Jakarta Sketsa Online – Di tengah dinamika tugas menjaga kedaulatan negara dan membina sumber daya manusia di lingkungan TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama TNI Harun Arrasyid membuktikan bahwa semangat belajar tidak mengenal batas.
Perwira tinggi yang menjabat sebagai Kepala Dinas Pembinaan Mental (Kadisbintal) TNI AL itu resmi meraih gelar Doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Promosi Terbuka Program Doktor Ilmu Dakwah, Fakultas Agama Islam, Universitas Islam As-Syafi’iyah, Jakarta, Sabtu (1/8/2026).
Disertasi berjudul “Dakwah Belanegara sebagai Instrumen Pembinaan Mental Nasionalisme Prajurit TNI AL” menjadi puncak perjalanan akademiknya.
Penelitian tersebut mengangkat pentingnya dakwah bela negara sebagai instrumen pembinaan mental dan penguatan nasionalisme prajurit TNI Angkatan Laut, sehingga mampu mendukung terwujudnya prajurit yang profesional, berintegritas, dan berkarakter.
Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Anggota DPRD Kota Depok dari Fraksi PKB Depok, H. Ade Ibrahim, S.Pd.I. Baginya, pencapaian Harun Arrasyid memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar meraih gelar akademik tertinggi.
Di tengah berbagai tantangan global yang menuntut profesionalisme aparatur negara, kehadiran pemimpin yang terus meningkatkan kapasitas intelektual merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditawar.
“Atas nama pribadi, keluarga, dan sebagai kakak ipar, saya bersyukur dan bangga atas pencapaian Bapak H. Harun Arrasyid selama ini. Keberhasilannya meraih gelar Doktor merupakan buah dari dedikasi, kerja keras, dan semangat belajar yang tidak pernah padam. Ini bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga kebanggaan bagi institusi TNI Angkatan Laut dan bangsa Indonesia,” ujar Ade.
Ade menuturkan, seorang pemimpin sejati tidak boleh berhenti belajar. Jabatan, pengalaman, maupun pencapaian karier bukanlah akhir dari proses pengembangan diri, melainkan amanah yang menuntut peningkatan kapasitas secara berkelanjutan.
Ia menilai tema penelitian yang diangkat Harun Arrasyid menunjukkan bahwa kekuatan pertahanan negara tidak hanya dibangun melalui modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) maupun peningkatan kemampuan teknis prajurit, tetapi juga melalui pembinaan karakter, moral, dan spiritual sebagai fondasi integritas setiap insan TNI.
“Ketahanan sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik atau kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusianya. Prajurit yang memiliki mental tangguh, karakter kuat, disiplin, serta nilai-nilai keagamaan yang kokoh akan mampu menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan menjunjung tinggi kehormatan institusi,” katanya.
Ade meyakini hasil penelitian tersebut memiliki relevansi yang luas. Gagasan yang dituangkan dalam disertasi itu tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan militer, tetapi juga dapat menjadi referensi dalam membangun karakter aparatur sipil negara (ASN), dunia pendidikan, hingga kepemimpinan di berbagai sektor.
Lebih lanjut, Ia juga menilai tantangan bangsa ke depan membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual (intellectual intelligence), kecerdasan emosional (emotional intelligence), dan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence).
“Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cakap mengambil keputusan, tetapi juga memiliki kepekaan moral dan tanggung jawab sosial. Karena itu, saya melihat keberhasilan Bapak Harun Arrasyid sebagai representasi kepemimpinan yang bertumpu pada ilmu pengetahuan, integritas, dan nilai-nilai kemanusiaan,” ungkapnya.
Ade berharap capaian akademik tersebut mampu memotivasi generasi muda agar tidak cepat berpuas diri atas pencapaian yang telah diraih. Budaya belajar, lanjutnya, harus terus dipelihara agar Indonesia memiliki sumber daya manusia yang unggul, mampu bersaing di tingkat global, sekaligus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan.
Menutup pernyataannya, Ia menegaskan sosok Harun Arrasyid menunjukkan bahwa jabatan dan tanggung jawab yang besar bukanlah alasan untuk berhenti belajar. Sebaliknya, semakin tinggi amanah yang diemban, semakin besar pula tanggung jawab untuk terus memperkaya ilmu pengetahuan serta menjaga integritas.
“Meraih gelar doktor di tengah amanah sebagai perwira tinggi TNI menunjukkan bahwa pengabdian harus selalu disertai semangat belajar. Semoga capaian ini menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menuntut ilmu, menjaga integritas, dan mengabdi bagi bangsa. Selamat dan sukses kepada Bapak Harun Arrasyid,” tutupnya. (el’s)






