Depok | Sketsa Online – Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) resmi memberikan rekomendasi pelaksanaan ASCOPS Pencak Silat Championship 2026 yang akan digelar pada 10–12 Juli 2026 di GOR Kota Depok, Grand Depok City (GDC), Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok.
Rekomendasi tersebut tertuang dalam Surat PB IPSI Nomor 24/KH/IV/2026 tertanggal 8 Juni 2026 yang ditandatangani Ketua Harian (Demisioner) PB IPSI, Benny Sumarsono. Terbitnya rekomendasi tersebut menegaskan bahwa penyelenggaraan kejuaraan telah memperoleh legitimasi dari induk organisasi pencak silat nasional.
Dalam surat rekomendasi itu, PB IPSI menetapkan sejumlah ketentuan yang wajib dipenuhi panitia penyelenggara. Di antaranya penggunaan peraturan pertandingan terbaru, mengacu pada Standar Nasional Penyelenggaraan Kejuaraan Pencak Silat Tahun 2023, penggunaan enam bagan pertandingan, serta pemenuhan aspek kesehatan dan keselamatan atlet melalui surat keterangan sehat dan dukungan tenaga medis yang memiliki Surat Tanda Registrasi (STR).
Selain itu, panitia diwajibkan berkoordinasi dengan PB IPSI dan pihak terkait lainnya serta menyampaikan laporan lengkap kegiatan yang dilengkapi dokumentasi foto dan video paling lambat dua minggu setelah kejuaraan berakhir.
Ketentuan tersebut mencerminkan komitmen IPSI dalam menjaga kualitas penyelenggaraan kompetisi sekaligus memperkuat sistem pembinaan atlet yang profesional, aman, dan berkelanjutan.
Sekretaris Umum IPSI Kota Depok, Dedi Setiawan, menyambut positif terbitnya rekomendasi dari PB IPSI tersebut. Baginya, ASCOPS Championship 2026 bukan sekadar ajang pertandingan, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter generasi muda melalui olahraga pencak silat.
“Alhamdulillah, rekomendasi dari PB IPSI telah terbit. Ini menjadi bukti bahwa kejuaraan dilaksanakan sesuai mekanisme organisasi dan standar yang berlaku. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter generasi muda,” ujar Dedi Setiawan pada Senin (8/6/26).
Dedi menjelaskan bahwa pencak silat memiliki keistimewaan karena tidak hanya mengembangkan kemampuan fisik dan teknik bertanding, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.
“Pencak silat bukan hanya olahraga prestasi. Di dalamnya terdapat pendidikan karakter, pembinaan mental, disiplin, serta nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, setiap kejuaraan harus menjadi ruang pembelajaran bagi para atlet muda,” katanya.
Menurut Dedi, keberhasilan seorang pesilat tidak semata-mata diukur dari jumlah medali yang diraih. Sikap, integritas, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bagian penting dari proses pembinaan yang harus terus dijaga.
“Seorang pesilat tidak hanya dinilai dari jumlah medali yang diperoleh, tetapi juga dari sikap, perilaku, dan kemampuannya menjaga nilai-nilai luhur pencak silat dalam kehidupan sehari-hari. Karakter yang baik adalah fondasi utama bagi lahirnya atlet yang berkualitas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sportivitas harus menjadi ruh dalam setiap kompetisi. Menang dan kalah merupakan bagian dari proses pembelajaran yang harus diterima dengan sikap dewasa dan penuh penghormatan terhadap sesama atlet.
“Di dalam pencak silat, atlet diajarkan untuk menghormati pelatih, menghargai lawan, menerima kemenangan dengan rendah hati, dan menghadapi kekalahan dengan lapang dada. Nilai-nilai inilah yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” tutur Dedi.
Lebih lanjut, Dedi menilai kejuaraan yang berkualitas akan menjadi sarana evaluasi hasil latihan sekaligus wahana pembentukan mental juara bagi para atlet. Kompetisi juga menjadi instrumen penting untuk mengukur efektivitas pembinaan yang dilakukan oleh perguruan dan pelatih.
“Kejuaraan yang baik bukan hanya menghasilkan juara, tetapi juga melahirkan generasi yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki semangat persaudaraan. Prestasi harus berjalan beriringan dengan karakter,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, pencak silat memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang tangguh di tengah tantangan sosial dan perkembangan zaman yang semakin kompleks.
“Kami ingin melihat lahirnya atlet-atlet yang tidak hanya hebat di gelanggang pertandingan, tetapi juga mampu menjadi teladan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Itulah esensi pembinaan yang sesungguhnya,” pungkas Dedi.
ASCOPS Pencak Silat Championship 2026 diproyeksikan menjadi salah satu ajang pembinaan yang mampu melahirkan bibit-bibit atlet potensial dari berbagai daerah. Lebih dari sekadar kompetisi, kejuaraan ini menjadi momentum untuk memperkuat karakter, sportivitas, disiplin, dan semangat persatuan di kalangan generasi muda.
Menutup pernyataannya, Dedi menegaskan dengan dukungan resmi dari PB IPSI, penyelenggaraan kejuaraan ini juga menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem olahraga pencak silat yang sehat dan berkelanjutan. Tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga pada pembentukan sumber daya manusia yang berintegritas, berbudaya, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
“Pencak silat bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Pencak silat adalah warisan budaya bangsa yang mengajarkan keberanian, kedisiplinan, penghormatan kepada sesama, serta tanggung jawab dalam kehidupan. Nilai-nilai inilah yang menjadikan pencak silat tetap relevan sebagai sarana pembentukan karakter generasi muda Indonesia di tengah perubahan zaman,” tutup Dedi. (el’s)



