Depok | Sketsa Online – Lebih dari 66 ribu anak menjadi sasaran imunisasi Measles-Rubella (MR) dan Human Papillomavirus (HPV) dalam pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di Kota Depok.
Program yang masih berlangsung ini menjadi momentum Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok memperluas perlindungan kesehatan anak sekaligus mengejar target cakupan imunisasi sebesar 95 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, dr. Devi Maryori, M.K.M., menjelaskan sasaran BIAS dibagi berdasarkan jenjang pendidikan serta riwayat imunisasi masing-masing anak.
Imunisasi MR diberikan kepada siswa kelas 1 SD/MI. Sementara imunisasi HPV menyasar anak perempuan kelas 5 SD/MI, serta anak perempuan kelas 6 SD dan kelas 9 yang sebelumnya belum mendapatkan imunisasi HPV.
“Target BIAS kita adalah 95 persen. Kami terus berupaya meningkatkan cakupan imunisasi di setiap kelompok sasaran agar semakin banyak anak mendapatkan perlindungan,” kata Devi pada Rabu (30/9/26).
Data sementara menunjukkan capaian di setiap kelompok sasaran masih belum merata. Imunisasi MR untuk siswa kelas 1 SD/MI menyasar 35.495 anak dengan capaian 70,07 persen.
Berbeda dengan kelompok tersebut, capaian HPV kelas 5 SD/MI telah menembus 95,45 persen dari sasaran 16.499 anak. Sementara HPV kelas 9 dengan sasaran 14.522 anak baru mencapai 63,2 persen.
Capaian yang belum merata di sejumlah kelompok sasaran menjadi pekerjaan Dinkes di tengah pelaksanaan BIAS yang masih berlangsung. Penguatan sosialisasi dan edukasi terus dilakukan untuk memastikan informasi mengenai manfaat imunisasi dapat dipahami tidak hanya oleh siswa, tetapi juga orangtua sebagai pihak yang mengambil keputusan bagi anak.
“Kita terus melakukan sosialisasi melalui berbagai kanal, mulai dari webinar dengan menghadirkan dokter spesialis anak, media online, hingga WhatsApp Group keluarga berimun. Langkah ini dilakukan agar informasi mengenai imunisasi dapat lebih mudah diterima dan dipahami oleh orangtua,” ujarnya.
Pendekatan komunikasi juga diperkuat melalui puskesmas. Orangtua dapat diundang mengikuti pertemuan daring melalui Zoom untuk mendapatkan penjelasan mengenai manfaat imunisasi, sasaran penerima, serta pelaksanaan BIAS.
Ketika masih terdapat orangtua yang menolak, Dinkes tidak berhenti pada pemberian informasi, tetapi memperkuat edukasi melalui koordinasi lintas sektor. Sekolah dilibatkan bersama Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama untuk membuka ruang komunikasi dengan keluarga.
“Kita melakukan edukasi bersama Disdik dan Kemenag melalui sekolah. Orangtua dikumpulkan untuk mendapatkan informasi dan penjelasan mengenai imunisasi. Selain itu, surat edaran juga sudah disampaikan kepada seluruh sekolah,” jelasnya.
Selain mengejar cakupan, keamanan imunisasi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan BIAS. Dinkes menyiapkan mekanisme pelaporan apabila terjadi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), sehingga kondisi anak dapat segera diperiksa dan ditindaklanjuti.
“Jika terjadi kasus KIPI, orangtua dapat melaporkannya terlebih dahulu kepada pihak sekolah. Selanjutnya, sekolah meneruskan laporan tersebut kepada puskesmas dan Dinas Kesehatan untuk dilakukan investigasi dan tindak lanjut sesuai kondisi anak,” terang Devi.
Apabila setelah imunisasi anak mengalami keluhan yang membutuhkan pemeriksaan, orangtua dapat membawa anak ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan. Jika diperlukan, anak dapat dirujuk ke rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan sesuai kondisi medisnya.
Pelaksanaan BIAS di Kota Depok berlangsung pada Agustus dan November dengan melibatkan sekolah, puskesmas, orangtua, serta lintas sektor. Program ini menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan anak sejak usia sekolah melalui pemberian imunisasi yang sesuai dengan kelompok sasaran.
Bagi Dinkes Depok, target cakupan 95 persen bukan sekadar angka program. Semakin luas cakupan imunisasi, semakin banyak pula anak yang memperoleh perlindungan dari penyakit menular yang dapat dicegah melalui imunisasi.
“Imunisasi bukan hanya perlindungan bagi anak hari ini, tetapi investasi kesehatan untuk masa depan. Ketika anak tumbuh sehat dan terlindungi sejak usia sekolah, kita sedang menyiapkan generasi yang lebih kuat, produktif, dan siap menghadapi tantangan Indonesia di masa mendatang,” pungkas Devi. (el’s)







