Depok | Sketsa Online – Kepedulian terhadap anak-anak yang mengalami kesulitan melihat jelas mendorong lahirnya sebuah gerakan sosial dengan dampak yang lebih luas.
Yayasan Amal Mata Indonesia (YAMI) bersama Persatuan Golf Indonesia (PGI) Kota Depok menyiapkan pemeriksaan mata bagi 30 ribu pelajar sekaligus menargetkan pencatatan Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).
Program tersebut menjadi langkah untuk memperluas akses pemeriksaan mata sejak dini sekaligus membangun kesadaran masyarakat bahwa penglihatan yang sehat memiliki peran penting dalam mendukung proses belajar, tumbuh kembang, dan masa depan anak.
Co Director Yayasan Amal Mata Indonesia (YAMI), Diana Mongan, mengatakan gagasan tersebut lahir dari kondisi di masyarakat yang menunjukkan bahwa pemeriksaan mata belum menjadi kebiasaan rutin, terutama bagi anak-anak usia sekolah.
“Ini usulan yang sangat bagus. Karena di Indonesia sendiri pemeriksaan mata belum menjadi suatu kebutuhan atau rutinitas yang dilakukan minimal setahun sekali untuk anak-anak,” ujar Diana.
Diana mengatakan, masih banyak gangguan penglihatan pada anak yang baru diketahui setelah mulai menghambat aktivitas belajar. Padahal, pemeriksaan sejak dini dapat menjadi langkah pencegahan agar gangguan tersebut segera diketahui dan ditangani secara tepat.
Melalui gerakan ini, YAMI ingin mendorong perubahan cara pandang masyarakat bahwa kesehatan mata tidak hanya diperhatikan ketika gangguan sudah muncul, tetapi perlu dijaga sejak awal sebagai bagian dari investasi masa depan anak.
“Dengan kegiatan ini, awareness-nya untuk mengingatkan semua orang bahwa kesehatan mata itu penting. Kami ingin dampak sosialnya bisa memberikan edukasi kepada masyarakat agar mereka terbiasa melakukan pemeriksaan mata,” katanya.
Diana menilai kolaborasi bersama PGI Kota Depok menjadi bukti bahwa kepedulian sosial dapat berkembang menjadi gerakan yang memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
“Kadang hal besar itu dimulai dari hal kecil. Ketika kita membantu satu anak melihat lebih jelas, sebenarnya kita sedang membantu membuka peluang mereka untuk belajar lebih baik dan meraih cita-cita,” ungkapnya.
Dalam rangkaian pemeriksaan mata dan pembagian kacamata gratis yang telah dilakukan di sejumlah sekolah di Kota Depok, YAMI menemukan berbagai kondisi yang menunjukkan masih perlunya perhatian terhadap kesehatan mata anak.
Diana mengungkapkan, sejumlah siswa bahkan mengalami gangguan penglihatan dengan tingkat minus cukup tinggi, meski masih berada di jenjang sekolah dasar.
“Kami menemukan banyak siswa yang saat diperiksa matanya sudah minus dua, tiga, bahkan terakhir ada yang minus enam. Padahal baru kelas satu,” jelas Diana.
Sebagian anak maupun orang tua sebelumnya tidak menyadari adanya gangguan tersebut. Kondisi itu baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan dan anak mendapatkan alat bantu penglihatan.
“Ketika diberikan alat bantu dan mereka bisa melihat lebih jelas, mereka baru tahu ternyata melihat dengan jelas itu jauh lebih nyaman,” ujarnya.
Lebih lanjut, Diana menekankan, persoalan penglihatan anak tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Anak yang mengalami gangguan penglihatan berpotensi mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran secara optimal.
Untuk merealisasikan target pemeriksaan 30 ribu pelajar, YAMI bersama PGI Kota Depok terus memperkuat persiapan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Tim Penggerak PKK Kota Depok dan perangkat daerah terkait.
Program tersebut juga akan melibatkan generasi muda sebagai bagian dari gerakan kepedulian kesehatan mata. Para siswa SMK akan diberikan pelatihan pemeriksaan mata awal untuk membantu pelaksanaan kegiatan sebagai relawan.
“Kami akan memberikan training pemeriksaan mata awal kepada anak-anak SMK yang akan membantu nanti sebagai relawan. Kemudian dari tim PKK bidang kesehatan juga akan ikut membantu,” katanya.
Tak hanya itu, YAMI menyiapkan tenaga profesional untuk memastikan pemeriksaan berjalan maksimal. Sebanyak 200 hingga 300 optometris ditargetkan terlibat dalam kegiatan tersebut.
Secara keseluruhan, jumlah personel yang akan terlibat diperkirakan mencapai lebih dari 500 orang, terdiri dari tenaga profesional, relawan, dan tim pendukung lainnya.
Pemeriksaan mata serentak bagi 30 ribu pelajar tersebut rencananya akan dilaksanakan pada Oktober mendatang dalam satu hari sebagai bagian dari upaya penciptaan Rekor MURI.
“Kita serentak satu hari untuk Rekor MURI-nya,” kata Diana.
Di tengah persiapan kegiatan tersebut, YAMI juga terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya membangun kebiasaan sederhana untuk menjaga fungsi penglihatan. Diana mengingatkan bahwa gaya hidup memiliki pengaruh terhadap kondisi mata, terutama di tengah meningkatnya penggunaan perangkat digital.
Gangguan seperti mata minus memang tidak dapat langsung dihilangkan, tetapi perkembangannya dapat dikendalikan melalui pola hidup yang lebih sehat.
“Kalau mengobati memang tidak ada. Tetapi bisa dicegah agar peningkatannya tidak cepat melalui gaya hidup,” jelasnya.
Ia menyebut sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan, mulai dari menjaga asupan nutrisi, mencukupi waktu tidur, hingga membatasi penggunaan perangkat digital secara berlebihan.
Salah satu kebiasaan yang dianjurkan adalah menerapkan metode 20-20-20, yakni setelah 20 menit melakukan aktivitas melihat dekat, mata diistirahatkan selama 20 detik dengan melihat objek yang berada jauh.
Menutup pernyataannya, Diana menegaskan program ini nantinya akan dikembangkan secara bertahap dengan menyasar pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah.
Harapannya, gerakan tersebut tidak berhenti pada pemeriksaan dan pemberian kacamata, tetapi mampu membangun budaya baru di masyarakat bahwa menjaga kesehatan mata merupakan kebutuhan penting.
Melalui kolaborasi YAMI dan PGI Kota Depok, kepedulian terhadap kesehatan mata anak diharapkan dapat menjadi gerakan bersama yang menghadirkan manfaat lebih luas.
“Semoga dari langkah kecil ini bisa memberikan dampak besar. Tujuannya agar semakin banyak anak bisa belajar, membaca, dan meraih cita-citanya dengan penglihatan yang sehat. Karena ketika seorang anak bisa melihat dengan jelas, kita sedang membantu membuka jalan bagi masa depannya,” tutupnya. (el’s)






