Rangkul Generasi Muda, Chandra Rahmansyah Tegaskan Depok Milik Semua

Depok | Sketsa Online – Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah mengajak generasi muda mengambil peran nyata dalam merawat toleransi dan memperkuat kerukunan antarumat beragama. Menurutnya, keberagaman harus menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat, bukan sekat yang membatasi interaksi maupun partisipasi warga.

Pesan tersebut disampaikan Chandra saat membuka Sarasehan Depok Kota Inklusif Tahun 2026, Rabu (14/10/2026).

Kegiatan yang digagas Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok itu mengangkat tema “Menguatkan Kerukunan Antarumat Beragama dalam Bingkai Kebersamaan Generasi Muda”.

Dalam sambutannya, Chandra menempatkan generasi muda sebagai salah satu penentu arah kehidupan sosial Depok pada masa mendatang. Cara mereka menyikapi perbedaan, membangun komunikasi, dan menjalin hubungan lintas agama akan turut menentukan kualitas kehidupan masyarakat yang majemuk.

“Generasi muda hari ini adalah wajah Depok pada 10 sampai 20 tahun mendatang. Karena itu, bagaimana mereka memahami perbedaan, membangun komunikasi, dan menjaga persaudaraan akan sangat menentukan masa depan kota ini,” ujar Chandra.

Ia menjelaskan, keberagaman agama, suku, budaya, dan latar belakang sosial merupakan realitas kehidupan yang perlu disikapi dengan saling menghormati. Perbedaan bukan alasan untuk membatasi pergaulan, melainkan kesempatan memperluas solidaritas dan menumbuhkan kepercayaan di tengah masyarakat.

Lebih dari sekadar menjaga situasi tetap kondusif, Chandra memandang kerukunan perlu diwujudkan melalui tindakan sehari-hari. Menghormati keyakinan orang lain, menolak diskriminasi, dan membuka ruang kerja sama menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang inklusif.

“Kerukunan bukan sekadar tidak adanya konflik. Kerukunan harus terlihat dalam sikap kita sehari-hari, bagaimana kita menghormati orang lain, menerima perbedaan, dan tetap bisa bekerja sama meskipun memiliki latar belakang yang tidak sama,” tuturnya.

Untuk menumbuhkan sikap tersebut, ruang perjumpaan lintas agama dan antarkelompok perlu diperluas. Sekolah, kampus, organisasi kepemudaan, hingga lingkungan tempat tinggal dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk berdialog, berbagi pengalaman, dan mengenal perbedaan secara langsung.

Tantangan menjaga kerukunan juga hadir di ruang digital. Arus informasi yang bergerak cepat melalui media sosial dapat memperluas wawasan, tetapi berpotensi memicu kesalahpahaman apabila informasi yang belum terverifikasi disebarkan tanpa pertimbangan.

Karena itu, Chandra mengingatkan pentingnya kecakapan digital yang disertai tanggung jawab dalam berkomunikasi. Perbedaan pendapat, menurutnya, harus disikapi secara dewasa tanpa terjebak pada provokasi maupun ujaran kebencian.

“Generasi muda perlu cerdas memilah informasi, memeriksa kebenaran berita, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan pendapat. Perbedaan pandangan seharusnya disikapi melalui dialog, bukan provokasi atau ujaran kebencian,” tegasnya.

Di sisi lain, pembangunan Depok sebagai kota yang inklusif membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Pemerintah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, dan komunitas pemuda perlu memperkuat kolaborasi agar nilai toleransi hadir dalam kebijakan, kegiatan sosial, serta kehidupan sehari-hari.

Sarasehan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.

Peran generasi muda dinilai penting, tidak hanya melalui gagasan, tetapi juga lewat tindakan sederhana, seperti membangun pertemanan lintas agama, menghargai keyakinan orang lain, dan menolak perlakuan diskriminatif di lingkungan sekitar.

Menutup pernyataannya, Chandra menegaskan, perbedaan identitas tidak menghilangkan kesamaan kedudukan sebagai warga yang hidup berdampingan dan memiliki kepentingan bersama dalam membangun kota. Setiap orang perlu mendapat ruang untuk berpartisipasi tanpa dibatasi latar belakang agama, suku, maupun budaya.

“Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk menjauh. Jadikan perbedaan sebagai ruang untuk saling mengenal, saling menghormati, dan membangun persaudaraan. Depok adalah rumah kita bersama, dan menjaga kerukunannya merupakan tanggung jawab kita semua,” pungkasnya. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler