Jakarta | Sketsa Online – International Energy Agency (IEA) memperkirakan total investasi energi global mencapai US$3,4 triliun pada 2026, mencatat rekor tertinggi di tengah ketidakpastian geopolitik dan perubahan lanskap energi global.
Besarnya nilai investasi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan aset dan risiko yang semakin terukur, terutama ketika perusahaan menghadapi tantangan kerusakan aset, kenaikan biaya pemeliharaan, hingga potensi gangguan operasional.
Kondisi tersebut mendorong kebutuhan akan metode yang mampu memperkirakan kemungkinan terjadinya risiko sekaligus menghitung dampak finansialnya. Di sinilah ilmu aktuaria memiliki peluang untuk berkontribusi di sektor energi.
Selama ini, keahlian aktuaria di Indonesia lebih dikenal dalam industri asuransi untuk mengukur risiko dan memperkirakan kebutuhan finansial. Namun, prinsip dan metode aktuaria juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan aset, perencanaan pemeliharaan, serta keputusan penggantian aset.
Peluang tersebut diperkenalkan Program Studi Sains Aktuaria Universitas Pertamina (UPER) kepada pegawai perusahaan pengelola data minyak dan gas bumi (migas) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) pada 26 September 2026.
“Pendekatan aktuaria membantu perusahaan mengukur risiko kerusakan aset, memperkirakan dampak keuangan, dan menentukan langkah pencegahan berdasarkan data,” ungkap Dr. Tasmi, S.Si., M.Si., Ketua Program Studi Sains Aktuaria UPER sekaligus Ketua Tim PkM.
Salah satu metode yang diperkenalkan adalah survival analysis, yaitu metode statistik untuk memperkirakan berapa lama suatu peralatan dapat berfungsi sebelum mengalami kerusakan.
Dengan memanfaatkan data historis, metode ini dapat membantu perusahaan memahami pola kegagalan aset dan memperkirakan peluang aset tetap berfungsi dalam periode tertentu.
Sebagai contoh, data usia pemakaian pompa, jadwal perawatan, dan riwayat kerusakan dapat dianalisis untuk memperkirakan peluang pompa tetap berfungsi dalam satu tahun ke depan.
Hasil analisis tersebut dapat membantu perusahaan menentukan aset yang perlu diprioritaskan untuk pemeliharaan atau pemeriksaan lebih lanjut, sekaligus menyiapkan anggaran penggantian sebelum kerusakan mengganggu operasional.
Selain memperkirakan kemungkinan kegagalan aset, pendekatan aktuaria juga dapat membantu perusahaan mempertimbangkan konsekuensi ekonomi dari keputusan pemeliharaan dan penggantian aset.
Dalam kegiatan PkM tersebut, tim UPER turut menyiapkan modul yang dapat menjadi acuan bagi perusahaan dalam menganalisis risiko dan dampak finansial dari berbagai alternatif keputusan.
“Misalnya, perusahaan memiliki mesin lama yang semakin sering membutuhkan perbaikan. Mempertahankannya berarti terus membayar biaya perawatan, sementara membeli mesin baru membutuhkan investasi awal yang besar, tetapi bisa menghemat biaya operasional,” jelas Dr. Tasmi.
Menurutnya, dynamic programming dapat digunakan untuk membandingkan pilihan mempertahankan atau mengganti aset dalam beberapa tahun ke depan dengan mempertimbangkan biaya pemeliharaan, kebutuhan investasi, hingga nilai jual aset lama.
“Dengan begitu, perusahaan dapat menilai apakah lebih menguntungkan mengganti mesin sekarang atau tetap menggunakannya untuk sementara,” tambahnya.
Penerapan tersebut menunjukkan bahwa ilmu aktuaria dapat berperan lebih luas dari sekadar pengelolaan risiko di industri asuransi.
Melalui pemanfaatan data dan model matematis, metode aktuaria dapat membantu perusahaan energi mempertimbangkan kemungkinan risiko dan konsekuensi finansial secara lebih terukur dalam mengambil keputusan.
Kolaborasi UPER dengan industri melalui kegiatan PkM juga menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk memahami persoalan pengelolaan risiko yang dihadapi industri energi secara langsung. Interaksi tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan penerapan ilmu aktuaria yang semakin relevan dengan kebutuhan industri.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengatakan bahwa keterhubungan antara keilmuan dan kebutuhan industri merupakan bagian penting dalam pengembangan pendidikan tinggi, khususnya di bidang energi.
“Universitas Pertamina memiliki ekosistem keilmuan yang dekat dengan sektor energi. Karena itu, melalui pengembangan Sains Aktuaria dengan peminatan Asuransi Energi dan Manajemen Risiko, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kompetensi aktuaria secara umum, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan pengelolaan risiko di sektor energi,” ujar Prof. Ichsan.
Pengembangan Sains Aktuaria di UPER diarahkan untuk menghadirkan kompetensi yang relevan dengan karakteristik industri energi. Mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan dalam analisis risiko dan keuangan, tetapi juga didorong untuk memahami penerapannya pada persoalan nyata yang dihadapi perusahaan.
Melalui penguatan kolaborasi dengan industri, UPER terus mendorong pengembangan keilmuan yang selaras dengan kebutuhan sektor energi.
Penerapan ilmu aktuaria diharapkan dapat memperluas pendekatan pengelolaan risiko di industri energi, sekaligus mendukung pengambilan keputusan yang lebih terukur, berbasis data, dan mempertimbangkan konsekuensi finansial dalam jangka panjang. (el’s)







