Depok | Sketsa Online – Momentum Hari Lahir Pancasila menjadi saat yang tepat untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan para pendiri bangsa.
Ketua DPRD Kota Depok dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), H. Ade Supriyatna, S.T., M.A.P., menegaskan bahwa Pancasila tetap relevan dalam menjawab tantangan demokrasi di era digital sekaligus menjadi landasan dalam memperkuat peran perempuan sebagai bagian penting dari pembangunan yang berkeadaban dan religius.
Bagi Ades, Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan pedoman moral yang memberikan arah bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di tengah berbagai perubahan zaman.
Salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini adalah meningkatnya polarisasi di ruang publik, khususnya media sosial, yang kerap memunculkan perdebatan tajam hingga berpotensi mengganggu persatuan masyarakat.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali memahami esensi demokrasi yang terkandung dalam sila keempat Pancasila, yakni Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
“Demokrasi yang dianut Indonesia adalah Demokrasi Pancasila. Ini berbeda dengan demokrasi liberal yang berkembang di Barat. Demokrasi kita tidak berjalan lepas bebas tanpa arah, melainkan dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan mengedepankan musyawarah untuk mencapai kemaslahatan bersama,” ujar Ades pada Senin (1/6/26).
Kebebasan berpendapat merupakan hak yang dijamin dalam kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut harus dijalankan secara bertanggung jawab dan tidak mengabaikan kepentingan yang lebih besar, yakni persatuan bangsa.
“Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Tetapi nilai yang harus dijaga adalah menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Demokrasi harus memperkuat persatuan, bukan sebaliknya,” katanya.
Tak hanya itu, Ades menekankan pentingnya merawat tradisi musyawarah, gotong royong, dan penghormatan terhadap perbedaan sebagai karakter khas bangsa Indonesia. Di era digital, masyarakat juga dituntut memiliki literasi yang baik agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi maupun narasi yang berpotensi memecah belah kehidupan sosial.
Selain menyoroti kualitas demokrasi, ia juga memberikan perhatian terhadap semakin luasnya peran perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.
Saat ini, perempuan tidak hanya berperan sebagai ibu dalam keluarga, tetapi juga hadir sebagai profesional, pelaku usaha, pendidik, pemimpin organisasi, akademisi, hingga penggerak kegiatan sosial yang turut berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Perkembangan tersebut sejalan dengan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab sebagaimana terkandung dalam sila kedua Pancasila.
“Sila kedua mengakomodasi peran perempuan yang semakin luas dalam membangun peradaban. Perempuan memiliki hak dan kesempatan untuk berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan, sekaligus menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang berkualitas,” ungkapnya.
Di sisi lain, penguatan peran perempuan perlu tetap berpijak pada nilai-nilai moral dan religius yang menjadi karakter bangsa Indonesia.
Ia berpandangan bahwa kemajuan zaman dan modernisasi tidak boleh membuat masyarakat meninggalkan nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Peran perempuan yang semakin luas akan semakin kuat apabila dilandasi oleh religiusitas sebagaimana terkandung dalam sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemajuan dan modernitas harus berjalan beriringan dengan nilai keimanan, moralitas, dan tanggung jawab sosial,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ades menerangkan bahwa perpaduan antara sila pertama dan sila kedua menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang maju sekaligus beradab. Dalam konteks tersebut, perempuan tidak hanya menjadi motor pembangunan, tetapi juga memiliki peran strategis dalam menjaga moralitas, pendidikan karakter, serta ketahanan keluarga sebagai fondasi utama bangsa.
Untuk itu, ia mendorong agar kebijakan pembangunan daerah terus diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi keluarga, perlindungan perempuan dan anak, serta perluasan akses pendidikan dan kesempatan bagi perempuan untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki.
Pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila akan melahirkan masyarakat yang tidak hanya maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat.
Menutup pernyataannya, pada momentum Hari Lahir Pancasila tahun ini, Ades mengajak masyarakat Kota Depok, khususnya generasi muda, untuk menjadikan Pancasila sebagai pedoman hidup yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Ia menekankan bahwa generasi muda tidak cukup hanya menghafal Pancasila, tetapi juga perlu memahami sejarah lahirnya serta mendalami nilai-nilai yang terkandung dalam setiap silanya.
Pemahaman yang utuh terhadap Pancasila akan membantu generasi muda menyelaraskan nilai-nilai kebangsaan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.
“Generasi muda perlu memahami histori lahirnya Pancasila dan kandungan nilainya secara lebih mendalam. Dengan begitu, mereka dapat menyesuaikannya dengan perkembangan zaman dan cara pandang generasi saat ini, sekaligus membangun rasa cinta, kebanggaan, dan tanggung jawab terhadap bangsa dan negaranya,” tutur Ades.
Ia meyakini bahwa generasi muda yang memahami akar sejarah bangsanya akan lebih siap menghadapi tantangan global, mampu memanfaatkan kemajuan teknologi secara bijak, serta tetap menjunjung tinggi nilai persatuan, gotong royong, dan toleransi sebagai karakter bangsa Indonesia.
Menghargai perbedaan, menjaga persatuan, mengedepankan musyawarah, bergotong royong, hingga menghormati martabat sesama manusia merupakan bentuk konkret pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Nilai-nilai Pancasila harus hadir dalam tindakan nyata. Jika itu terus kita lakukan, maka Pancasila akan tetap hidup dan menjadi kekuatan bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan zaman,” tegasnya.
Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan dinamika sosial yang terus berubah, Pancasila tetap menjadi kompas moral sekaligus pijakan ideologis dalam membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
“Melalui demokrasi yang berlandaskan hikmat kebijaksanaan, semangat persatuan, penghormatan terhadap nilai kemanusiaan, serta religiusitas yang kokoh, Kota Depok diharapkan mampu tumbuh menjadi kota yang maju, berkeadilan, harmonis, dan tetap berakar pada jati diri bangsa Indonesia,” tutupnya. (el’s)



