Depok | Sketsa Online – Tanaman layu, daun menguning, pertumbuhan terhambat hingga serangan hama kerap membuat warga bingung menentukan penanganan yang tepat. Kesalahan mengenali penyebab justru dapat membuat perawatan tidak efektif.
Menjawab persoalan tersebut, Mobil Klinik Tanaman IPB University hadir di Bale Warga RT 10, Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Minggu (6/9/2026).
Layanan yang mengusung konsep “laboratorium berjalan” itu memberikan kesempatan kepada warga untuk berkonsultasi langsung dengan pakar pertanian, Bonjok Istiaji, S.P., M.Si.
Warga dapat membawa tanaman maupun menyampaikan persoalan yang mereka hadapi untuk mendapatkan penjelasan mengenai gejala, kemungkinan penyebab, hingga langkah penanganannya.
Kehadiran layanan ini tidak sekadar membantu menyelesaikan masalah tanaman, tetapi juga mendekatkan pengetahuan akademik kepada masyarakat. Persoalan yang ditemui warga di lingkungan rumah dapat langsung menjadi bahan pembelajaran berdasarkan penjelasan dari tenaga ahli.
Plt Lurah Tirtajaya Agus Sulaeman menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai kehadiran pakar pertanian di tengah lingkungan masyarakat menjadi kesempatan penting untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai cara merawat tanaman secara tepat.
“Kami tentu mengapresiasi kehadiran Mobil Klinik Tanaman IPB University. Ini bukan hanya bagaimana menangani tanaman yang sedang sakit atau terserang hama, tetapi juga bagaimana masyarakat mendapatkan edukasi dan pengetahuan yang benar langsung dari para ahlinya,” kata Agus.
Menurutnya, manfaat kegiatan tidak seharusnya berhenti ketika konsultasi selesai. Pengetahuan yang diperoleh warga dapat menjadi bekal untuk mengenali persoalan tanaman secara lebih mandiri sekaligus dibagikan kepada masyarakat di sekitarnya.
“Harapannya, warga tidak berhenti pada konsultasi hari ini. Pengetahuan yang didapat bisa diterapkan dan dibagikan kembali kepada lingkungan sekitar. Jadi, ada proses belajar bersama yang membangun kesadaran masyarakat untuk merawat tanaman dan lingkungan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ia menyampaikan, konsep laboratorium berjalan membuat layanan keilmuan pertanian hadir lebih dekat dengan persoalan nyata di lapangan. Warga tidak perlu hanya mengandalkan perkiraan ketika menghadapi tanaman yang menunjukkan gejala tertentu, melainkan dapat memperoleh penjelasan berdasarkan kondisi yang mereka temui.
Materi konsultasi mencakup berbagai persoalan yang umum dihadapi warga, mulai dari daun menguning, tanaman layu, pertumbuhan tidak optimal, hingga serangan hama dan penyakit. Pendekatan tersebut membantu masyarakat mengenali penyebab persoalan sebelum menentukan langkah penanganan yang tepat.
“Bagi masyarakat perkotaan, edukasi pertanian seperti ini semakin relevan. Aktivitas bercocok tanam kini tidak hanya dilakukan di lahan pertanian, tetapi juga berkembang di halaman rumah, pekarangan, hingga ruang terbatas di lingkungan permukiman,” jelasnya.
Menutup pernyataannya, Agus berharap kegiatan serupa dapat menjadi pintu masuk bagi kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah wilayah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Keterlibatan perguruan tinggi dapat membuka akses warga terhadap pengetahuan dan inovasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Ini contoh kolaborasi yang sangat baik. Pemerintah di tingkat kelurahan, perguruan tinggi, dan masyarakat bisa saling menguatkan. Semoga ke depannya semakin banyak pengetahuan dan inovasi yang bisa hadir langsung di tengah masyarakat, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan warga,” pungkasnya. (el’s)







