Semangat Indonesia Raya! Edi Masturo Dorong Gotong Royong Jadi Aksi Nyata Kemerdekaan

Depok | Sketsa Online – Mengisi kemerdekaan tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan besar. Di tengah kehidupan masyarakat, makna kemerdekaan justru dapat hadir melalui hal-hal sederhana: kebersamaan, kepedulian, kesediaan saling membantu, serta kemauan mengambil tanggung jawab untuk kepentingan bersama.

Nilai-nilai tersebut tercermin dalam pembukaan rangkaian peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di RW 10, Perumahan Depok Jaya Agung, Kelurahan Rangkapan Jaya, Kota Depok, Minggu (9/8/2026).

Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Depok sekaligus Anggota DPRD Kota Depok, H. Edi Masturo, S.E., turut hadir dan mengapresiasi keterlibatan warga dalam menghidupkan momentum kemerdekaan. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak semata menjadi ruang hiburan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat hubungan sosial dan menanamkan kesadaran tentang pentingnya kepentingan bersama.

“Saya mengapresiasi kegiatan seperti ini karena bukan sekadar kegiatan rutin setiap tahun. Di dalamnya ada semangat kebersamaan, interaksi antarwarga, dan pembelajaran bagaimana masyarakat membangun sesuatu secara bersama-sama. Ini salah satu bentuk sederhana bagaimana kita mengisi kemerdekaan,” ujar Edi, Minggu (9/8/2026).

Rangkaian kegiatan melibatkan warga lintas usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Sejumlah perlombaan disiapkan untuk peserta tingkat TK, SD, SMP, SMA, hingga ibu-ibu.

Bagi Edi, keterlibatan lintas generasi tersebut memiliki nilai pendidikan yang penting. Anak-anak tidak hanya mengenal kemerdekaan melalui pelajaran sejarah atau upacara, tetapi juga dapat merasakan nilai-nilainya secara langsung melalui interaksi, permainan, sportivitas, dan kebersamaan di lingkungan tempat tinggal.

“Pesertanya melibatkan berbagai usia, mulai dari TK, SD, SMP, SMA sampai ibu-ibu. Ini penting karena anak-anak kita perlu melihat bahwa kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diperingati setiap 17 Agustus, tetapi ada nilai yang harus mereka praktikkan, seperti kebersamaan, sportivitas, saling menghargai, dan kepedulian terhadap lingkungan,” katanya.

Ia menilai perlombaan warga juga memiliki makna yang melampaui kompetisi. Dari kegiatan tersebut, anak-anak belajar menerima kemenangan maupun kekalahan, menghargai peserta lain, serta memahami bahwa sebuah kegiatan dapat terlaksana karena adanya kontribusi dari banyak pihak.

Semangat itu terlihat dalam pola kepanitiaan di RW 10. Tanggung jawab penyelenggaraan dilakukan secara bergilir dari RT 1 hingga RT 7 sehingga setiap lingkungan memperoleh kesempatan untuk berperan sekaligus belajar mengelola kegiatan bersama. Tahun ini, RT 7 RW 10 dipercaya menjadi pelaksana.

“Panitia di-rolling dari RT 1 sampai RT 7. Menurut saya, ini bagus karena setiap RT mendapat kesempatan untuk belajar bertanggung jawab dan berkontribusi. Setiap kepanitiaan boleh mempunyai konsep sendiri, tetapi tujuan besarnya tetap sama, yaitu bagaimana seluruh rangkaian kegiatan bisa berjalan dan seluruh warga bisa ikut merasakan kebersamaan,” ujar Edi.

Mekanisme tersebut menjadi contoh sederhana bahwa gotong royong tidak harus diwujudkan melalui pembagian peran yang seragam. Setiap orang maupun kelompok dapat memberikan kontribusi sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya, selama diarahkan pada tujuan yang sama.

“Gotong royong itu bukan berarti semua orang harus melakukan hal yang sama. Gotong royong adalah ketika setiap orang mengambil bagian sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya, kemudian semua bergerak untuk tujuan bersama. Nilai seperti ini yang harus terus kita tanamkan dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Dalam konteks yang lebih luas, Edi menegaskan bahwa kemerdekaan tidak cukup dikenang melalui simbol, upacara, maupun perayaan setiap Agustus. Maknanya perlu diterjemahkan menjadi sikap yang memperkuat persatuan dalam kehidupan sehari-hari.

Lingkungan RT dan RW, merupakan ruang paling dekat bagi masyarakat untuk mempraktikkan nilai tersebut. Menjaga kerukunan, membantu tetangga, menghormati perbedaan, serta bersedia terlibat dalam persoalan bersama merupakan bentuk sederhana dari tanggung jawab sebagai warga negara.

Karena itu, ia berharap energi positif yang tumbuh selama peringatan HUT RI tidak berhenti ketika perlombaan dan seluruh rangkaian acara berakhir. Momentum kemerdekaan harus menjadi pengingat untuk mempertahankan kepedulian sosial sepanjang tahun.

“Jangan sampai semangat kemerdekaan hanya muncul pada bulan Agustus. Justru setelah perayaan selesai, semangat itu harus tetap hidup dalam keseharian. Kita bisa mengisinya dengan menjaga kerukunan, saling membantu, menghormati perbedaan, dan mau bergotong royong ketika ada kepentingan bersama,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ia menyampaikan, kebiasaan bekerja bersama dari lingkungan terkecil merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga persatuan. Nilai kebangsaan tidak hanya tumbuh melalui wacana, tetapi juga melalui pengalaman sehari-hari ketika warga saling membantu dan mengambil peran dalam kehidupan bersama.

“Ini yang harus kita jaga. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini harus kita isi dengan sesuatu yang nyata. Tidak harus selalu besar. Kalau di lingkungan kita ada warga yang saling peduli, mau membantu, mau bekerja sama, dan menjaga kerukunan, itu sudah menjadi bagian dari cara kita menghargai kemerdekaan,” kata Edi.

Menutup pernyataannya, Ia juga menekankan pentingnya mewariskan nilai kebersamaan tersebut kepada generasi muda agar makna kemerdekaan tidak berhenti pada kemampuan mengenang sejarah. Generasi berikutnya perlu memiliki pengalaman sekaligus kesadaran untuk menerapkan persatuan, kepedulian, dan kerja bersama dalam menghadapi berbagai persoalan di lingkungannya.

“Yang paling penting adalah bagaimana semangat kemerdekaan ini terus kita jaga bersama melalui kebersamaan dan gotong royong,” tutupnya. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler