Sentuhan Estetik Anak Berkebutuhan Khusus PKBM Spectrum Millennial Hidupkan Batik Depok

Depok | Sketsa Online – Dari tangan sekitar 60 anak berkebutuhan khusus di PKBM Spectrum Milenial, batik Depok menemukan cara baru untuk bercerita. Jejak cap, sapuan warna, dan proses pengerjaan secara bergantian melahirkan kain dengan motif khas kota.

Di balik setiap lembar kain, ada ruang belajar yang mempertemukan kreativitas, partisipasi, dan kesempatan bagi anak-anak untuk menunjukkan kemampuan melalui karya nyata.

Cerita itu bermula pada 2020, ketika pandemi Covid-19 membatasi aktivitas anak-anak. Pembina Spectrum Milenial, Junaidi, mencari kegiatan yang dapat dilakukan secara terarah, tetapi tetap menyenangkan dan memberikan stimulus. Membatik kemudian dipilih setelah ia melihat ketelatenan anak-anak, yang sebagian besar merupakan penyandang autisme, ketika mengecap dan mewarnai.

“Pada saat Covid, anak-anak tidak ada kegiatan. Saya coba kegiatan membatik karena melihat mereka cukup telaten saat mengecap dan mewarnai. Dari situ saya pikir, kegiatan ini bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan sekaligus memberi stimulus dan membantu proses terapi mereka,” ujar Junaidi saat diwawancarai pada Sabtu (3/10/26).

Dari aktivitas sederhana itu, membatik perlahan berkembang menjadi ruang eksplorasi. Anak-anak belajar mengikuti tahapan kerja, bergantian mengambil peran, dan menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat serta digunakan.

Keterbatasan kondisi turut mendorong Junaidi berinovasi pada alat cap. Jika batik cap lazim menggunakan tembaga, ia memilih memanfaatkan kertas bekas dan potongan papan kayu sisa. Material tersebut dibentuk mengikuti pola, kemudian direkatkan dengan lem hingga dapat digunakan untuk memindahkan malam (bahan lilin Batik) ke permukaan kain.

Pilihan bahan itu bukan sekadar persoalan biaya. Alat cap berbahan daur ulang lebih ringan dan tidak panas ketika digunakan, sehingga lebih mudah dipegang dan disesuaikan dengan aktivitas anak-anak.

“Kalau menggunakan tembaga dengan ukuran paling besar seperti ini, biaya pembuatannya bisa sekitar Rp200–300 ribu. Karena kami membuat sendiri dari bahan yang ada, biayanya tidak sampai ratusan ribu. Kami hanya membutuhkan lem dan bahan-bahan daur ulang, jadi lebih hemat dan sekaligus bisa dimanfaatkan untuk kegiatan anak-anak,” katanya.

Meski tidak menyamai presisi tembaga untuk menghasilkan garis dan detail halus, cap buatan tangan justru memberikan karakter tersendiri. Setiap jejak pada kain dipengaruhi posisi cap, tekanan tangan, serta proses pewarnaan.

Pola yang sama pun tidak selalu menghasilkan tampilan serupa.

“Motif kita unik karena setiap kain tidak akan persis sama. Walaupun menggunakan motif yang sama, posisi cap, tekanan saat mengecap, dan proses pewarnaannya bisa berbeda. Jadi, setiap kain punya detail dan karakter tersendiri,” ungkapnya.

Keunikan itu lahir dari proses yang dikerjakan bersama. Anak-anak mengambil bagian sesuai kemampuan, mulai dari mengecap, mewarnai hingga membantu proses rolling.

“Kerjanya juga dilakukan bersama-sama. Ada anak yang bagian mengecap, ada yang mewarnai, kemudian dilanjutkan dengan proses rolling. Jadi mereka bisa saling bergantian dan tidak harus mengerjakan satu tahap saja. Dengan begitu, semua anak bisa ikut terlibat dalam proses pembuatan batik sesuai kemampuan masing-masing,” tuturnya.

