudah siap lahir dan batin,” pesannya.

Menutup pernyataannya, H. Mazhab menegaskan, perjalanan menuju Baitullah pada akhirnya bukanlah tujuan akhir. Justru setelah kembali ke rumah dan kembali berinteraksi dengan masyarakat, tantangan sesungguhnya dimulai bagaimana menjaga nilai-nilai yang diperoleh selama berada di Tanah Suci agar tetap hidup dalam setiap tindakan dan keputusan.

Sebab, perjalanan menuju Ka’bah mungkin memiliki batas waktu, tetapi perjalanan untuk memperbaiki diri, menjaga akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah perjalanan yang akan terus berlangsung sepanjang hayat.

“Saya memahami bahwa haji bukan akhir dari perjalanan ibadah. Justru setelah pulang, kita dituntut untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bermanfaat bagi sesama, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Itulah makna terbesar yang saya rasakan dari perjalanan ini,” tutupnya. (el’s)

spot_img
spot_img

Terpopuler