Bawa Pencak Silat ke Ekosistem Profesional, Dedi Setiawan Ungkap 8 Tahun Perjalanan Go Silat

Depok | Sketsa Online – Delapan tahun perjalanan PT Gosilat Indonesia Manajemen menjadi pijakan bagi Direktur Utama Dedi Setiawan untuk membawa pencak silat ke tata kelola yang semakin profesional, tanpa meninggalkan karakter dan nilai budaya yang menjadi akarnya.

Arah itu tidak hanya diwujudkan melalui penyelenggaraan pertandingan, tetapi juga pembinaan atlet serta penciptaan ruang yang mendorong pesilat berkembang secara sportif, berkarakter, dan menjunjung persaudaraan.

Menurutnya, perjalanan delapan tahun bukan sekadar penanda usia organisasi. Ada proses panjang untuk menjaga konsistensi, membangun kepercayaan, dan terus tumbuh bersama perkembangan pencak silat Indonesia.

“Delapan tahun bukan sekadar angka atau usia. Ini adalah proses, konsistensi, kepercayaan, dan komitmen untuk terus tumbuh bersama pencak silat Indonesia,” kata Dedi, Minggu (4/10/2026).

Go Silat berangkat dari kecintaan terhadap pencak silat yang kemudian berkembang menjadi keseriusan. Kegemaran itu diarahkan menjadi dedikasi untuk memberikan kontribusi yang lebih luas bagi perkembangan pencak silat.

“Bagi PT Gosilat Indonesia Manajemen, pencak silat bukan hanya sebuah hobi. Kami percaya bahwa ketika hobi menjadi fokus, dan fokus menjadi hidup, maka lahirlah sebuah dedikasi,” ujarnya.

Dedikasi tersebut diterjemahkan melalui penyelenggaraan kegiatan pencak silat dengan perhatian pada mutu pelaksanaan dan pelayanan. Peserta yang hadir bukan hanya atlet, tetapi juga perguruan, pelatih, wasit-juri, orang tua, serta berbagai pihak yang menjadi bagian dari setiap kompetisi.

“Go Silat mengedepankan service yang terbaik,” tuturnya.

Ia menilai, kualitas pertandingan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil akhir di papan skor. Arena juga menjadi ruang bagi pesilat untuk menempa keberanian, menghadapi tekanan, berinteraksi dengan lawan, dan belajar menghargai proses.

“Bagi kami, sebuah pertandingan bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Di dalamnya ada proses pembelajaran, keberanian, sportivitas, persaudaraan, pengalaman, dan kesempatan bagi setiap pesilat untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.

Karena itu, peningkatan standar penyelenggaraan menjadi bagian dari perhatian Go Silat pada tahun kedelapan. Kenyamanan, keamanan, pelayanan, hingga pengalaman peserta terus ditempatkan sebagai unsur penting dalam setiap kompetisi.

Upaya itu berjalan beriringan dengan perluasan kesempatan bagi generasi muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding. Jam terbang menjadi bagian penting dalam mengasah kemampuan sekaligus mengukur kesiapan sebelum pesilat memasuki level persaingan yang lebih tinggi.

Perhatian juga diarahkan kepada Depok yang memiliki banyak pesilat potensial. Dedi menilai bakat membutuhkan ruang dan lingkungan yang mendukung agar dapat berkembang menjadi kemampuan yang teruji hingga berujung pada prestasi.

“Khusus untuk pesilat kita di Depok yang memiliki banyak potensi pesilat hebat, tugas kita bersama adalah memberikan mereka ruang, kesempatan, dan lingkungan yang baik agar potensi tersebut dapat berkembang menjadi prestasi,” tegas Dedi.

Dalam pembinaan, kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Latihan, pengalaman bertanding, hingga kekalahan memiliki peran dalam membentuk mental dan ketangguhan seorang pesilat.

“Jangan menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Jadikan setiap latihan sebagai proses, setiap pertandingan sebagai pengalaman, dan setiap kekalahan sebagai bahan untuk menjadi lebih kuat,” tuturnya.

Pembentukan pesilat pun tidak berhenti pada kemampuan fisik dan teknik bertanding. Karakter yang dibawa keluar dari arena menjadi bagian dari jati diri pesilat sekaligus cerminan nama baik perguruan.

“Pesilat sejati bukan hanya mereka yang kuat di arena, tetapi juga mereka yang mampu menjaga sikap, disiplin, adab, persaudaraan, dan nama baik perguruan,” tandasnya.

Pandangan itu menempatkan pencak silat dalam ruang yang lebih luas daripada olahraga dan seni bela diri. Profesionalisasi tata kelola dapat berjalan berdampingan dengan upaya merawat identitas pencak silat sebagai warisan budaya bangsa.

Dedi ingin generasi pesilat ke depan tidak hanya memiliki kemampuan bertanding, tetapi juga tumbuh dengan ketangguhan, karakter, prestasi, dan kebanggaan terhadap budaya sendiri.

“Mari kita jadikan pencak silat bukan hanya sebagai olahraga dan seni bela diri, tetapi sebagai jalan untuk membentuk generasi yang tangguh, berkarakter, berprestasi, dan memiliki kebanggaan terhadap budaya bangsa,” ucapnya.

Delapan tahun perjalanan Go Silat akhirnya bukan hanya berbicara tentang usia, melainkan tentang arah. Profesionalisme dibangun untuk memperkuat kualitas penyelenggaraan, sementara karakter dan budaya tetap dijaga sebagai fondasi pencak silat.

“Hobi yang menjadi fokus akan melahirkan dedikasi. Fokus yang menjadi hidup akan melahirkan prestasi. Dan pelayanan terbaik akan melahirkan kepercayaan. Selamat HUT ke-8 PT Gosilat Indonesia Manajemen. Terus bergerak, terus berprestasi, dan terus memberikan yang terbaik untuk pencak silat Indonesia,” pungkasnya. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler