Bidik Pasar Internasional, Saenadhilah Racik Batik Depok dengan Wastra Nusantara

Depok | Sketsa Online – Batik Depok tak lagi sekadar hadir sebagai kain bermotif khas daerah. Di tangan fashion designer Saenadhilah, motif lokal diterjemahkan menjadi busana modern yang mempertemukan identitas Depok dengan kekayaan wastra Nusantara.

Gagasan itu terlihat dalam koleksi setelan atasan dan bawahan yang mengangkat motif Belimbing dan Gong Si Bolong dari Batik Tradjumas. Batik Depok kemudian dipadukan dengan tenun dan lurik, menghasilkan busana yang tetap membawa identitas lokal dengan tampilan lebih modern.

“Sekarang saya membuat setelan, atas dan bawah. Batik Depok saya kombinasikan dengan tenun, jadi bukan hanya batik saja. Saya ingin mengangkat Batik Depok sebagai bagian dari wastra Nusantara,” ujar Saenadhilah saat diwawancarai dalam acara Nuswara di ITC Depok, Margonda, Sabtu (3/10/2026).

Pengembangan desain juga terlihat pada bentuk busana. Sejumlah rancangan hadir dengan kerah panjang, sementara koleksi lainnya dibuat lebih kasual. Motif ikan hias turut digunakan sebagai aksen pada beberapa busana.

“Motifnya ada Belimbing, Ikan Hias, dan Gong Si Bolong. Modelnya juga beragam, ada yang menggunakan kerah panjang, ada juga yang lebih casual. Jadi, identitas Batik Depok tetap terlihat, tetapi bentuk busananya dikemas lebih modern,” jelasnya.

Perpaduan kain menjadi bagian dari konsep Saenadhilah dalam mengembangkan Batik Depok. Tenun dan lurik dipertemukan dengan motif lokal untuk menciptakan karakter baru tanpa menghilangkan identitas yang dibawa masing-masing kain.

“Konsep saya memang Batik Depok, tetapi saya tetap memadukannya dengan kain-kain Nusantara. Ada tenun Maumere dan lurik. Ketika dipadukan, masing-masing punya karakter sehingga hasilnya menjadi lebih unik,” ungkapnya.

Koleksi tersebut tersedia mulai ukuran M, L, XL hingga XXL. Konsumen yang membutuhkan ukuran di luar pilihan itu dapat melakukan pemesanan secara khusus.

Salah satu rancangan berwarna marun dengan motif Gong Si Bolong sebelumnya diperkenalkan dalam kegiatan HUT KOOD di Pesona Square. Busana yang dikenakan model Moza itu menjadi bagian dari langkah Saenadhilah memperkenalkan Batik Depok melalui fashion.

Dari pengenalan produk, langkah berikutnya diarahkan pada perluasan pasar. Saenadhilah mendapat kesempatan mengikuti Trade Expo International di bawah binaan PT Jasa Marga.

Ajang yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan RI itu menjadi ruang untuk memperkenalkan produk sekaligus membuka peluang bertemu buyer dari pasar yang lebih luas.

“Targetnya tentu buyer. Kami ingin memperkenalkan Batik Depok lebih luas, bukan hanya di Depok. Kalau ada buyer dari luar daerah atau internasional yang tertarik, itu menjadi peluang untuk membawa Batik Depok lebih jauh,” tuturnya.

Karya Saenadhilah mulai digunakan konsumen dari berbagai kalangan, termasuk ASN serta sejumlah tokoh dan keluarga pejabat di Kota Depok. Hal itu turut memperluas penggunaan Batik Depok dalam bentuk busana yang lebih modern.

Pengalaman memperluas pasar juga diperoleh Saenadhilah melalui Nuswara. Kegiatan itu tidak hanya menjadi ruang memamerkan produk, tetapi juga mempertemukan pelaku UMKM dengan konsumen, membuka jejaring, serta memberi masukan untuk pengembangan produk dan usaha.

“Banyak masukan yang kami dapat, mulai dari motif, produksi hingga finishing. Kami juga belajar bagaimana UMKM bisa lebih mandiri. Di Nuswara, kami mengelola kegiatan sendiri tanpa EO, sehingga biaya bisa ditekan dan hasil penjualan bisa lebih banyak kembali kepada teman-teman UMKM,” tandasnya.

Masukan mengenai pengembangan produk juga datang dari pimpinan Dekranasda Padang Panjang. Pandangan mengenai motif, produksi hingga finishing menjadi bahan evaluasi bagi Saenadhilah dalam menyempurnakan produk.

“Karena itu, ruang bagi UMKM tidak cukup hanya menyediakan tempat untuk memamerkan produk. Pertemuan langsung dengan konsumen, jejaring antarpelaku usaha, masukan dari pihak lain hingga peluang transaksi menjadi bagian penting dalam membangun pasar produk lokal,” tambahnya.

Saenadhilah mendorong semakin banyak ruang komersial dan agenda kreatif yang mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli. Menurut dia, promosi akan lebih berarti ketika produk tidak hanya dikenal, tetapi juga memiliki peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas.

“Harapannya semakin banyak buyer yang datang dan semakin banyak yang mengenal Batik Depok. Kami ingin Batik Depok tidak hanya dikenal masyarakat Depok, tetapi bisa dikenal lebih luas. Dengan perpaduan tenun dan wastra Nusantara, kami ingin menghasilkan sesuatu yang punya ciri khas dan bisa membawa nama Batik Depok lebih jauh,” pungkasnya. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler