Hari Anak Nasional 2026, Jiacep: Anak Depok Hebat Berawal dari Keluarga Hebat

Depok | Sketsa Online – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen seluruh elemen bangsa dalam menyiapkan generasi penerus yang berkualitas.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, perubahan sosial, serta meningkatnya ancaman terhadap tumbuh kembang anak, seperti perundungan, kekerasan, hingga penyalahgunaan teknologi, penguatan peran keluarga dinilai menjadi fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul.

Tokoh Pendidikan Kota Depok, Jiacep, menegaskan bahwa keluarga merupakan sekolah pertama sekaligus lingkungan pendidikan paling mendasar dalam membentuk karakter, moral, dan kepribadian anak. Kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh kualitas pengasuhan yang diberikan keluarga hari ini.

“Hari Anak Nasional bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum ini harus menjadi refleksi bersama bahwa masa depan Indonesia sedang dipersiapkan melalui cara kita mendidik, melindungi, dan mendampingi setiap anak agar tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berintegritas, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian terhadap sesama,” ujar Jiacep, Rabu (22/7/2026).

Ia menjelaskan, jauh sebelum mengenal bangku sekolah, anak telah lebih dahulu memperoleh pendidikan dari lingkungan keluarga. Di rumah, anak belajar mengenal nilai-nilai kehidupan yang akan menjadi bekal saat menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

“Sebelum mengenal huruf dan angka, anak terlebih dahulu belajar tentang kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, empati, serta penghormatan kepada orang lain dari lingkungan keluarganya. Nilai-nilai itulah yang akan menjadi kompas moral ketika mereka tumbuh dan menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” katanya.

Meski demikian, Jiacep menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan bukan semata menjadi tanggung jawab keluarga ataupun sekolah. Pendidikan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar anak dapat tumbuh secara optimal.

“Pendidikan merupakan tanggung jawab kolektif. Keluarga, sekolah, pemerintah, dunia usaha, media massa, hingga masyarakat harus membangun ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak. Ketika kolaborasi itu terbangun, kita tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional, integritas moral, kemampuan beradaptasi, dan kepedulian sosial,” tegasnya.

Menurut Jiacep, tantangan terbesar di era digital bukan hanya kemampuan menguasai teknologi, tetapi bagaimana teknologi dimanfaatkan secara bijaksana, produktif, dan bertanggung jawab. Karena itu, peran orang tua tetap tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi.

“Teknologi hanyalah alat. Gawai secanggih apa pun tidak akan mampu menggantikan sentuhan kasih sayang orang tua. Anak membutuhkan komunikasi yang hangat, perhatian yang tulus, ruang untuk didengar, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter selalu lahir dari contoh nyata, bukan hanya dari nasihat,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki hak yang wajib dipenuhi dan dilindungi, mulai dari hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara optimal, memperoleh pendidikan yang layak, bermain, berpartisipasi, hingga terbebas dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi, diskriminasi, maupun perundungan.

“Ketika hak-hak anak dipenuhi secara utuh, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, kreatif, tangguh, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat, daerah, hingga bangsa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jiacep menilai kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas generasi muda yang dipersiapkan sejak dini.

“Depok yang maju tidak hanya ditandai oleh jalan yang baik, gedung yang megah, atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika kota ini mampu melahirkan generasi yang berakhlak, berilmu, sehat, kreatif, inovatif, toleran, serta memiliki kepedulian sosial yang kuat. Investasi terbesar yang dapat dilakukan sebuah daerah adalah investasi pada pembangunan manusia melalui keluarga yang berkualitas,” jelasnya.

Menutup pernyataannya, Jiacep mengajak seluruh orang tua, pendidik, pemerintah, dunia usaha, media massa, dan masyarakat untuk menjadikan Hari Anak Nasional sebagai titik penguatan sinergi dalam memenuhi hak-hak anak sekaligus membangun budaya pengasuhan yang positif.

“Anak Depok hebat berawal dari keluarga hebat. Dari keluarga yang penuh kasih lahir karakter, dari karakter lahir prestasi, dan dari prestasi lahir masa depan Kota Depok yang maju, berdaya saing, serta bermartabat. Mari jadikan Hari Anak Nasional 2026 sebagai pengingat bahwa membangun Generasi Emas Indonesia harus dimulai dari rumah, karena keluarga adalah sekolah pertama sekaligus fondasi utama peradaban bangsa,” tutupnya. (el’s)

spot_img
spot_img

Terpopuler