Hari Santri Jadi Momentum Muhasabah, H. Igun: Tanamkan Adab Sebelum Ilmu

Depok | Sketsa Online – Peringatan Hari Santri 2026 tidak semestinya berhenti pada seremoni dan penghormatan terhadap sejarah perjuangan kaum santri. Momentum ini juga menjadi ruang muhasabah untuk meneguhkan kembali pentingnya adab, akhlak, dan tanggung jawab dalam membentuk generasi yang berilmu sekaligus berkarakter.

Pesan tersebut disampaikan H. Igun Sumarno, S.Pd., M.M., politisi senior sekaligus tokoh pendidikan di Kota Depok. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui capaian akademik, tetapi juga dari karakter seseorang dalam menggunakan pengetahuan dan menerapkannya di tengah kehidupan bermasyarakat.

“Ilmu memang penting, tetapi adab harus menjadi fondasinya. Orang yang berilmu perlu memiliki kerendahan hati, menghormati sesama, serta memahami tanggung jawab atas pengetahuan yang dimilikinya,” ujar H. Igun pada Rabu (21/10/26).

Ia menilai, tradisi pesantren menyimpan nilai-nilai pendidikan yang tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman. Penghormatan kepada guru, kedisiplinan, kejujuran, kesederhanaan, dan kesungguhan dalam belajar merupakan bagian dari proses pembentukan pribadi yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga matang dalam bersikap.

Nilai-nilai tersebut tidak berhenti di lingkungan pesantren. Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk menghadirkan keteladanan yang nyata agar generasi muda memahami bahwa karakter dibentuk melalui kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar nasihat.

“Menanamkan adab bukan berarti mengesampingkan kecerdasan. Justru, kecerdasan perlu berjalan beriringan dengan akhlak agar ilmu yang dimiliki membawa manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan juga bagi orang lain,” tuturnya.

Pentingnya pembentukan karakter semakin terasa di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi. Generasi muda dituntut bukan hanya mampu menyerap pengetahuan, tetapi juga cermat memilah informasi, menjaga etika komunikasi, dan mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Dalam pandangan H. Igun, kemampuan mengevaluasi diri juga menjadi bagian penting dari proses pendewasaan. Kesediaan menerima kritik, mengakui kekeliruan, dan memperbaiki sikap menunjukkan bahwa seseorang tidak sekadar mengejar pengetahuan, tetapi juga terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

“Adab terlihat dari cara seseorang bersikap ketika berbeda pendapat, memperlakukan orang lain, dan menggunakan ilmunya. Di situlah karakter diuji, bukan hanya ketika seseorang berbicara tentang kebaikan, tetapi ketika ia benar-benar menjalankannya,” ungkapnya.

Ia berharap, peringatan Hari Santri dapat mendorong masyarakat menjadikan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Prestasi akademik tetap penting, tetapi harus disertai integritas, kepedulian sosial, dan kesadaran untuk mengambil bagian dalam kemajuan bangsa.

Kemajuan yang sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi ilmu yang dikuasai, tetapi juga oleh nilai-nilai yang memandu penerapannya. Pengetahuan membuka peluang untuk berkembang, sedangkan adab memastikan setiap langkah tetap berpijak pada tanggung jawab moral dan penghormatan terhadap sesama.

“Tanamkan adab sebelum ilmu. Sebab, ilmu yang tinggi akan semakin bermakna ketika disertai akhlak yang baik dan diwujudkan dalam tindakan yang memberi manfaat bagi sesama,” pungkasnya. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler