Putra Depok Raih Gelar MPH di Harvard, Bari Ahmad Adhyasta Dedikasikan Ilmu untuk Negeri

Harvard | Sketsa Online – Perjalanan pendidikan dan pengabdian Bari Ahmad Adhyasta menjadi kebanggaan tersendiri bagi kedua orang tuanya. Bari merupakan putra dari wartawan senior Hersubeno Arief dan Ratu Ratna Damayani yang saat ini menjabat sebagai Koordinator Tim Pengawalan Percepatan Pembangunan Daerah (TP3D) Kota Depok sekaligus Ketua DPP Partai Gelora Indonesia.

Putra asal Depok tersebut berhasil meraih gelar Master of Public Health (MPH) in Global Health dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, Amerika Serikat, setelah melalui perjalanan panjang dari pelayanan kesehatan masyarakat di daerah hingga mendalami kebijakan kesehatan global di salah satu universitas terbaik dunia.

Bagi Ratu Ratna Damayani, pencapaian Bari bukan sekadar keberhasilan akademik, tetapi juga bagian dari komitmennya untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan kesehatan di Indonesia.

“Bari selalu melihat kesehatan bukan hanya soal mengobati pasien, tetapi bagaimana negara mampu menghadirkan sistem kesehatan yang adil dan dapat dijangkau seluruh masyarakat,” ujar Ratu Ratna Damayani pada Jumat (29/5/26).

Perjalanan pendidikan Bari dimulai dari TK Al Fauzien Depok, kemudian melanjutkan pendidikan di SD dan SMP Pribadi Depok, hingga menempuh pendidikan menengah di SMAN 1 Bogor. Setelah itu, Bari melanjutkan pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Lulusan FKUI tersebut memulai pengabdiannya sebagai dokter umum di Puskesmas Kedundung, Kota Mojokerto, Jawa Timur. Di fasilitas kesehatan primer itu, Bari berhadapan langsung dengan berbagai persoalan mendasar yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat Indonesia.

Mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan, rendahnya literasi kesehatan masyarakat, keterbatasan fasilitas, hingga persoalan sosial ekonomi yang memengaruhi kondisi pasien sehari-hari.

Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya bahwa persoalan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan penyakit, tetapi juga erat dengan faktor lingkungan, pendidikan, ekonomi, dan arah kebijakan publik.

Menurut Ratu Ratna Damayani, pengalaman bekerja di puskesmas menjadi titik penting yang membentuk perspektif Bari mengenai pentingnya penguatan layanan kesehatan primer sebagai fondasi utama sistem kesehatan nasional.

“Di situ Bari belajar bahwa dokter tidak hanya bekerja di ruang praktik. Ia melihat langsung bagaimana kondisi sosial masyarakat sangat memengaruhi kesehatan mereka,” katanya.

Dalam sistem kesehatan modern, puskesmas memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Dari layanan primer inilah berbagai program promotif dan preventif dijalankan, mulai dari imunisasi, edukasi kesehatan, pencegahan stunting, pengendalian penyakit menular, hingga pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Setelah menjalani tugas di Mojokerto, Bari melanjutkan praktik sebagai dokter umum di RS Kamar Medika sebelum dipercaya menjadi Resident Medical Officer di MRCCC Siloam Hospitals Jakarta, pusat layanan kanker terpadu yang dikenal sebagai salah satu fasilitas onkologi modern di Indonesia.

Di rumah sakit tersebut, Bari memperoleh pengalaman mengenai tata kelola pelayanan medis modern, koordinasi multidisiplin tenaga kesehatan, keselamatan pasien, hingga sistem operasional rumah sakit berbasis teknologi. Pengalaman itu semakin memperluas cara pandangnya mengenai tantangan pemerataan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.

