Dari Tunas Kelapa untuk Bangsa, H. Ade Ibrahim: Pramuka Jadi Fondasi Karakter Generasi Muda

Depok | Sketsa Online – Pendidikan kepramukaan dinilai memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang tangguh, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.

Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi D DPRD Kota Depok dari Fraksi PKB, H. Ade Ibrahim, saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Pramuka ke-65 di Yayasan Pendidikan Islam Nurul Falah, Areman, Depok, Jumat (14/8/2026).

“Pendidikan kepramukaan membentuk pribadi yang kuat, disiplin tinggi serta peduli sesama. Ini adalah bekal yang sangat baik untuk generasi muda bangsa menghadapi kemajuan saat ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang berlangsung cepat perlu diimbangi dengan keteguhan karakter. Kecakapan akademik dan kemampuan memanfaatkan teknologi harus berjalan bersama nilai moral, tanggung jawab, serta kepedulian sosial.

“Anak-anak kita tidak cukup hanya pintar dan mampu mengikuti perkembangan teknologi. Mereka juga harus memiliki kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, dan kekuatan karakter,” katanya.

Menurut Ade, kegiatan kepramukaan memberikan pengalaman langsung yang mendorong peserta didik belajar bekerja sama, menghadapi tantangan, mengambil keputusan, memimpin, serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun kelompok.

“Di dalam Pramuka, anak-anak belajar disiplin, belajar bekerja sama, belajar bertanggung jawab, sekaligus belajar peduli kepada sesama. Nilai-nilai seperti inilah yang menjadi bekal ketika mereka memasuki kehidupan yang lebih luas,” tuturnya.

Dalam amanatnya, Ade juga mengangkat filosofi tunas kelapa sebagai lambang Gerakan Pramuka. Simbol tersebut, menggambarkan harapan agar setiap anggota terus bertumbuh hingga menjadi pribadi yang memiliki manfaat luas.

“Seorang anggota Gerakan Pramuka diharapkan menjadi pribadi yang bermanfaat sesuai lambang Gerakan Pramuka, yaitu tunas kelapa. Ketika dewasa kelak menjadi pohon kelapa yang memiliki banyak manfaat, mulai dari akarnya, batangnya, daunnya sampai buahnya,” ungkapnya.

Filosofi itu menggambarkan bahwa proses pembentukan manusia tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh seharusnya menjadi modal untuk berkontribusi bagi keluarga, lingkungan, masyarakat, hingga bangsa.

“Jangan hanya berpikir bagaimana kita menjadi orang hebat untuk diri sendiri. Yang lebih penting adalah bagaimana kemampuan yang kita miliki nantinya bisa memberikan manfaat bagi orang lain,” tegas Ade.

Ia menilai pesan tersebut semakin relevan di tengah era digital. Kemudahan memperoleh informasi dan teknologi membuka banyak peluang bagi generasi muda, tetapi juga membutuhkan kecakapan dalam menyaring informasi, berpikir kritis, menjaga etika, serta mengendalikan diri.

“Perkembangan zaman harus kita hadapi, bukan kita hindari. Tetapi kemajuan itu harus dibarengi karakter yang kuat. Jangan sampai teknologi berkembang pesat, sementara sikap disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian justru melemah,” jelasnya.

Sejalan dengan tujuan pendidikan, Ade berharap nilai-nilai kepramukaan terus mendapat ruang dalam membentuk sumber daya manusia yang berkarakter. Upaya tersebut, kata dia, membutuhkan sinergi sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial.

“Pendidikan karakter harus menjadi tanggung jawab bersama. Sekolah memberikan pendidikan, keluarga memberikan keteladanan, dan lingkungan memberikan pengalaman. Kalau semuanya berjalan bersama, anak-anak kita akan tumbuh lebih kuat,” ucapnya.

Karena itu, peringatan Hari Pramuka ke-65 tidak seharusnya berhenti pada seremoni. Momentum tersebut dapat menjadi refleksi bersama mengenai pentingnya menyiapkan generasi yang mampu mengikuti perubahan tanpa kehilangan nilai-nilai kebersamaan dan tanggung jawab.

“Upacara ini jangan hanya menjadi kegiatan tahunan. Jadikan momentum untuk mengingat kembali bahwa Pramuka punya tugas besar, yaitu menyiapkan generasi muda yang tangguh, disiplin, mandiri, peduli, dan siap memberikan manfaat,” ujarnya.

Bagi Ade, keberhasilan pembinaan kepramukaan pada akhirnya tercermin dari sikap anggotanya dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan yang diperoleh harus berkembang menjadi kebiasaan positif dan melekat sebagai karakter.

“Ukuran keberhasilan Pramuka bukan hanya ketika anak bisa mengikuti upacara atau menguasai berbagai keterampilan. Ukurannya adalah ketika nilai-nilai itu melekat dalam dirinya dan menjadi perilaku sehari-hari,” paparnya.

Menutup pernyataannya, Ade menegaskan bahwa filosofi tunas kelapa menggambarkan perjalanan seorang Pramuka: tumbuh dari sesuatu yang sederhana, berkembang menjadi pribadi yang kokoh, lalu memberikan manfaat seluas-luasnya bagi sesama.

“Jadilah seperti tunas kelapa. Tumbuh dengan kuat, berkembang dengan baik, dan ketika sudah besar mampu memberikan manfaat bagi banyak orang. Itulah semangat Pramuka: bukan hanya menjadi pribadi yang hebat untuk dirinya sendiri, tetapi juga berguna bagi sesama, masyarakat, dan bangsa,” tutupnya. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler