Depok | Sketsa Online – Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 menjadi momentum bagi Kota Depok untuk memperkuat budaya olahraga masyarakat. Terlebih, Depok dipercaya menjadi salah satu tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV Jawa Barat 2026.
Wakil Ketua DPRD Kota Depok, sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Depok, Hj. Yuni Indriany, S.E., M.Si. Hj., menilai Haornas dan Porprov memiliki momentum yang saling menguatkan. Haornas mengingatkan pentingnya olahraga bagi kesehatan dan kualitas hidup, sedangkan Porprov dapat menjadi penggerak untuk memperluas partisipasi masyarakat sekaligus memperkuat pembinaan olahraga daerah.
“Haornas jangan berhenti sebagai seremoni. Apalagi tahun ini Depok memiliki momentum besar karena dipercaya menjadi salah satu tuan rumah Porprov Jawa Barat. Ini harus menjadi kesempatan untuk membangun kesadaran bahwa olahraga adalah bagian dari kehidupan masyarakat,” ujar Hj. Yuni, Rabu (9/9/2026).
Porprov XV Jawa Barat 2026 dijadwalkan berlangsung pada 7–20 November 2026 di tiga kota tuan rumah, yakni Depok, Bekasi, dan Bogor. Depok akan menjadi lokasi pertandingan sejumlah cabang olahraga.
Menurutnya, status sebagai tuan rumah tidak cukup diukur dari kelancaran pertandingan, kesiapan venue, maupun jumlah medali yang diraih kontingen Depok. Ajang tersebut harus meninggalkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Yang kita harapkan bukan hanya sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi. Ada legacy yang harus ditinggalkan. Setelah Porprov selesai, masyarakat Depok harus semakin dekat dengan olahraga,” ucapnya.
Kehadiran atlet, pelatih, ofisial, serta masyarakat dari berbagai daerah selama Porprov, lanjutnya, dapat menjadi ruang inspirasi bagi generasi muda. Momentum tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan beragam cabang olahraga sekaligus mendorong anak-anak memiliki aktivitas yang sehat dan positif.
Pembinaan sejak usia dini, kata dia, tidak semata-mata ditujukan untuk mencetak atlet berprestasi. Olahraga juga menjadi bagian dari investasi pembangunan sumber daya manusia.
“Kalau anak-anak kita sejak dini terbiasa berolahraga, kita bukan hanya sedang mencari atlet. Kita sedang membentuk generasi yang sehat, disiplin, sportif, dan memiliki daya juang,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong pengembangan olahraga masyarakat dan olahraga prestasi dilakukan secara beriringan. Prestasi atlet membutuhkan basis masyarakat yang memiliki kebiasaan hidup aktif serta lingkungan yang mendukung aktivitas olahraga.
“Jika kita hanya fokus mencari juara, tetapi masyarakatnya tidak terbiasa berolahraga, pembangunan olahraga kita belum lengkap. Basisnya harus diperkuat terlebih dahulu,” tuturnya.
Penguatan basis olahraga tersebut perlu ditopang fasilitas yang mudah dijangkau dan benar-benar dimanfaatkan warga. Ruang terbuka, lapangan di lingkungan permukiman, fasilitas pendidikan, taman, hingga sarana olahraga lainnya diharapkan tidak hanya tersedia secara fisik, tetapi juga aktif digunakan.
“Fasilitas olahraga harus hidup. Jangan hanya bagus secara fisik, tetapi minim aktivitas. Yang paling penting adalah bagaimana fasilitas tersebut benar-benar digunakan masyarakat,” ucapnya.
Selain infrastruktur, Hj. Yuni menilai komunitas olahraga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan berolahraga secara berkelanjutan. Kedekatan komunitas dengan masyarakat dapat menjadi kekuatan untuk menggerakkan kegiatan olahraga secara rutin di lingkungan masing-masing.
“Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Sekolah, keluarga, komunitas, organisasi olahraga, dunia usaha, dan masyarakat harus terlibat. Semangatnya adalah gotong royong,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar keberhasilan Porprov tidak semata-mata diletakkan pada perolehan medali. Prestasi tetap penting, tetapi pembangunan olahraga memiliki ukuran yang lebih luas, mulai dari meningkatnya partisipasi masyarakat, berkembangnya komunitas, optimalnya pemanfaatan fasilitas, hingga munculnya bibit-bibit atlet baru.
“Medali penting. Prestasi penting. Tetapi yang lebih panjang adalah bagaimana olahraga menjadi budaya. Kalau budaya olahraga sudah tumbuh, prestasi akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” tegasnya.
Sebagai bagian dari fungsi DPRD, Hj. Yuni mendorong agar momentum Haornas dan Porprov dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus penguatan arah pembangunan olahraga di Kota Depok. Baginya, keberlanjutan program, dukungan terhadap pembinaan atlet, ketersediaan fasilitas, serta ruang partisipasi masyarakat perlu menjadi perhatian bersama.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, DPRD, KONI, organisasi olahraga, sekolah, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat juga dinilai penting agar geliat olahraga tidak hanya muncul ketika ada kompetisi.
“Jangan sampai setelah Porprov selesai, semuanya kembali seperti semula. Justru kita ingin Porprov menjadi titik awal. Semangatnya terus hidup dan olahraga semakin menjadi bagian dari keseharian masyarakat Depok,” tandasnya.
Dengan demikian, Haornas 2026 dan Porprov XV Jawa Barat dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem olahraga di Depok. Keberhasilan tidak hanya ditandai oleh suksesnya penyelenggaraan atau capaian prestasi, tetapi juga oleh tumbuhnya kebiasaan berolahraga di tengah masyarakat.
“Medali tentu penting, tetapi jangan sampai setelah Porprov selesai semangat olahraganya ikut selesai. Legacy yang paling penting adalah ketika semakin banyak masyarakat Depok yang rutin berolahraga, anak-anak punya ruang untuk berkembang, komunitas semakin hidup, dan olahraga benar-benar menjadi budaya. Kalau itu terjadi, berarti Porprov meninggalkan warisan yang jauh lebih besar bagi Depok,” tutupnya. (el’s)