Ketertarikan Bari terhadap dunia kesehatan kemudian berkembang ke bidang riset medis saat aktif sebagai Research Assistant di Departemen Bedah RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Dalam perannya, Bari terlibat dalam pengumpulan data klinis, pengolahan informasi penelitian, hingga mendukung pengembangan publikasi ilmiah berbasis evidence-based medicine. Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa kebijakan kesehatan yang baik harus dibangun berdasarkan data dan bukti ilmiah.

Perjalanan kariernya kemudian berlanjut ke bidang kebijakan publik saat bergabung sebagai Policy Analyst di Strategic Policy Institute for Indonesia. Di lembaga tersebut, Bari terlibat dalam analisis regulasi pemerintah, penyusunan rekomendasi kebijakan, serta kajian mengenai perlindungan sosial dan tata kelola kesehatan nasional.

Selain itu, Bari juga sempat menjadi konsultan bagi Dinas Kesehatan Kota Depok dalam beberapa pembahasan dan kajian kebijakan kesehatan. Pengalaman tersebut semakin memperkuat keterlibatannya dalam upaya penguatan sistem kesehatan daerah berbasis data dan kebutuhan masyarakat.

Pandemi COVID-19 menjadi momentum yang semakin memperkuat ketertarikannya terhadap kesehatan global. Bari menilai sistem kesehatan suatu negara tidak hanya bergantung pada kapasitas rumah sakit, tetapi juga pada kesiapan kebijakan, pengelolaan data, koordinasi lintas sektor, dan kemampuan negara membangun sistem kesehatan masyarakat yang tangguh.

Komitmen tersebut akhirnya membawanya melanjutkan studi Master of Public Health (MPH) in Global Health di Harvard T.H. Chan School of Public Health, Amerika Serikat.

Di institusi tersebut, Bari mempelajari berbagai isu strategis kesehatan dunia, mulai dari epidemiologi global, ekonomi kesehatan, penguatan sistem kesehatan, diplomasi kesehatan internasional, hingga tata kelola krisis kesehatan lintas negara.

Lingkungan akademik internasional memberinya kesempatan mempelajari bagaimana berbagai negara membangun sistem kesehatan mereka, termasuk pendekatan kebijakan untuk menghadapi pandemi, perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga ketimpangan akses layanan kesehatan.

Sebagai penerima beasiswa LPDP, Bari juga meyakini bahwa pendidikan global harus diterjemahkan menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan nasional. Menurut Ratu Ratna Damayani, putranya selalu menempatkan ilmu sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

“Bagi Bari, pendidikan bukan hanya pencapaian pribadi. Ilmu yang diperoleh harus bisa kembali memberi manfaat untuk Indonesia,” tutur Ratu Ratna Damayani.

Kini setelah menyelesaikan studinya di Harvard, Bari membawa perspektif yang semakin luas mengenai masa depan kesehatan Indonesia. Ia menilai peningkatan kualitas kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh banyaknya rumah sakit atau tenaga medis, tetapi juga oleh kualitas kebijakan, pemerataan layanan, serta kemampuan negara membangun sistem kesehatan yang kuat dan berkeadilan.

Perjalanan Bari Ahmad Adhyasta dari puskesmas di daerah hingga meraih gelar MPH di Harvard menjadi simbol bagaimana pengalaman lapangan dapat berpadu dengan wawasan internasional untuk membentuk generasi baru profesional kesehatan Indonesia.

Di tengah transformasi sektor kesehatan nasional, sosok seperti Bari menunjukkan hadirnya generasi muda yang tidak hanya ingin mengobati pasien, tetapi juga berupaya memahami dan memperbaiki sistem yang memengaruhi kehidupan masyarakat secara lebih luas.

Ratu Ratna Damayani juga menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas doa serta dukungan yang diberikan banyak pihak selama perjalanan pendidikan putranya.

“Matur nuwun sanget, hatur nuhun, terima kasih atas semua doa yang diberikan. Semoga ilmunya berkah dan dapat membawa manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat Indonesia,” ujar Ratu Ratna Damayani. (el’s)

Terpopuler