Cuma di SMK Mekanik Cibinong! Mesin CNC hingga Kemitraan Industri Jadi Bekal Siswa Siap Kerja

Cibinong | Sketsa Online – Kesiapan kerja lulusan SMK tidak cukup dibangun melalui teori di ruang kelas. Penguasaan teknologi, pengalaman praktik, dan pemahaman terhadap kebutuhan perusahaan menjadi bekal penting agar lulusan mampu bersaing di dunia industri.

Prinsip tersebut menjadi fokus pengembangan SMK Mekanik Cibinong, Kabupaten Bogor, melalui penyediaan fasilitas pemesinan Computer Numerical Control (CNC) serta penguatan kemitraan dengan industri.

Pembina Yayasan Pendidikan Sumarno, H. Igun Sumarno, menilai kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan perusahaan masih menjadi tantangan pendidikan vokasi. Karena itu, proses pembelajaran perlu diarahkan agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan yang relevan dengan tuntutan dunia kerja.

“Selama ini banyak anak SMK itu sekolah, tetapi begitu lulus tidak bisa bekerja. Bekerja pun masih harus dilatih. Berarti baru siap dilatih. Ini yang menjadi permasalahan sekarang,” ujar H. Igun seusai acara Maulid Nabi di Lapangan SMK Mekanik Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (15/10/2026).

Untuk menjawab tantangan tersebut, sekolah mendorong keterlibatan industri dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, kebutuhan perusahaan dapat diterjemahkan ke dalam materi dan praktik yang sesuai dengan perkembangan teknologi serta standar kerja.

“Bagaimana kebutuhan di industri atau kurikulum industri itu dibawa ke sekolah. Di sekolah diaplikasikan, diimplementasikan, nanti di industri. Jadi, diskusi antara dunia industri dengan sekolah itu dibangun oleh kita sekarang ini,” katanya.

Salah satu bentuk kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Kelas Khusus Yamaha (KKY). Menurutnya, keberadaan Yamaha Center di lingkungan sekolah menjadi bagian dari pengembangan pelatihan teknisi, sekaligus mendekatkan pembelajaran otomotif dengan kebutuhan kompetensi di industri.

Kemitraan dengan dunia usaha dan industri juga membuka peluang bagi siswa untuk mengenal kebutuhan perusahaan sebelum menyelesaikan pendidikan. H. Igun menyebut sejumlah siswa bahkan telah memperoleh tawaran kerja ketika masih duduk di kelas XI.

“Alhamdulillah, dari jumlah siswa yang tiap tahun naik secara signifikan, hampir 70 persen siswa kami diterima di industri. Bahkan, ada yang sudah mendapat kesempatan tersebut saat masih duduk di kelas XI,” ungkapnya.

Peluang tersebut memperlihatkan pentingnya keterhubungan antara pembelajaran di sekolah dan kebutuhan tenaga kerja. Meski demikian, angka serapan lulusan tetap perlu didukung data penempatan kerja agar capaian tersebut dapat tergambarkan secara akurat.

Selain memperkuat kemitraan, SMK Mekanik Cibinong mengembangkan kompetensi teknis melalui penyediaan fasilitas pemesinan, termasuk CNC Milling dan CNC Bubut. Teknologi ini memungkinkan proses pengerjaan komponen dilakukan berdasarkan instruksi terprogram dengan tingkat ketelitian yang terukur.

Penguasaan CNC menjadi relevan bagi siswa yang dipersiapkan memasuki sektor manufaktur. Teknologi tersebut menuntut pemahaman terhadap proses produksi, ketepatan ukuran, serta kemampuan mengikuti prosedur teknis yang menjadi bagian penting dalam pekerjaan industri modern.

H. Igun mengatakan fasilitas pemesinan tersebut merupakan bagian dari pengembangan sarana praktik di sekolah.

“Kita sudah punya CNC milling, CNC bubut itu sudah dikerjakan secara otomatis,” tuturnya.

Pengalaman praktik juga diarahkan pada pembuatan produk mekanis, seperti palu dan berbagai perkakas lainnya. Melalui kegiatan tersebut, siswa berkesempatan menerapkan keterampilan teknis dalam proses pengerjaan benda yang memiliki fungsi nyata.

Di bidang otomotif, kerja sama dengan Toyota pada kompetensi Teknik Kendaraan Ringan turut menjadi bagian dari upaya memperkuat keterkaitan pembelajaran dengan kebutuhan industri.

Pengembangan kompetensi tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan jumlah peserta didik. H. Igun menyampaikan bahwa jumlah siswa SMK Mekanik Cibinong saat ini mencapai 1.149 orang. Yayasan juga merencanakan penerimaan 1.000 siswa baru pada tahun ajaran mendatang.

Tak hanya berfokus pada kompetensi kejuruan, sekolah turut menyediakan fasilitas pendukung kegiatan siswa, termasuk gedung olahraga dalam ruangan. Sarana tersebut melengkapi lingkungan pendidikan yang dikembangkan untuk mendukung kegiatan belajar dan pengembangan potensi peserta didik.

Bagi H. Igun, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh pencapaian akademik. Pembentukan karakter dan prestasi nonakademik juga menjadi bagian penting dalam membangun kualitas siswa.

“Mari kita bangun sekolah ini dengan hati, mari kita bangun sekolah ini dengan ilmu,” tuturnya.

Ia menambahkan, pengembangan sekolah perlu memberi ruang bagi siswa untuk bertumbuh melalui beragam bidang prestasi, baik di dalam maupun di luar kelas.

“Yang paling penting adalah sekolah berprestasi. Prestasi itu bukan hanya akademis, tetapi nonakademis. Di kita di sini semuanya sudah mulai ada,” tambahnya.

Penguatan fasilitas teknologi, kolaborasi dengan industri, dan pembentukan karakter menjadi bagian dari upaya SMK Mekanik Cibinong mempersiapkan siswa menghadapi perubahan dunia kerja.

Melalui pembelajaran yang semakin relevan dengan kebutuhan industri, pendidikan vokasi diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga siap beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Pendidikan yang kami bangun hari ini harus menjadi bekal bagi masa depan siswa. Kami ingin mereka tumbuh menjadi lulusan yang kompeten, siap bekerja, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi industri,” tutup H. Igun. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler