Depok | Sketsa Online – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Depok tidak hanya menjadi sarana pemeriksaan kesehatan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai sejumlah faktor risiko penyakit yang bisa tidak disadari.
Salah satu yang paling mencolok terlihat dari pemeriksaan profil lipid, dengan 75,5 persen peserta tercatat memiliki hasil abnormal atau dislipidemia.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok dr. Devi Maryori, M.K.M. mengatakan, berdasarkan tarikan dashboard ASIK per 28 September 2026, sebanyak 9.044 peserta tercatat memiliki hasil profil lipid abnormal atau dislipidemia.
“Dari pemeriksaan profil lipid ditemukan 24,5 persen normal dan yang abnormal atau dislipidemia 75,5 persen. Jumlahnya mencapai 9.044 orang,” papar Devi pada Selasa (29/9/2026).
Pemeriksaan profil lipid menjadi bagian dari lanjutan pemeriksaan terkait hipertensi dan diabetes melitus (DM), sekaligus skrining faktor risiko stroke.
“Ini merupakan lanjutan dari hipertensi dan DM, ada skrining stroke dengan pemeriksaan profil lipid,” jelasnya.
Namun, angka 9.044 orang itu bukan berarti peserta didiagnosis stroke. Data tersebut menunjukkan hasil profil lipid yang abnormal atau dislipidemia, yang perlu mendapat perhatian dan tindak lanjut sesuai kondisi masing-masing peserta.
Gambaran faktor risiko lainnya terlihat dari pemeriksaan tekanan darah. Hingga 28 September 2026, sebanyak 51 persen peserta tercatat normal, sementara 49 persen lainnya berada dalam kategori tidak normal, mulai dari prehipertensi, tekanan darah meningkat, hingga hipertensi grade 1, 2, dan 3.
“Dari hasil tarikan dashboard ASIK 28 September 2026, pemeriksaan tekanan darah ditemukan yang normal 51 persen. Artinya, sisanya 49 persen pasien yang dilayani CKG tahun 2026 sampai sekarang tidak normal,” ungkapnya.
Sementara itu, pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS) menunjukkan 87 persen peserta berada dalam kategori normal, sedangkan 13 persen lainnya abnormal, yang terdiri dari prediabetes, hipoglikemia, dan hiperglikemia.
“Dari pemeriksaan gula darah sewaktu ditemukan 87 persen normal dan yang abnormal 13 persen. Terdiri dari prediabetes, hipoglikemia dan hiperglikemia,” ucapnya.
Rangkaian hasil pemeriksaan itu menunjukkan bahwa CKG berfungsi sebagai pintu masuk untuk mengenali faktor risiko lebih awal, sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius. Karena itu, Dinkes Depok memastikan setiap hasil skrining ditindaklanjuti sesuai kondisi kesehatan peserta.
Peserta yang ditemukan memiliki indikasi penyakit atau faktor risiko akan masuk dalam mekanisme tatalaksana, termasuk edukasi, pemberian obat sesuai kondisi, hingga rujukan ke puskesmas.
“Jika peserta CKG ditemukan indikasi penyakit atau faktor risiko, langsung ada mekanisme tatalaksana,” tegas Devi.
Mekanisme tersebut juga diarahkan agar peserta tetap memperoleh pendampingan setelah pemeriksaan dan tidak terputus dari layanan kesehatan.
“Dari tatalaksana, peserta berpotensi langsung mendapatkan edukasi dan obat untuk penyakitnya. Harapannya agar peserta tidak hilang. Jadi tetap ada kontak dengan cara rujukan ke puskesmas,” tuturnya.
Di sisi lain, akses CKG terus diperluas. Pelayanan tidak hanya dilakukan di dalam gedung puskesmas, tetapi juga menjangkau posyandu dan berbagai lokasi melalui pendekatan jemput bola. Pelaksanaannya dijadwalkan dengan koordinasi lintas sektor agar kelompok masyarakat yang membutuhkan dapat terlayani.
“Puskesmas dan Dinkes membuat jadwal untuk CKG di tempat-tempat tersebut. Pelaksanaan CKG oleh puskesmas dilakukan dalam dan luar gedung puskesmas,” ujarnya.
Perluasan layanan itu juga terintegrasi dengan program kesehatan lainnya, termasuk tracing tuberkulosis (TB) dan kegiatan GERMAS DPR di 11 kecamatan.
“Saat ini pun sedang berlangsung CKG integrasi tracing TB, juga CKG pada acara-acara GERMAS DPR dari 11 kecamatan,” kata Devi.
Rangkaian pemeriksaan dan tindak lanjut tersebut menunjukkan bahwa CKG bukan sekadar layanan pemeriksaan gratis. Program ini menjadi pintu untuk mengenali faktor risiko lebih awal sekaligus memastikan masyarakat memperoleh penanganan sesuai kondisi kesehatannya.
“Nilai CKG pada akhirnya bukan sekadar berapa banyak warga yang diperiksa, melainkan seberapa jauh hasil skrining mengubah kesadaran menjadi tindakan dan memastikan warga tetap terhubung dengan layanan kesehatan,” pungkas Devi. (el’s)







