Depok | Sketsa Online – Tidak semua warisan berbentuk tanah, rumah, atau usaha. Ada pula peninggalan yang tak kasatmata, tetapi membentuk cara seseorang menjalani hidup: prinsip, kebiasaan, nasihat, serta cara memperlakukan sesuatu yang dipercayakan kepadanya.
H. Igun Sumarno, S.Pd., memaknai warisan itu dari kandang sapi. Yang diteruskannya bukan semata usaha keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi juga pengalaman dan petuah orang tua yang membentuk cara pandangnya. Dari sana, ia belajar bahwa sesuatu yang dijaga membutuhkan ketekunan, perhatian, dan kesediaan menjalani proses.
Sekitar 1940, sang kakek memulai usaha peternakan. Tradisi itu kemudian diteruskan orang tua Igun hingga akhirnya berada di tangannya. Lebih dari delapan dekade berlalu, usaha keluarga tersebut tetap menjadi bagian dari kehidupannya di tengah kesibukan sebagai Ketua DPD PAN Kota Depok sekaligus anggota DPRD Kota Depok.
“Dari tahun 1940 kakek mulai beternak, kemudian diteruskan orang tua. Sekarang saya yang melanjutkan. Jadi yang saya teruskan bukan hanya usaha keluarga, tetapi juga pengalaman dan nasihat orang tua,” kata H. Igun pada Selasa (29/9/26).
Peternakan itu kini berkembang di Cilodong melalui CV Panser Sinar Abadi atau ISG Farm. Sapi jenis Limosin dan Simental dipelihara di sana, termasuk sapi jumbo dengan bobot ratusan kilogram hingga mendekati satu ton.
Di tengah kesibukannya sebagai wakil rakyat, H. Igun tetap menyempatkan diri memperhatikan usaha ternak yang telah diwariskan keluarganya. Dalam pandangannya, beternak bukan sekadar menghitung jumlah, ukuran, atau nilai ekonomi. Setiap ternak merupakan makhluk hidup yang membutuhkan perhatian agar tumbuh dalam kondisi baik.
Vaksinasi, pemberian vitamin, obat cacing, hingga pencatatan kesehatan menjadi bagian dari pemeliharaan. Setiap sapi dilengkapi eartag dengan barcode sebagai identitas sekaligus rekam kesehatan. Ternak yang baru tiba pun tidak langsung dicampur sebelum menjalani penanganan awal.
Kandang semi-terbuka dipertahankan untuk menjaga sirkulasi udara dan kenyamanan. Kebersihan, ruang gerak, pakan, serta kondisi fisik menjadi bagian dari pengawasan sehari-hari.
“Kalau kita memelihara makhluk hidup, kita tidak bisa hanya melihat hasil akhirnya. Makanannya bagaimana, kesehatannya bagaimana, lingkungannya bagaimana, semua harus diperhatikan,” ujarnya.
Seekor sapi tidak tumbuh besar dalam semalam. Pakan harus tersedia, kesehatan dipantau, lingkungan dijaga, sementara waktu memiliki prosesnya sendiri.
Dari situlah H. Igun melihat kesabaran bukan sekadar menunggu hasil, melainkan kesediaan menjalani setiap tahapan tanpa mengabaikan kewajiban.
“Peternakan mengajarkan saya tentang kesabaran. Kita memberi pakan hari ini, belum tentu besok langsung melihat hasilnya. Ada proses yang harus dijalani dan tanggung jawab yang tidak boleh ditinggalkan,” jelasnya.
Pengalaman itu kemudian membawanya pada refleksi yang lebih luas dalam ajaran Islam. Ia teringat pada kisah para nabi yang pernah menggembala. Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa para nabi pernah menggembala kambing.
Aktivitas menggembala, dalam pandangannya, menyimpan pelajaran tentang perhatian dan tanggung jawab. Sesuatu yang berada dalam penjagaan tidak boleh dibiarkan hingga akhirnya terabaikan.
