Masa Depan Angklung Ada di Tangan Generasi Muda, Ini Pesan Ketua PWI Pusat

Depok | Sketsa Online – Keberlanjutan angklung sebagai warisan budaya Sunda bergantung pada kemampuan masyarakat mewariskannya kepada generasi penerus. Di tengah perubahan zaman dan derasnya pengaruh budaya asing, pelibatan anak-anak dan remaja menjadi langkah penting agar kesenian tradisional ini tetap hidup dan berkembang.

Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir, mendorong penyelenggaraan kompetisi angklung khusus anak-anak dan remaja untuk memperluas regenerasi pelaku seni.

Menurutnya, pelestarian budaya perlu disertai ruang partisipasi bagi generasi muda agar mereka tidak hanya mengenal angklung, tetapi juga terlibat dalam menjaga keberlangsungannya.

Pesan tersebut disampaikan Munir saat menghadiri Harmoni Angklung 2026 di Depok Town Square (Detos), Minggu (11/10/2026).

Ia mengapresiasi masyarakat yang terus merawat kesenian tradisional tersebut, termasuk PWI Kota Depok yang berkolaborasi menghadirkan kegiatan untuk memperkuat pelestarian budaya.

Bagi Munir, angklung memiliki makna yang melampaui fungsi musikal. Kesenian ini merekam nilai-nilai kehidupan masyarakat, mulai dari penghormatan kepada leluhur dan kepedulian terhadap lingkungan hingga musyawarah dan keharmonisan sosial.

“Kalau dilihat dari sejarah, angklung ini memiliki makna cukup banyak. Dia memiliki makna sebagai upacara rakyat yang dipersembahkan kepada leluhur untuk kelestarian lingkungan, bermusyawarah kelestarian hubungan masyarakat, serta memiliki makna bagaimana angklung ini menciptakan harmoni bersama di tengah masyarakat,” ujar Munir.

Nilai-nilai tersebut menjadikan angklung bukan sekadar peninggalan budaya yang perlu dijaga, melainkan tradisi yang perlu terus dipraktikkan dan dimaknai dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, regenerasi menjadi penting agar pengetahuan dan keterampilan memainkan angklung tidak berhenti pada generasi yang selama ini aktif melestarikannya.

Atas dasar itu, Munir berharap kompetisi angklung dapat menjangkau kelompok usia yang lebih muda. Keterlibatan anak-anak dan remaja dinilai dapat membuka kesempatan lebih luas bagi tumbuhnya minat sekaligus menyiapkan penerus yang akan menjaga kesenian tersebut.

“Mudah-mudahan panitia dan PWI Depok ini menggelar lomba angklung cilik atau remaja, sehingga regenerasi bagi para peminat atau pelaku seni angklung tidak hanya pada ibu-ibu yang sudah senior, tetapi juga kepada generasi muda, generasi milenial, generasi Z, dan bisa diterima oleh semua masyarakat,” katanya.

Gagasan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui kompetisi yang melibatkan pelajar dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Selain menjadi ajang unjuk kemampuan, kegiatan semacam ini berpotensi mempertemukan generasi muda dengan akar budayanya melalui proses belajar, berlatih, dan tampil bersama.

Agar upaya regenerasi berjalan berkelanjutan, dukungan berbagai pihak juga diperlukan. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas seni, dan masyarakat dapat membuka lebih banyak ruang bagi generasi muda untuk mempelajari serta mengembangkan angklung.

Dalam kesempatan tersebut, Munir menyampaikan apresiasi kepada Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah, jajaran pemerintah daerah, PWI Kota Depok, dan masyarakat yang turut berkontribusi dalam pelestarian angklung.

Ia berharap kesenian tradisional ini terus menjadi bagian dari kehidupan generasi muda, khususnya masyarakat Sunda dan Jawa Barat. Dengan keterlibatan generasi penerus, angklung tidak hanya terjaga sebagai warisan leluhur, tetapi juga tetap dimainkan, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Harapan kita, angklung terus hidup di hati generasi muda Sunda dan masyarakat Jawa Barat. Mereka bukan hanya menjadi penerus tradisi, tetapi juga memiliki peran penting dalam membawa angklung berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai dan jati diri budayanya,” pungkas Munir. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler