Inspiratif! Iwan Setiawan Ungkap Tiga Keunikan Pawai 1 Muharram di Baktijaya

Depok | Sketsa Online – Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Masjid Jami Al-Mu’awanah, Kelurahan Baktijaya, Kota Depok, tahun ini menghadirkan warna yang berbeda.

Tidak hanya menjadi ajang syiar Islam melalui pawai dan doa bersama, kegiatan tersebut juga memadukan nilai toleransi, kepedulian sosial, dan kreativitas masyarakat sehingga mendapat apresiasi dari berbagai pihak.

Anggota Tim Pengawalan Percepatan Pembangunan Daerah (TP3D) Kota Depok, Iwan Setiawan, menyebut ada tiga keunikan yang membuat perayaan 1 Muharram di Baktijaya layak menjadi inspirasi bagi lingkungan lain.

Ketiga hal tersebut adalah kolaborasi lintas iman, aksi sosial melalui cek kesehatan, serta hadirnya doorprize yang menambah semarak perayaan tanpa menghilangkan makna spiritualnya.

Menurut Iwan, keunikan pertama adalah terbangunnya kolaborasi lintas iman. Ia mengungkapkan bahwa penyelenggaraan kegiatan tidak hanya melibatkan umat Islam, tetapi juga mendapat dukungan dan partisipasi dari warga nonmuslim.

“Yang menarik dari kegiatan ini adalah bagaimana toleransi benar-benar diwujudkan. Tidak hanya umat Islam yang membantu, tetapi juga kelompok nonmuslim ikut berpartisipasi. Ini menjadi bagian dari upaya membangun Kota Depok yang damai dan harmonis,” ujarnya usai acara pada Senin (15/6/26).

Ia menilai, semangat tersebut menunjukkan bahwa kehidupan bermasyarakat dapat dibangun di atas nilai gotong royong dan saling menghormati, sehingga peringatan hari besar keagamaan mampu menjadi ruang mempererat persaudaraan di tengah keberagaman.

Keunikan kedua, adalah hadirnya aksi sosial yang melengkapi rangkaian perayaan. Selain pawai dan kegiatan keagamaan, panitia bersama berbagai organisasi juga menggelar cek kesehatan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

“Menyambut Tahun Baru Hijriah tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan spiritual, tetapi juga diwujudkan melalui kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Ada cek kesehatan yang dilaksanakan bersama Ansor dan berbagai lembaga gereja lainnya sebagai bentuk kepedulian sosial,” katanya.

Ia menambahkan, banyak unsur masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut, mulai dari majelis, organisasi kemasyarakatan, hingga para pelaku usaha. Kolaborasi itu menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup dan menjadi kekuatan dalam membangun kebersamaan.

Keunikan ketiga adalah hadirnya doorprize yang disiapkan panitia sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat sekaligus menghadirkan suasana yang lebih meriah dan penuh kegembiraan.

“Selain pawai, ada juga doorprize seperti sepeda dan hadiah lainnya. Hal seperti ini memang jarang ada dalam peringatan Tahun Baru Hijriah, tetapi tetap tidak menghilangkan nilai tradisi dan spiritualitasnya. Justru masyarakat menyambutnya dengan penuh antusias,” ungkapnya.

Iwan menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi masyarakat di RW 22 dan RW 25. Masjid Jami Al-Mu’awanah menjadi pusat aktivitas jamaah dari kedua wilayah tersebut sehingga mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam satu semangat kebersamaan.

Ia optimistis, apabila keterlibatan seluruh RT semakin luas pada tahun-tahun mendatang, penyelenggaraan Pawai 1 Muharram akan menjadi lebih besar dan semakin memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Yang dibangun dari kegiatan ini adalah ukhuwah atau persaudaraan. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga bergotong royong membantu pelaksanaannya. Saya yakin jika keterlibatan masyarakat semakin luas, kegiatan ini akan berkembang lebih baik lagi,” tuturnya.

Sementara itu, Sekretaris Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukmajaya, Bambang Sugiarto, menyampaikan apresiasi atas antusiasme warga dalam menyambut Tahun Baru Islam. Menurutnya, momentum hijrah harus dimaknai sebagai ajakan untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat kepedulian sosial, dan menjaga persatuan di lingkungan.

“Mari kita jadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kebersamaan antara RT, RW, para ulama, pemuda, dan seluruh masyarakat adalah modal penting untuk membangun lingkungan yang harmonis dan penuh keberkahan,” ujarnya.

Peringatan 1 Muharram di Baktijaya membuktikan bahwa tradisi keagamaan dapat berkembang menjadi ruang edukasi dan penguatan nilai-nilai sosial.

“Melalui kolaborasi lintas iman, aksi kemanusiaan, dan semangat gotong royong yang dikemas secara kreatif, perayaan ini dapat menjadi teladan bagaimana kebersamaan dapat melahirkan harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.” (el’s)

spot_img
spot_img

Terpopuler