Depok | Sketsa Online – Medali perak menjadi penanda kiprah Wafi Ghifari Wiwaha Sumarno dalam menekuni pencak silat. Di usia 11 tahun, pesilat muda asal Depok itu mampu menembus partai final kejuaraan tingkat nasional dan berdiri di podium sebagai runner-up.
Prestasi itu bukan sekadar hasil dari sebuah pertandingan. Di balik medali yang dibawa pulang, terdapat proses panjang yang dijalani Wafi sejak latihan hingga menghadapi persaingan di tingkat nasional. Bagi keluarga, perjalanan itu menjadi bukti bahwa kedisiplinan dan konsistensi yang dibangun sejak dini mulai membuahkan hasil.
Setiap pekan, Wafi menjalani latihan di Cimande dengan diantar sang ayah, H. Igun Sumarno, dari Depok. Jarak dan waktu tempuh menjadi bagian dari rutinitas yang harus dijalani demi mendukung perkembangan kemampuan Wafi di gelanggang.

Bagi Wafi, latihan bukan hanya tentang mengulang teknik pencak silat. Ia belajar menjaga konsistensi, menghadapi rasa lelah, memperbaiki kesalahan dan terus meningkatkan kemampuan. Proses itulah yang kemudian membawanya melewati sejumlah pertandingan hingga mencapai babak final.
“Setiap minggu saya diantar Ayah latihan ke Cimande. Ya, terkadang memang capek, tapi saya tetap semangat latihan karena ingin jadi lebih jago. Saya juga senang bisa masuk final dan dapat medali perak. Medali ini saya persembahkan buat Ayah dan keluarga yang selalu menemani dan mendukung saya,” kata Wafi, Minggu (13/9/2026).
Di laga final, Wafi berusaha mengeluarkan kemampuan terbaik yang selama ini diasah melalui latihan. Namun, hasil pertandingan belum berpihak kepadanya. Ia harus mengakhiri perjuangan sebagai juara kedua.
Kekalahan itu sempat membuat Wafi kecewa. Namun, pengalaman tampil di partai puncak justru menjadi pelajaran penting bagi atlet seusianya. Ia mulai memahami bahwa perjalanan seorang atlet tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Ada teknik yang perlu dievaluasi, pengalaman yang harus dipetik dan mental yang harus kembali dikuatkan.
“Waktu final saya memang kecewa karena belum bisa juara satu. Tapi saya tetap senang karena sudah berusaha. Setelah ini saya mau latihan lagi, memperbaiki kekurangan dan mencoba lebih baik di pertandingan berikutnya,” ujar Wafi.
Perjalanan tersebut juga tidak lepas dari peran keluarga, terutama sang ayah yang secara konsisten mendampingi Wafi berlatih. H. Igun Sumarno, yang juga menjabat Ketua DPP PAN Kota Depok sekaligus Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Depok, memilih hadir bukan hanya ketika putranya bertanding, tetapi juga dalam proses latihan yang dijalani setiap pekan.
Menurutnya, mendampingi anak menekuni olahraga bukan semata-mata mengantarkan ke tempat latihan. Orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk mengenali potensi, membangun kedisiplinan dan belajar bertanggung jawab atas pilihan yang dijalaninya.
“Sebagai ayah, tentu saya bangga sekali. Wafi masih 11 tahun, tetapi sudah mampu mencapai tingkat nasional dan masuk final. Saya melihat sendiri perjuangannya, dari latihan hingga pertandingan. Itu yang membuat saya bangga,” tegas H. Igun.
Kebanggaan itu tidak hanya terletak pada medali perak. Baginya, keberanian Wafi tampil di tingkat nasional, menyelesaikan pertandingan hingga babak final dan tetap mau berlatih setelah mengalami kekalahan merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter.
Nilai itulah yang ingin terus ditanamkan melalui pencak silat. Igun menilai, olahraga bela diri seharusnya tidak berhenti pada kemampuan teknik dan pencapaian prestasi. Anak juga perlu belajar mengendalikan diri, menghormati orang lain dan menggunakan kemampuan yang dimilikinya secara bertanggung jawab.
“Saya ingin Wafi memahami bahwa punya kemampuan silat bukan berarti boleh merasa lebih hebat dari orang lain. Justru harus semakin menghormati orang tua, guru dan teman. Kalau menang jangan sombong, kalau kalah jangan putus asa,” jelasnya.
Pesan tersebut menjadi semakin penting karena Wafi masih berada dalam usia pertumbuhan. Prestasi olahraga perlu berjalan beriringan dengan pendidikan, kesehatan, waktu istirahat dan kematangan emosional. Kompetisi seharusnya menjadi ruang bagi anak untuk membangun kepercayaan diri dan ketangguhan, bukan sekadar mengejar gelar juara.
Dalam pencak silat, kemampuan fisik juga idealnya berjalan bersama pembentukan akhlak dan budi pekerti. Seorang atlet tidak hanya dituntut mampu menghadapi lawan di gelanggang, tetapi juga mampu mengendalikan sikap setelah pertandingan. Kemenangan tidak semestinya melahirkan kesombongan, sedangkan kekalahan tidak boleh mematikan semangat untuk berkembang.
“Yang paling penting dia menjadi anak yang berbudi pekerti, kuat mentalnya, sehat badannya dan tahu bagaimana menggunakan kemampuan yang dia punya untuk hal yang benar, bukan hanya mengejar prestasi,” ungkapnya.
Dari proses itulah, prestasi Wafi memiliki makna yang lebih luas. Medali perak menjadi bukti bahwa anak-anak Depok memiliki potensi untuk bersaing di tingkat nasional ketika mendapat kesempatan, pembinaan dan dukungan yang tepat.
Capaian tersebut juga menjadi kebanggaan tersendiri. Wafi tidak hanya membawa pulang medali, tetapi turut membawa nama daerahnya ke tengah persaingan olahraga tingkat nasional. Perjalanannya dapat menjadi contoh bahwa prestasi anak tidak lahir secara instan, melainkan melalui latihan yang konsisten, dukungan keluarga dan keberanian menghadapi tantangan.
Posisi kedua pun bukan garis akhir bagi Wafi. Justru dari hasil itu, ia memiliki kesempatan untuk mengevaluasi kemampuan, memperbaiki teknik dan memperkuat mental sebelum menghadapi pertandingan berikutnya. Medali perak hari ini dapat menjadi pijakan untuk mengejar prestasi yang lebih tinggi di masa mendatang.
Bagi H. Igun, kebanggaan terbesar bukan semata ketika melihat medali berada di tangan putranya. Lebih dari itu, ia ingin Wafi tumbuh menjadi anak yang mampu menghargai proses, menerima hasil pertandingan dengan lapang, menghormati lawan dan tetap memiliki kemauan untuk belajar.
“Saya ingin Wafi terus berkembang, bukan hanya menjadi pesilat yang berprestasi, tetapi menjadi anak yang kuat mentalnya, sehat badannya, luhur budinya, rendah hati ketika menang dan tidak mudah menyerah ketika kalah. Kalau itu bisa dia pegang sampai besar, sebagai ayah saya sudah merasa sangat bangga,” tutup H. Igun. (el’s)







