Depok | Sketsa Online – Batik Depok sedang mencari cara baru untuk berbicara kepada zamannya. Identitas yang selama ini melekat pada kain bermotif khas daerah itu kini mulai diterjemahkan ke dalam busana, aksesori, hingga produk kreatif yang lebih dekat dengan selera pasar dan generasi muda.
Gagasan tersebut hadir dalam gelaran Nuswara di ITC Depok, yang mempertemukan perajin, desainer, komunitas fashion, dan pelaku ekonomi kreatif untuk memperluas cara batik Depok dikembangkan, dikenalkan, dan memiliki nilai tambah.
Ragam karya yang ditampilkan mendapat perhatian Ketua Dekranasda Kota Depok, Hj. Siti Barkah Hasanah, M.Ag., yang dikenal sebagai Cing Ikah, serta Ketua Dekranasda Kota Padang Panjang, Ny. Maria Feronika Hendri Arnis. Keduanya hadir melihat langsung karya perajin dan desainer sekaligus mengikuti aktivitas kreatif yang berlangsung dalam rangkaian Nuswara.
Ketua Panitia Nuswara, Dian, mengatakan kehadiran dan apresiasi tersebut menjadi dorongan bagi komunitas yang menggagas kegiatan secara mandiri. Nuswara merupakan kolaborasi Komunitas Fashion Depok dan Ikatan Perajin dan Pecinta Batik Depok (IPPBD), dengan fasilitasi ITC Depok serta dukungan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) dan Dekranasda Kota Depok.
“Alhamdulillah, kami senang sekali. Tidak menyangka kegiatan ini mendapat apresiasi. Ibu Maria Feronika juga menyempatkan datang melihat kegiatan kami,” ujar Dian di ITC Depok, Sabtu (3/10/2026).
Nuswara tidak hanya menghadirkan produk jadi. Masyarakat juga diberi kesempatan mengenal proses kreatif melalui berbagai workshop, mulai dari membatik, shibori, payet, ecoprint atau ecopounding, hingga membuat bros dari sisa kain batik.
Ruang interaksi itu memperlihatkan bahwa batik bukan hanya produk akhir, tetapi juga memuat keterampilan dan proses kreatif yang dapat dipelajari serta dikembangkan.
Dian melihat pertemuan perajin dan desainer sebagai peluang untuk membuka bentuk baru bagi batik Depok. Kain lokal dapat dikembangkan menjadi berbagai produk dan dipadukan dengan material lain, seperti lurik dan tenun, dengan menyesuaikan karakter desain serta kebutuhan konsumen.
“Teman-teman desainer di Depok tidak kalah dengan yang sudah punya nama di luar. Karyanya punya nilai dan bisa masuk pasar,” katanya.
Lebih lanjut, regenerasi konsumen menjadi perhatian berikutnya. Dian menilai pendekatan terhadap Gen Z tidak harus dilakukan dengan mengubah karakter batik, melainkan melalui pengolahan desain dan penggunaan yang membuatnya lebih mudah diterima dalam keseharian.
“Tidak harus full batik. Bisa dijadikan aplikasi atau dipadukan dengan bahan lain. Yang penting tetap nyaman saat dikenakan,” ujarnya.
Pendekatan itu membuat batik memiliki ruang lebih luas dalam berbagai gaya busana. Motif tetap membawa identitas, sementara desain, komposisi, material, dan cara pemakaiannya dapat berkembang mengikuti kebutuhan konsumen.
Inovasi juga terlihat dari pemanfaatan sisa kain. Potongan batik dapat diolah kembali menjadi patchwork, bros, tas, dan berbagai kerajinan lain. Material yang tersisa pun tidak berhenti sebagai limbah, tetapi dapat kembali memiliki fungsi sekaligus nilai ekonomi.
Sejumlah perajin IPPBD yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut antara lain Puri Ambari dengan karya berbasis warna alam, Prajumas, Citra Batik karya Sandi, serta Spektrum karya Jun.
Di kesempatan yang sama, Wakil Ketua Panitia Nuswara, Vivi, mengatakan pertemuan antara perajin dan komunitas fashion menjadi bagian dari upaya memperluas cara masyarakat memandang batik Depok. Batik tidak hanya diperkenalkan sebagai motif, tetapi juga diolah menjadi karya fashion yang memiliki nilai komersial.
“Dari Komunitas Fashion Depok, kami mengolah batik menjadi baju yang bernilai. Dari pengrajin, kami memperkenalkan bahwa Depok punya batik,” kata Vivi.
Nuswara juga memberi ruang bagi kelompok yang selama ini belum banyak tampil dalam kegiatan fashion dan ekonomi kreatif. Anak-anak berkebutuhan khusus turut tampil membawakan tarian sekaligus membawa motif batik Depok. Salah satu perajin IPPBD juga melibatkan mereka dalam proses berkarya.
“Karya mereka bagus-bagus. Jadi kami ingin menunjukkan bahwa batik dan ekonomi kreatif juga bisa menjadi ruang yang inklusif,” ujarnya.
Kehadiran Cing Ikah dan Ny. Maria Feronika Hendri Arnis turut memperluas jejaring kegiatan. Pertemuan dua Dekranasda dari daerah berbeda itu menjadi ruang apresiasi sekaligus membuka peluang pertukaran gagasan dalam pengembangan kerajinan dan fashion.
Dari rangkaian kegiatan tersebut, batik Depok tampil dalam berbagai bentuk: sebagai kain, busana, produk kreatif, materi workshop, hingga medium kolaborasi. Perajin membawa keterampilan dan karakter lokal, sementara desainer memberi kemungkinan baru melalui pengolahan desain dan material.
“Batik Depok tidak hanya dijaga sebagai identitas, tetapi juga diberi ruang untuk tumbuh melalui desain, inovasi material, regenerasi konsumen, serta keterlibatan berbagai kelompok dalam ekosistem ekonomi kreatif,” tandasnya.
Dengan cara itu, pelestarian batik tidak berhenti pada menjaga motif. Identitas lokal dapat terus bergerak mengikuti perubahan zaman, sekaligus membuka ruang bagi kreativitas dan nilai ekonomi.
Nuswara masih berlangsung hingga 22 Oktober 2026. Masyarakat Kota Depok dapat datang melihat langsung koleksi perajin dan desainer, mengikuti aktivitas kreatif, sekaligus mengenal lebih dekat proses yang membuat batik Depok terus menemukan bentuk barunya.
“Yuk, masyarakat Kota Depok datang ke Nuswara. Kami masih sampai 22 Oktober. Ada banyak koleksi dari teman-teman fashion dan pengrajin batik. Harapannya, batik Depok semakin dikenal, diminati, dan membuka peluang lebih luas bagi perajin serta pelaku ekonomi kreatif,” pungkas Vivi. (el’s)







