Tembus 1.000 Liter Minyak Jelantah, Pondok Petir Sukses Tarik Perhatian Cing Ikah

Depok | Sketsa Online – Kelurahan Pondok Petir, Kecamatan Bojongsari, mencatat capaian pengumpulan minyak jelantah sekitar 1.000 liter. Angka tersebut menjadi salah satu capaian tertinggi di Kota Depok sekaligus menunjukkan keterlibatan warga dalam mengelola limbah rumah tangga agar tidak berakhir sebagai pencemar lingkungan.

Capaian itu mendapat perhatian Ketua Tim Penggerak PKK Kota Depok, Cing Ikah, yang hadir di Pondok Petir, Kamis (13/8/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung pelaksanaan gerakan yang melibatkan kader PKK dan masyarakat.

Cing Ikah didampingi Widyasari dan Hj. Ulvah Wulandari dari Pokja III TP PKK Kota Depok. Hadir pula Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, jajaran Kecamatan Bojongsari, Pemerintah Kelurahan Pondok Petir, kader PKK kecamatan dan kelurahan, serta tim dan CEO PT Greenia.

Selain melihat proses pengumpulan, Cing Ikah bersama Kepala DLHK Kota Depok, Reni Siti Nuraeni menyambangi sejumlah rumah warga. Mereka memberikan edukasi mengenai pengelolaan lingkungan, termasuk penggunaan maggot untuk mengolah sampah organik rumah tangga.

Langkah tersebut memperlihatkan pendekatan pengelolaan sampah dari sumbernya. Limbah dapur dan minyak bekas yang selama ini kerap dibuang dapat dipilah, dikumpulkan, kemudian diarahkan pada pemanfaatan yang lebih produktif.

Hj. Ulvah Wulandari menjelaskan, keterlibatan kader menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong antusiasme warga. Mereka aktif mendatangi rumah-rumah untuk mengajak sekaligus menjelaskan dampak pembuangan minyak jelantah secara sembarangan.

“Kader-kader PKK menjemput bola ke warga dan memberikan sosialisasi bahwa minyak jelantah tidak boleh dibuang karena dapat mencemari lingkungan. Alhamdulillah, masyarakat sudah sangat memahami dan menyambut baik program ini,” ujar Ulvah.

Menurutnya, pendekatan tersebut mulai membentuk kebiasaan baru. Warga menyimpan minyak bekas yang dihasilkan dari aktivitas memasak sebelum menyerahkannya melalui mekanisme yang telah disiapkan.

“Kadang dalam satu kelurahan dalam satu minggu bisa terkumpul 100 liter, 200 liter, bahkan 300 liter. Tergantung perolehan masing-masing kelurahan. Untuk Pondok Petir, per bulannya bisa mencapai 1.200 sampai 1.500 liter,” katanya.

Ulvah mengungkapkan, perubahan pola pikir menjadi sasaran utama. Minyak jelantah yang masuk ke saluran air berpotensi mengganggu kualitas lingkungan, sedangkan jika dihimpun dapat memiliki nilai tambah.

“Jadi jangan pernah dibuang percuma hanya untuk mencemari lingkungan. Minyak jelantah ini ternyata sangat bermanfaat,” tegasnya.

Nilai tambah tersebut dikembangkan melalui kolaborasi Pemerintah Kota Depok dengan PT Greenia. Hasil pengumpulan diarahkan menjadi bahan baku sustainable aviation fuel (SAF), selain dapat dimanfaatkan untuk produk lain seperti lilin dan sabun.

“Selain bisa membuat lilin dan sabun, alhamdulillah sekarang melalui kerja sama dengan Greenia, minyak jelantah itu bisa diolah menjadi bahan bakar penerbangan,” ujar Ulvah.

Warga juga memperoleh manfaat melalui skema penukaran. Tiga liter minyak jelantah dapat ditukar dengan satu liter minyak baru, sehingga kegiatan tersebut memiliki nilai ekonomi sekaligus mendorong masyarakat untuk tidak membuang minyak bekas.

“Daripada dibuang, mereka kumpulkan. Kadang warga bisa mendapatkan 15 liter. Kalau 15 liter berarti mereka bisa mendapatkan sekitar lima liter minyak baru,” jelasnya.

Untuk menjaga alur pengumpulan, pemerintah menyiapkan titik penampungan di tingkat kelurahan yang dikenal dengan sebutan “Pom SS”. Kader PKK menghubungkan rumah tangga dengan fasilitas tersebut agar minyak yang sudah dipisahkan dapat tersalurkan.

“Kader-kader PKK menjemput bola ke warga, kemudian minyaknya dikumpulkan di kelurahan-kelurahan terdekat. Pemerintah juga menyiapkan tempat penampungan untuk minyak-minyak jelantah itu,” katanya.

Ulvah menilai keberlangsungan gerakan bergantung pada konsistensi edukasi dan keterlibatan warga. Fasilitas pengumpulan hanya akan efektif apabila masyarakat memiliki kebiasaan memilah sejak dari rumah.

Model yang dikembangkan di Depok pun mulai menjadi perhatian daerah lain yang tertarik menerapkan pola serupa.

“Sekarang Depok menjadi tempat percontohan untuk kota-kota lain. Mereka menanyakan bagaimana trik dan program yang dilakukan sehingga masyarakat dan kader bisa antusias,” ungkapnya.

Capaian Pondok Petir memperlihatkan bahwa persoalan limbah rumah tangga dapat diubah menjadi gerakan yang memiliki manfaat ekologis dan ekonomi. Dari dapur rumah warga, minyak bekas yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan kini masuk dalam rantai pemanfaatan yang lebih bernilai.

Bagi Pokja III TP PKK Kota Depok, capaian tersebut bukan sekadar soal volume. Sasaran akhirnya adalah membangun kebiasaan baru agar masyarakat terbiasa memperlakukan limbah secara bertanggung jawab.

“Kami dari PKK senantiasa memberikan pemahaman kepada warga bahwa program ini sangat bermanfaat, terutama bagi lingkungan, agar lingkungan kita lebih bersih dan sehat. Dari langkah sederhana ini, kami berharap dapat turut mewujudkan Depok yang maju,” tutupnya. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler