Bangga Berkebaya! Hj. Yuni Indriany: Simbol Emansipasi Perempuan dan Jati Diri Bangsa

Depok | Sketsa Online – Hari Kebaya Nasional menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya merupakan bagian penting dari pembangunan bangsa. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, globalisasi, dan derasnya pertukaran budaya lintas negara, menjaga warisan budaya tidak lagi sebatas mempertahankan tradisi, tetapi juga memperkokoh identitas nasional, karakter kebangsaan, dan rasa memiliki terhadap Indonesia.

Kebaya merupakan salah satu warisan budaya yang lahir dari perjalanan panjang peradaban Nusantara. Di balik keindahan rancangannya, tersimpan nilai kesederhanaan, kesantunan, ketangguhan, serta penghormatan terhadap akar budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai-nilai inilah yang menjadikan kebaya tetap relevan sebagai simbol jati diri bangsa di tengah perubahan zaman.

Wakil Ketua DPRD Kota Depok sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Hj. Yuni Indriany, S.E., M.Si., menegaskan bahwa Hari Kebaya Nasional harus dimaknai sebagai momentum memperkuat kesadaran kolektif untuk merawat warisan budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, kemajuan peradaban seharusnya berjalan beriringan dengan kemampuan menjaga identitas nasional. Bangsa yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya akan memiliki karakter yang kuat, rasa percaya diri, serta daya saing di tingkat global.

“Sebagai perempuan Indonesia, saya memandang kebaya sebagai simbol emansipasi dan peran strategis perempuan dalam pembangunan. Semangat yang diwariskan para tokoh perempuan bangsa, termasuk Ibu Fatmawati Soekarno, mengajarkan bahwa perempuan dapat menjadi penggerak perubahan tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai-nilai luhur bangsa,” ujar Hj. Yuni pada Jumat (24/7/26).

Lebih lanjut, Ia menilai, perempuan memiliki posisi strategis sebagai penjaga sekaligus pewaris kebudayaan. Peran tersebut tidak hanya diwujudkan melalui kontribusi di berbagai sektor pembangunan, tetapi juga melalui keteladanan dalam menjaga tradisi, memperkuat pendidikan karakter di lingkungan keluarga, serta menanamkan kebanggaan terhadap budaya Indonesia sejak usia dini.

Bagi Hj. Yuni, kebaya bukan sekadar busana tradisional, melainkan representasi perjalanan sejarah bangsa yang mengajarkan kesederhanaan, martabat, persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Memahami makna yang terkandung di dalamnya merupakan bagian dari proses membangun karakter generasi penerus agar tidak tercerabut dari akar budayanya.

“Di tengah derasnya pengaruh budaya global, generasi muda harus tetap memiliki kebanggaan terhadap identitas bangsanya. Kebaya bukan sekadar busana tradisional, tetapi simbol sejarah, perjuangan, dan nilai-nilai luhur yang harus terus diwariskan,” katanya.

Menutup pernyataannya, Hj. Yuni berharap Hari Kebaya Nasional menjadi gerakan budaya yang mampu menumbuhkan kesadaran lintas generasi untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan warisan budaya Indonesia.

Pelestarian budaya merupakan investasi jangka panjang dalam membangun bangsa yang berkarakter, berkepribadian, serta mampu menghadapi perubahan global tanpa kehilangan jati dirinya.

“Pada Hari Kebaya Nasional ini, saya mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bangga mengenakan kebaya sekaligus memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Menjaga kebaya bukan hanya melestarikan sebuah busana tradisional, tetapi juga merawat identitas bangsa, memperkuat persatuan, dan menghargai perjuangan para pendahulu yang telah mewariskan kekayaan budaya Indonesia,” tutupnya. (el’s)

spot_img
spot_img

Terpopuler