Depok | Sketsa Online – Tantangan santri di era modern tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu agama dan pembentukan akhlak, tetapi juga kesiapan menghadapi perubahan zaman.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan dinamika dunia kerja, santri perlu dibekali keterampilan agar mampu beradaptasi, membangun kemandirian, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat tanpa kehilangan jati diri pesantren.
Momentum Hari Santri Nasional 2026 menjadi pengingat pentingnya menyiapkan generasi yang kokoh secara spiritual sekaligus cakap menghadapi tantangan masa depan.
Pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter santri yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, sekaligus mendorong mereka mengembangkan potensi agar mampu berkiprah di berbagai bidang kehidupan.
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Depok, H. Edi Masturo, S.E., menyampaikan penguatan keterampilan perlu berjalan beriringan dengan pendidikan agama dan pembentukan karakter.
Santri membutuhkan bekal yang utuh agar ilmu yang dipelajari di pesantren tidak berhenti pada pemahaman, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Santri harus tetap menjadikan ilmu agama dan akhlak sebagai fondasi utama. Namun, di era modern, mereka juga perlu memiliki keterampilan yang membuatnya mampu menghadapi tantangan kehidupan, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Edi pada Rabu (21/10/26).
Ia menjelaskan, keterampilan yang dibutuhkan santri tidak terbatas pada kemampuan teknis untuk memasuki dunia kerja. Kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, berwirausaha, hingga memahami teknologi digital juga menjadi bekal penting untuk memperluas peluang dan membangun kemandirian.
Kebutuhan tersebut semakin relevan ketika teknologi mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, berkomunikasi, dan menjalankan aktivitas ekonomi.
Literasi digital, misalnya, membantu santri memilah informasi, mengenali hoaks, serta menggunakan teknologi secara bijak. Sementara itu, kemampuan berwirausaha dan berkomunikasi dapat membuka peluang untuk mengembangkan potensi, menghasilkan karya, dan memperkuat kemandirian ekonomi.
Bagi Edi, penguasaan keterampilan modern bukan berarti mengesampingkan pendidikan agama. Sebaliknya, keterampilan harus menjadi sarana untuk mengamalkan ilmu dan menerjemahkan nilai-nilai keislaman ke dalam tindakan nyata.
Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga dari tanggung jawab, karya, dan manfaat yang dirasakan sesama.
“Ilmu agama memberikan arah dan nilai dalam kehidupan, sedangkan keterampilan membantu seseorang menerapkan ilmunya dalam tindakan nyata. Keduanya harus berjalan beriringan, sehingga santri tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang kuat, tetapi juga siap menghadapi persoalan nyata di tengah masyarakat,” tuturnya.
Keseimbangan antara nilai keagamaan dan kecakapan hidup menjadi penting agar santri mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Teknologi dan kreativitas perlu dimanfaatkan untuk memperluas ruang berkarya, sementara akhlak tetap menjadi pedoman dalam mengambil keputusan dan menggunakan kemampuan yang dimiliki.
“Santri harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Teknologi, kreativitas, dan keterampilan perlu dikuasai, tetapi akhlak harus tetap menjadi pegangan. Dengan begitu, kemajuan yang diraih tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa,” tegas Edi.
Menurutnya, upaya menyiapkan santri yang kompeten membutuhkan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak. Pesantren, keluarga, masyarakat, dan pemerintah perlu bersinergi memperluas akses pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Dukungan tersebut penting agar setiap santri memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan potensi dan mempersiapkan masa depan.
Lebih lanjut, Edi menilai pengembangan kapasitas generasi muda perlu terus menjadi perhatian. Aspirasi terkait peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan santri dapat disuarakan melalui fungsi DPRD serta dikoordinasikan dengan instansi terkait sesuai kewenangan masing-masing.
Hari Santri Nasional 2026 bukan sekadar momentum untuk mengenang perjuangan kaum santri, melainkan juga kesempatan memperkuat komitmen dalam menyiapkan generasi penerus yang mampu menjawab tantangan masa depan.
Kekuatan spiritual, kemuliaan akhlak, keterampilan, dan kemandirian perlu tumbuh secara seimbang agar santri dapat berkontribusi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan kebangsaan tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.
“Harapannya, santri mampu tumbuh menjadi generasi yang kuat dalam agama, mulia akhlaknya, terampil, dan mandiri. Santri harus siap menghadapi masa depan tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren, karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diwujudkan dalam karya dan pengabdian kepada sesama,” pungkasnya. (el’s)