“Dari menggembala itu ada pelajaran tentang kesabaran, perhatian dan tanggung jawab. Kita tidak bisa meninggalkan begitu saja sesuatu yang kita gembalakan. Harus dilihat kondisinya, dijaga dan dipastikan tidak ada yang terabaikan,” tuturnya.
Nilai itu pula yang menjadi pijakan dalam memperlakukan ternak. Ketika manusia mengambil manfaat dari hewan, ada kewajiban untuk memperlakukannya dengan baik.
“Kalau kita mengambil manfaat dari hewan, kita juga punya kewajiban memperlakukannya dengan baik. Bagi saya, itu bagian dari nilai yang harus dijaga,” ucapnya.
Pelajaran dari kandang sapi kemudian menemukan bentuk lain ketika Igun memasuki dunia pendidikan. Manusia pun tumbuh melalui proses. Anak membutuhkan waktu, lingkungan, perhatian, serta teladan untuk mengembangkan potensinya.
Pada 1995, Igun menyelesaikan pendidikan S1 Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, yang kini dikenal sebagai Pendidikan Masyarakat, di Universitas Islam Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister di Sekolah Tinggi Manajemen IMMI Jakarta.
Sejak awal 2000-an, ia mendirikan Yayasan Pendidikan Sumarno yang mengelola sekolah swasta gratis dan reguler di Kota Depok serta Kabupaten Bogor.
Di dunia pendidikan, kesabaran kembali menjadi bagian penting dari proses.
“Pendidikan juga membutuhkan kesabaran. Anak tidak bisa hanya diberi pelajaran kemudian dianggap selesai. Mereka membutuhkan waktu, lingkungan, perhatian dan teladan,” tandasnya.
Ia memandang keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada ijazah. Ukurannya terlihat ketika seseorang mampu berkembang, mandiri, memiliki karakter, dan memberi manfaat bagi lingkungan.
“Ketika seorang anak mampu berdiri sendiri dan memberikan manfaat, di situlah kita bisa melihat nilai dari proses pendidikan,” paparnya.
Dari dunia pendidikan, perjalanan itu berlanjut ke ruang pengabdian publik.
Sebagai anggota DPRD Kota Depok, Igun berhadapan dengan bentuk kepercayaan yang lebih luas. Pengalaman panjangnya membawa satu pemahaman: sesuatu yang dipercayakan harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Ia juga dipercaya memimpin DPD PAN Kota Depok periode 2025–2030.
“Di peternakan saya belajar merawat. Di pendidikan saya belajar menumbuhkan. Di DPRD saya belajar bahwa kepercayaan masyarakat juga harus dirawat,” ungkapnya.
Jabatan, bagi H. Igun, bukan kepemilikan pribadi. Di dalamnya terdapat kepercayaan publik yang harus dipertanggungjawabkan melalui kerja dan pengabdian.
“Ketika ada sesuatu yang dipercayakan kepada kita, kita tidak boleh menganggapnya sebagai milik pribadi. Jabatan juga begitu. Ada amanah masyarakat yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh,” tegasnya.
Lebih dari delapan dekade setelah sang kakek memulai, peternakan itu masih hidup. Yang bertahan bukan hanya usaha beternak sapi, melainkan cara bekerja, ketekunan, petuah orang tua, ajaran agama, dan pandangan tentang tanggung jawab.
Nilai-nilai itu hadir dalam berbagai ruang kehidupan Igun. Di kandang, ia memastikan ternak tumbuh dengan baik. Di sekolah, ia mendampingi anak-anak berkembang. Di ruang publik, ia menjalankan kepercayaan yang diterimanya.
Warisan akhirnya tidak berhenti pada apa yang diterima dari generasi sebelumnya. Nilainya terlihat dari bagaimana sesuatu dijaga, dikembangkan, lalu diteruskan sehingga tetap memberi arti bagi kehidupan berikutnya.
“Buat saya, warisan bukan hanya apa yang kita terima dari orang tua. Warisan adalah sesuatu yang harus kita rawat, kita kembangkan, lalu kita teruskan agar tetap hidup dan memberi manfaat bagi generasi setelahnya,” pungkas H. Igun. (el’s)