Kini, sekitar 60 anak usia SMP hingga SMA terlibat dalam kegiatan tersebut. Karena seluruh pengerjaan masih dilakukan secara manual, produksinya berada di kisaran dua hingga tiga kain per bulan. Pemasaran berkembang melalui jejaring pertemanan dan unggahan status WhatsApp.

Dari proses yang sederhana itu, karya mereka mulai mendapat pesanan. Sejumlah desainer di Depok telah memesan batik dengan motif yang mengambil inspirasi dari karakter, ikon, dan sejarah kota, seperti belimbing, Gong Si Bolong, ayam jago, hingga Tugu Kemenangan di Jalan Pemuda.

Batik yang dihasilkan pun tidak berhenti sebagai aktivitas pembelajaran. Motif-motif lokal diterjemahkan menjadi bahasa visual yang membawa cerita Depok ke dalam fesyen dan produk kreatif.

Motif Tugu Kemenangan, misalnya, lahir setelah Junaidi mengikuti pameran “Depok Tempo Dulu” di kawasan Jalan Pemuda. Dari kegiatan itu, ia melihat sebuah ikon kota yang memiliki potensi untuk diterjemahkan menjadi motif batik.

“Saya coba bikin karena terinspirasi dari kawasan dan ikon Kota Depok. Saya ingin apa yang menjadi ciri khas dan bagian dari cerita Depok bisa dituangkan ke dalam motif batik, sehingga orang yang melihatnya juga bisa mengenal Depok melalui kain ini,” jelasnya.

Dengan pendekatan itu, setiap motif tidak sekadar mengejar tampilan visual. Ada upaya merekam karakter kota melalui kain sekaligus memperkenalkan ikon Depok dalam bentuk yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

Apresiasi terhadap karya tersebut mulai datang dari luar lingkungan PKBM. Seorang pengunjung bahkan mendatangi lokasi secara khusus setelah mengetahui keberadaan batik itu melalui Instagram. Ia ingin melihat langsung kain yang dibuat anak-anak berkebutuhan khusus.

Bagi anak-anak, perhatian dari luar lingkungan belajar memberikan pengalaman berbeda. Karya yang mereka kerjakan bersama dapat dilihat, diminati, dan digunakan oleh orang lain. Pengalaman itu membuka ruang bagi mereka untuk mengenali kemampuan diri sekaligus merasakan bahwa karya mereka memiliki tempat di tengah masyarakat.

Junaidi ingin perjalanan batik Depok tidak berhenti di wilayah kota. Ia ingin motif yang mengangkat sejarah dan karakter Depok semakin luas digunakan dan dikenal di luar daerah.

“Saya ingin batik Depok tidak hanya dikenal dan digunakan di Kota Depok, tetapi juga bisa dikenal sampai ke luar daerah. Jadi, bukan hanya masyarakat Depok yang memakai, tetapi orang dari daerah lain juga mengenal dan menggunakan batik Depok. Dengan begitu, motif dan karakter khas Depok bisa semakin luas diperkenalkan,” tandasnya.

Dari ruang belajar yang sederhana, kegiatan membatik itu kini berkembang menjadi ruang berkarya yang mempertemukan kreativitas anak dengan identitas lokal Depok. Setiap kain membawa jejak proses bersama sekaligus cerita tentang kota yang diterjemahkan melalui tangan anak-anak berkebutuhan khusus.

“Anak-anak ini bisa kok berkarya. Saya ingin mengubah pandangan masyarakat bahwa anak-anak berkebutuhan khusus juga punya kemampuan, kreativitas, dan kesempatan untuk menghasilkan karya yang bernilai. Ke depan, saya ingin mereka semakin percaya diri, terus berkembang, dan karya mereka bisa diterima serta diapresiasi lebih luas oleh masyarakat,” pungkas Junaidi. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler