Target Jadi Pelaku Perubahan! Christine Gerakkan ASN Sukmajaya untuk Berdampak dan Menyala

Depok | Sketsa Online – Apel Rabu di Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, tak sekadar menjadi rutinitas aparatur. Dari kegiatan tersebut, Camat Sukmajaya Christine Desima Arthauli, S.STP, M.A., mengajak para ASN membawa kebiasaan baik dari rumah untuk diwujudkan menjadi aksi yang memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus lingkungan.

Telur, minyak jelantah, botol plastik hingga pakaian balita yang masih layak pakai dibawa para pegawai dan dikumpulkan saat apel. Bagi Christine, langkah sederhana itu menjadi bagian dari semangat MENYALA, akronim dari MElayani NYAta Lebih Amanah, yang diterjemahkan melalui tindakan nyata di tengah aktivitas pemerintahan.

“Target saya enggak ada yang muluk. Harapannya bisa menggerakkan para pegawai dan diri sendiri agar menjadi pelaku perubahan. Sedikit memberi, tetapi menggugah yang lebih besar dan menjadi teladan di tengah lingkungan rumah serta keluarga,” ujar Christine, Rabu (30/9/2026).

Setiap Rabu, barang yang dibawa dari rumah memiliki tujuan masing-masing. Telur rebus, buah dan makanan rebusan diarahkan sebagai sarapan sehat bagi pengemudi ojek online. Minyak jelantah dan botol plastik dihimpun untuk dikelola, sedangkan pakaian balita yang masih layak pakai dikumpulkan agar dapat digunakan kembali.

Gerakan tersebut telah berjalan sekitar satu tahun. Pengumpulan minyak jelantah dilakukan seiring program Cing Ikah SERA MIJEL, sementara aksi sosial juga diperluas melalui penggalangan donasi ketika terjadi bencana.

Christine melihat respons pegawai sebagai modal penting untuk menjaga gerakan tersebut tetap berjalan. Semakin banyak ASN yang terlibat, semakin besar pula peluang kebiasaan baik itu tumbuh melampaui lingkungan kantor.

“Respons teman-teman sangat baik. Semua membawa telur, minyak jelantah, dan botol plastik dari rumah. Ini memang upaya kecil dari kami, tetapi ketika dilakukan bersama dan konsisten, kepedulian kecil ini bisa memberi manfaat yang lebih besar,” katanya.

Menurutnya, ukuran keberhasilan gerakan tersebut bukan semata-mata banyaknya barang yang terkumpul. Hal yang lebih penting adalah kebiasaan baik yang terbentuk dan dapat dibawa pulang oleh setiap ASN.

Di lingkungan kerja, mereka dibiasakan memilah sampah, mengurangi limbah, memanfaatkan kembali barang yang masih layak, sekaligus menyisihkan sebagian yang dimiliki untuk membantu sesama. Kebiasaan itu diharapkan ikut tumbuh di keluarga dan lingkungan tempat tinggal.

“Yang penting bukan seberapa besar yang kita berikan, tetapi bagaimana hal kecil itu bisa menggerakkan orang lain. Dari ASN, kemudian menjadi contoh di keluarga dan lingkungan,” tuturnya.

Dari apel Rabu itu, aksi baik kemudian diharapkan bergerak lebih jauh: dari kantor ke rumah, dari keluarga ke lingkungan, dan dari satu orang ke orang lainnya. Apa yang dimulai sebagai kebiasaan sederhana perlahan diarahkan menjadi budaya bersama.

Perubahan itu dapat dimulai dari rumah, melalui sesuatu yang sederhana, lalu dilakukan bersama hingga manfaatnya dirasakan lebih luas.

“Kalau akhirnya semua ikut memilah dan mengolah, berarti kita BERDAMPAK MENYALA! Dari kebiasaan kecil hari ini, kita ingin membangun budaya peduli yang tumbuh di keluarga, lingkungan, hingga generasi berikutnya,” pungkas Christine. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler