Tutup Milad ke-26 KOOD, Denta: Saatnya Warga Depok Punya Ruang Budaya Sendiri!

Depok | Sketsa Online – Penutupan rangkaian Milad ke-26 KOOD menyisakan pesan lebih besar dari sekadar berakhirnya sebuah perayaan. Di tengah perkembangan Kota Depok, tingginya partisipasi warga menunjukkan kebutuhan akan ruang yang memungkinkan seni, budaya, dan kreativitas terus hidup di tengah masyarakat.

Ketua Panitia Rangkaian Milad KOOD ke-26, Dr. Denta Mandra, PB, M.Si., melihat antusiasme warga sepanjang kegiatan sebagai gambaran bahwa masyarakat membutuhkan wadah untuk berkumpul, berekspresi, sekaligus mengembangkan potensi mereka.

“Antusiasme masyarakat tahun ini meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Ini menunjukkan kegiatan seni, budaya, dan kreativitas seperti ini masih mendapat tempat di hati masyarakat. Artinya, masyarakat membutuhkan ruang untuk berkumpul, berekspresi, sekaligus mengembangkan potensi yang mereka miliki,” ujar Denta saat diwawancarai usai penutupan HUT KOOD ke 26, di Pesona Square, Depok pada Minggu (27/9/26).

Rangkaian Milad ke-26 KOOD tidak berhenti pada agenda seremonial. Beragam kegiatan seni, budaya, kreativitas hingga kompetisi mempertemukan warga sekaligus membuka ruang partisipasi bagi berbagai komunitas dan minat masyarakat.

Besarnya partisipasi salah satunya terlihat dalam kontes batu yang mencatat sekitar 10 ribu batu terdaftar. Koleksi yang dipertandingkan berasal dari berbagai kategori, termasuk batu akik dan batu virus.

“Peserta lomba tahun ini meningkat signifikan. Tercatat sekitar sepuluh ribu batu terdaftar, terdiri atas batu akik dan batu virus,” katanya.

Bagi Denta, angka tersebut bukan sekadar ukuran keberhasilan penyelenggaraan. Antusiasme itu memperlihatkan adanya potensi masyarakat yang membutuhkan ruang agar minat, kreativitas, dan interaksi sosial dapat berkembang secara berkelanjutan.

Di titik inilah, menurutnya, ruang budaya perlu dipandang lebih dari sekadar tempat pertunjukan. Ruang budaya dapat menjadi tempat warga mengenal tradisi, belajar seni, membangun komunitas, menciptakan karya, sekaligus memperkenalkan kebudayaan kepada generasi muda.

“Yang penting, kegiatan seni dan budaya terus ditingkatkan dan dikembangkan. Masyarakat membutuhkan ruang untuk berkegiatan, berekspresi, sekaligus menyalurkan kreativitasnya,” ujarnya.

Pengalaman Milad ke-26 KOOD memperlihatkan bahwa ketika ruang partisipasi dibuka, masyarakat mampu mengisinya dengan beragam aktivitas. Budaya pun tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi hadir dalam kehidupan sosial melalui karya, komunitas, dan kreativitas warga.

“Usia 26 tahun ini bukan sekadar perayaan, tetapi menjadi momentum agar kegiatan yang kita bangun terus hidup dan berkembang. Yang paling penting, masyarakat memiliki ruang untuk berkegiatan, khususnya dalam seni dan budaya,” tuturnya.

Keberlanjutan kegiatan semacam itu, lanjut Denta, membutuhkan dukungan dan kolaborasi. Ia mengapresiasi Pemerintah Kota Depok yang mendukung rangkaian Milad KOOD ke-26 sebagai bagian dari upaya menjaga kegiatan seni dan budaya tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.

“Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan ini mendapat dukungan dari Pemkot Depok. Dukungan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan seni dan budaya di tengah masyarakat. Sementara untuk kompetisinya, kami menyelenggarakan event berstandar IPE,” ungkapnya.

Karena itu, penutupan Milad ke-26 KOOD justru menjadi awal dari pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana Kota Depok menyediakan ruang bagi warganya untuk berkumpul, berkarya, dan merawat kebudayaan?

Memasuki usia ke-26, Denta berharap semangat yang lahir dari rangkaian kegiatan tersebut tidak berhenti ketika panggung perayaan ditutup. Bagi dia, kebudayaan membutuhkan ruang untuk tumbuh di tengah perubahan kota sekaligus menjadi jembatan bagi generasi berikutnya untuk mengenal dan meneruskannya.

“Harapannya, kegiatan seni dan budaya seperti ini terus hidup dan berkembang. Sebab budaya tidak cukup hanya dirayakan, tetapi harus punya ruang untuk tumbuh dan diwariskan. Warga Depok harus punya ruang budaya sendiri,” pungkas Denta. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler