Depok | Sketsa Online – Mengangkut sampah dari lokasi pembuangan liar tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan lingkungan. Bekas titik pembuangan sampah di Kota Depok yang telah digunakan sekitar empat tahun kini ditata dengan pendekatan berbeda. PPP Kota Depok menanam 45 bibit tanaman produktif untuk mengubah fungsi lahan sekaligus mencegah kawasan tersebut kembali menjadi titik penumpukan sampah.
Sebanyak 45 bibit yang ditanam terdiri atas sekitar 30 tanaman cabai, 10 alpukat, dan lima nangka. Kegiatan itu menjadi bagian dari program penghijauan PPP yang telah berjalan selama dua tahun dan kini memasuki putaran ke-10.
Ketua DPC PPP Kota Depok, H. Mazhab H. M., mengatakan perhatian terhadap kawasan tersebut bermula dari hasil pengamatannya saat berkunjung dan mendapati tumpukan sampah. Persoalan itu, tidak semata berkaitan dengan perilaku warga, tetapi juga dipengaruhi kondisi lahan yang tidak terawat.
“Ini pertama berawal dari hasil temuan saya ketika saya berkunjung ke sini, ternyata banyak sampah. Sampah dan lingkungan itu tidak bisa dilepaskan, itu saling terkait,” kata H. Mazhab, Sabtu (12/9/2026).
Ia menilai lahan kosong yang tidak terurus dapat menimbulkan persepsi bahwa kawasan tersebut bebas dimanfaatkan untuk membuang sampah. Karena itu, penanaman tanaman produktif dipilih untuk menghadirkan fungsi baru sekaligus membangun kesadaran bahwa lahan tersebut merupakan ruang yang perlu dirawat bersama.
“Lahan yang tidak terurus dan tidak terawat berpotensi untuk orang membuang sampah sembarangan. Ketika ini nampaknya terawat, ada kegiatan tanam-menanam, bercocok tanam, insya Allah warga pun tidak lagi membuang sampah di tempat ini,” ujarnya.
Penataan kawasan tersebut sekaligus memperkuat kesinambungan program penghijauan PPP yang telah berlangsung selama dua tahun. Memasuki putaran ke-10, gerakan itu diarahkan tidak hanya pada penanaman, tetapi juga pemanfaatan ruang agar memiliki fungsi ekologis dan produktif bagi masyarakat.
“Qodarullah, hari ini kita menemukan lokasi yang sebelumnya menjadi tempat pembuangan sampah. Karena itu, menanam pohon di kawasan ini memiliki relevansi yang kuat dengan upaya menjaga dan memperbaiki lingkungan,” jelasnya.
Upaya mengubah fungsi lahan berjalan beriringan dengan penanganan sampah yang masih tersisa. Sebelum penanaman, PPP berkoordinasi dengan lurah, camat, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK). Koordinasi tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui mediasi di tingkat kelurahan untuk mencari solusi penanganan kawasan.
“Dua hari sebelumnya kita terpanggil untuk edukasi kedatangan Pak Lurah dan Pak Camat, serta undangan dari DLHK. Setelah itu kita bikin undangan di kelurahan untuk mediasi jalan keluarnya,” ungkapnya.
Pengangkutan sampah selanjutnya dilakukan secara bertahap dengan jadwal dua kali dalam sepekan. Hingga Jumat sebelumnya, proses pengambilan telah dilakukan dua kali. Sampah yang masih tersisa ditargetkan seluruhnya terangkat sebelum Lebaran.
H. Mazhab menegaskan akan mengawal proses tersebut hingga tuntas. Pemantauan juga dilakukan setelah kawasan dibersihkan dan ditata agar lokasi tidak kembali menjadi tempat pembuangan sampah.
“Saya akan kawal sampai tuntas. Target saya ini sebelum Lebaran sudah terangkat. Jadi bila masih terjadi ada penumpukan-penumpukan, saya akan mengambil langkah yang lebih radikal,” tegasnya.
Pemilihan cabai, alpukat, dan nangka bukan sekadar untuk memperindah kawasan. Tanaman produktif tersebut diharapkan memberi manfaat jangka panjang sekaligus menjadi penanda bahwa lahan yang sebelumnya identik dengan sampah kini memiliki fungsi yang lebih positif.
Menutup pernyataannya, H. Mazhab mengajak masyarakat menjaga perubahan tersebut dengan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Menurutnya, pembersihan dan penanaman hanya menjadi langkah awal karena keberlanjutan lingkungan sangat bergantung pada kebiasaan warga dalam menjaga ruang bersama.
“Kepada seluruh warga, saya mengimbau agar membuang sampah pada tempat yang telah disiapkan dan disediakan. PPP membuktikan kepeduliannya terhadap lingkungan, namun perubahan ini akan bertahan jika menjadi kebiasaan bersama. Apa yang kita lakukan hari ini bukan sekadar menata kawasan, melainkan investasi jangka panjang untuk menjaga lingkungan dan mewariskan kehidupan yang lebih baik bagi anak cucu kita,” pungkasnya. (el’s)







