Budaya Betawi Terdesak Zaman, Baba Dahlan Dorong Generasi Muda Masuk Ruang Digital

Depok | Sketsa Online – Pelestarian budaya Betawi menghadapi tantangan baru di tengah perubahan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi. Ketika generasi muda semakin akrab dengan media sosial dan berbagai platform digital, menjaga tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan warisan yang sudah ada.

Kebudayaan juga perlu hadir di ruang yang dekat dengan kehidupan generasi penerus.

Ketua KOOD, Baba Dahlan, mendorong pemanfaatan ruang digital untuk memperkenalkan sekaligus menjaga budaya Betawi Pinggir atau Betawi Ora yang berkembang di Depok. Kemasan kreatif menjadi bagian penting agar warisan lokal tetap dikenal tanpa kehilangan akar budayanya.

“Strategi Baba memang harus mengikuti perkembangan zaman. Karena itu, Ronda punya tugas bagaimana mengemas, menyampaikan, dan mempublikasikan budaya-budaya yang kita miliki, khususnya budaya Betawi Pinggir atau Betawi Ora yang ada di Depok,” ujar Baba Dahlan saat penutupan Milad ke-26 KOOD di Pesona Square, Depok, Minggu (27/9/2026).

Gagasan itu diwujudkan melalui Ronda KOOD, organisasi sayap yang dibentuk bersama Wadon KOOD dan Jawara KOOD. Ronda diarahkan menjadi wadah regenerasi agar generasi muda tidak hanya menjadi penikmat, tetapi ikut mengambil peran dalam mengenalkan dan mengembangkan warisan budaya melalui pendekatan yang sesuai dengan zamannya.

Anggota Ronda KOOD memiliki latar pendidikan hingga jenjang doktoral. Kapasitas itu dapat menjadi modal untuk mengembangkan cara baru dalam menyampaikan pesan budaya, mulai dari animasi hingga berbagai konten kreatif di media digital.

“Mereka sudah mumpuni untuk memperkenalkan sekaligus mempertahankan budaya melalui animasi dan berbagai kegiatan kreatif lainnya. Di era sekarang, kita memang harus mengikuti perkembangan media sosial agar budaya tetap dikenal,” katanya.

Perubahan teknologi tidak harus membuat tradisi kehilangan tempat. Sebaliknya, media digital dapat menjadi jembatan yang menghubungkan warisan budaya dengan generasi yang tumbuh dalam ekosistem teknologi.

Tantangan regenerasi itu semakin kompleks di Depok yang dihuni masyarakat dengan latar belakang beragam. Baba Dahlan mengungkapkan, sekitar 30 suku hidup di Kota Depok. Keragaman menjadi kekayaan bersama, tetapi pada saat yang sama budaya lokal tetap membutuhkan ruang agar tumbuh dan memiliki tempat di tanah kelahirannya.

“Di Depok ini sudah ada sekitar 30 suku. Itu menjadi kekayaan kita bersama. Namun, di tengah keberagaman itu, budaya lokal, khususnya Betawi Pinggir, tetap harus kita rawat dan lestarikan agar tidak kehilangan tempat di tanah kelahirannya sendiri,” jelasnya.

Kebutuhan membuka ruang perjumpaan budaya itu juga tercermin dalam rangkaian Milad ke-26 KOOD. Selain memberi ruang bagi budaya lokal, KOOD menghadirkan kegiatan komunitas yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Salah satunya melalui kontes batu akik yang diikuti peserta dari berbagai wilayah Indonesia. Batu akik bukan bagian dari budaya lokal Depok, tetapi berkembang sebagai aktivitas komunitas yang memiliki daya tarik lintas daerah.

Karena itu, kehadirannya dalam rangkaian Milad KOOD menjadi salah satu contoh bagaimana ruang budaya dapat mempertemukan komunitas sekaligus membuka interaksi yang lebih luas.

Kontes yang memperebutkan trofi Wali Kota Depok itu menyediakan total hadiah Rp100 juta.

“KOOD ini kan organisasi yang merawat dan melestarikan seni, budaya, serta bahasa. Batu akik memang bukan bagian dari budaya lokal Depok, tetapi merupakan bagian dari fenomena budaya yang berkembang di masyarakat. Bersama pemerintah kota, kita berkonsentrasi mengangkat budaya lokal, budaya nasional, maupun budaya internasional,” ungkapnya.

Kontes itu digelar bersamaan dengan ulang tahun KOOD dan menjadi hajat bersama KOOD, pemerintah daerah, serta Wali Kota Depok. Kolaborasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan kebudayaan membutuhkan ruang kerja bersama antara komunitas dan pemerintah.

“Kontes batu akik ini kita gelar bersamaan dengan ulang tahun KOOD. Jadi, ini menjadi hajat bersama KOOD, pemerintah daerah, dan Pak Wali Kota. Kolaborasi seperti ini penting, karena kebudayaan tidak bisa berjalan sendiri. Komunitas dan pemerintah perlu bersinergi agar potensi budaya terus berkembang dan dikenal lebih luas,” tuturnya.

Pada akhirnya, tantangan pelestarian budaya bukan hanya soal menjaga warisan masa lalu, tetapi memastikan warisan itu memiliki tempat di masa depan. Perubahan cara berkomunikasi membuat regenerasi menjadi bagian penting dari proses itu.

Ronda KOOD diarahkan untuk mengambil peran dengan membawa kebudayaan ke media sosial, animasi, dan berbagai karya kreatif yang dekat dengan generasi muda. Dengan cara itu, anak muda tidak berhenti sebagai penerima warisan, tetapi dapat menjadi pelaku yang mengenal, mengolah, dan memperkenalkannya kembali.

Budaya tidak cukup hanya diwariskan. Ia harus terus menemukan cara untuk hidup, tumbuh, dan tetap relevan di tengah zaman yang terus berubah.

“Sekarang melalui media sosial yang memang harus kita ikutin. Budaya harus kita bawa ke ruang yang dekat dengan generasi muda. Kita kemas dengan cara yang kreatif, supaya mereka bukan hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengenal, mencintai, dan memperkenalkan budaya kita,” pungkas Baba Dahlan. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler