Depok | Sketsa Online – Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, memaknai filosofi angklung sebagai gambaran bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika setiap elemen saling melengkapi. Nilai ini relevan dengan pembangunan Kota Depok yang membutuhkan kolaborasi berbagai unsur masyarakat untuk mewujudkan kota yang maju, inklusif, dan berbudaya.
Pesan tersebut disampaikan Chandra saat menghadiri Harmoni Angklung Road to Festival Angklung 2026 di Depok Town Square (DETOS), Minggu (11/10/2026).
Dalam sambutannya mewakili Wali Kota Depok, Chandra menjelaskan bahwa keindahan permainan angklung lahir dari perpaduan nada yang berbeda. Setiap pemain memiliki peran masing-masing, sedangkan harmoni tercipta ketika seluruh nada dimainkan secara selaras.
“Angklung memiliki keistimewaan yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Tiap pemain memegang satu nada, dan keindahan baru tercipta ketika seluruh nada dimainkan bersama-sama. Tidak ada satu nada yang dapat berdiri sendiri untuk menghasilkan harmoni yang utuh,” ujar Chandra.
Filosofi angklung mencerminkan kehidupan masyarakat yang terdiri atas beragam latar belakang, pengalaman, dan sudut pandang. Keberagaman dapat memperkaya kehidupan bersama apabila disertai sikap saling menghargai dan kesediaan untuk berkontribusi.
“Nilai ini mengajarkan kepada kita bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk bersatu. Justru melalui perbedaan kita dapat menciptakan sesuatu yang indah ketika setiap orang bersedia memainkan perannya, saling mendengarkan, menjaga kekompakan, dan mengharmonisasi keberagaman yang ada di antara kita,” tuturnya.
Dalam pembangunan Kota Depok, prinsip tersebut menuntut sinergi antara pemerintah dan berbagai unsur masyarakat. Kolaborasi diperlukan agar kebijakan dan program pembangunan mampu mengakomodasi kebutuhan warga sekaligus memperkuat karakter kota yang inklusif.
“Begitu pula dalam membangun Kota Depok, pemerintah, komunitas, seniman, dunia pendidikan, pelaku usaha, rekan-rekan jurnalis, dan seluruh elemen masyarakat memiliki peran masing-masing. Ketika semua bergerak bersama, kita dapat membangun kota yang lebih maju, inklusif, dan berbudaya,” katanya.
Di sisi lain, angklung merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu dijaga keberlangsungannya. Komitmen pelestarian seni tradisional ini tercermin melalui kegiatan Harmoni Angklung yang diinisiasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok.
Chandra mengapresiasi inisiatif PWI Kota Depok dalam menghadirkan kegiatan yang mendorong masyarakat mengenal dan mengapresiasi seni tradisional.
“Ini merupakan langkah positif dalam melestarikan budaya Indonesia. Melalui kegiatan ini, kita turut menjaga warisan budaya bangsa agar tetap dikenal dan dicintai oleh generasi muda serta terus lestari di masa mendatang,” tuturnya.
Menutup pernyataannya, Ia menegaskan, keberlanjutan pelestarian angklung memerlukan keterlibatan generasi muda. Kesempatan untuk mempelajari dan memainkan kesenian tradisional dapat menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa sekaligus membuka ruang bagi kreativitas baru di tengah perubahan zaman.
Festival Angklung 2026 diharapkan menjadi wadah apresiasi sekaligus sarana memperkenalkan seni tradisional kepada khalayak yang lebih luas. Partisipasi lintas generasi menjadi salah satu kunci agar angklung tetap hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.
“Pelestarian budaya akan semakin kuat apabila generasi muda diberikan ruang untuk terlibat, berkreasi, dan menjaga seni sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Semoga angklung tidak hanya menjadi warisan yang kita banggakan, tetapi juga menjadi harmoni yang terus hidup dan menyatukan masyarakat Kota Depok lintas generasi,” pungkasnya. (el’s)







