Depok | Sketsa Online – Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar momentum mengenang perjalanan bangsa, tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan bagaimana nilai-nilai Pancasila tetap relevan menghadapi perubahan zaman. Terlebih, anak muda kini tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang mengubah cara belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga berinteraksi di ruang publik.
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Depok, H. Imam Turidi, S.H., menilai perhatian terhadap anak muda perlu ditempatkan sebagai bagian dari investasi masa depan bangsa. Pendidikan harus berjalan beriringan dengan terbukanya akses pekerjaan, ruang kreativitas, serta kesempatan untuk berkembang dan mengambil peran di tengah masyarakat.
“Anak muda hari ini adalah masa depan bangsa. Oleh karena itu mereka harus mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan yang baik, lapangan pekerjaan, ruang untuk berkarya, serta kehidupan yang lebih adil dan sejahtera,” ujar Imam, Rabu (30/9/2026).
Kesempatan tersebut, kata Imam, perlu disertai pembentukan karakter agar pengetahuan dan keterampilan tidak berhenti sebagai modal pribadi. Kemampuan yang dimiliki anak muda akan semakin bermakna ketika diarahkan untuk menghasilkan karya, memberi manfaat bagi lingkungan, dan memperkuat kehidupan bersama.
“Pendidikan tidak hanya membentuk kemampuan untuk bekerja, tetapi juga membangun cara berpikir dan karakter. Kita ingin anak muda memiliki pengetahuan dan keterampilan, sekaligus kepedulian terhadap sesama serta tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Pada titik inilah, Pancasila tidak cukup ditempatkan sebagai materi hafalan. Nilai lima sila perlu hadir dalam tindakan sehari-hari, mulai dari menghormati keyakinan dan martabat sesama, menjaga persatuan di tengah keberagaman, mengedepankan musyawarah, hingga mendorong terciptanya kehidupan yang lebih adil.
“Pancasila harus menjadi nilai yang hidup dalam tindakan, bukan sekadar hafalan. Ketika nilai itu diwujudkan dalam perilaku, anak muda bukan hanya memiliki karakter yang kuat, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi bagi persoalan di sekitarnya,” tegasnya.
Pesan tersebut semakin relevan ketika ruang digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian. Media sosial membuka kesempatan luas untuk belajar, menyampaikan gagasan, membangun jejaring, hingga menghasilkan karya.
Namun, derasnya arus informasi juga membuat perbedaan pandangan dapat menyebar dengan cepat dan berpotensi memicu gesekan.
“Ruang digital harus kita isi dengan hal-hal yang produktif. Jangan sampai teknologi justru membuat kita mudah terpecah hanya karena perbedaan pandangan. Kebebasan berekspresi harus tetap disertai tanggung jawab dan penghormatan terhadap orang lain,” jelas Imam.
Karena itu, kecakapan digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi. Anak muda juga perlu mampu memilah informasi, memeriksa kebenaran sebelum menyebarkannya, menghargai perbedaan pandangan, serta menjaga etika ketika berkomunikasi di ruang publik.
“Anak muda harus menjadi pengguna teknologi yang cerdas sekaligus bertanggung jawab. Informasi harus diperiksa, perbedaan harus dihormati, dan teknologi harus diarahkan untuk belajar, berkarya, membangun usaha, serta menciptakan sesuatu yang memberi manfaat,” tuturnya.
Bagi Imam, perkembangan teknologi seharusnya membuka ruang yang semakin luas bagi anak muda untuk berkreasi dan berkontribusi. Dunia digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas pengetahuan, mengembangkan usaha, membangun komunitas, menghasilkan karya, sekaligus mencari solusi atas berbagai persoalan di lingkungan sekitar.
Pada momentum Hari Kesaktian Pancasila, gagasan tentang kemajuan itu tidak dapat dipisahkan dari nilai yang menjadi pijakan kehidupan berbangsa. Perubahan teknologi boleh bergerak cepat, tetapi kemanusiaan, persatuan, tanggung jawab, dan keadilan tetap perlu menjadi arah dalam menentukan bagaimana kemajuan dimanfaatkan.
“Ke depan, kemajuan bangsa, khususnya Depok, tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologi berkembang, tetapi juga oleh seberapa kuat nilai-nilai Pancasila hidup dalam diri anak muda. Dari sana kita ingin melihat lahirnya karya, inovasi, dan perubahan yang tidak hanya membawa kemajuan, tetapi juga memberi manfaat bagi kehidupan bersama,” pungkas Imam. (el’s)







