Depok | Sketsa Online – Penguatan kapasitas kader menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan organisasi. Kader tidak hanya dituntut memahami tugas, tetapi memiliki kemampuan untuk meneruskan proses kaderisasi di setiap jenjang.
Upaya tersebut dilakukan melalui Pendidikan Instruktur Kader Loyalis Angkatan II yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB Jawa Barat di Creative Hall DPW PKB Jabar, 25–26 September 2026. Dari PKB Depok, empat legislator mengikuti pendidikan itu, sementara H. Abdul Khoir telah lebih dahulu mengikuti pendidikan instruktur.
Lima legislator PKB Depok yang telah mengikuti pendidikan instruktur yakni H. Ade Ibrahim, Siswanto, Babai Suhaimi, Tati Rachmawati, dan H. Abdul Khoir. Empat di antaranya mengikuti Angkatan II, sedangkan Abdul Khoir mengikuti pendidikan pada kesempatan sebelumnya.
H. Ade Ibrahim mengatakan pendidikan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan kader PKB, khususnya anggota fraksi. Pembekalan itu sekaligus memperkuat pemahaman kader terhadap materi kaderisasi serta penerapannya dalam kerja organisasi.
“Pendidikan ini dalam rangka meng-upgrade kemampuan dan keterampilan kader-kader partai PKB, khususnya sebagai anggota fraksi,” ujar Ade.
Ia menjelaskan, peserta tidak hanya dituntut memahami materi, tetapi menguasainya agar dapat diterapkan dan diteruskan kepada kader lain di berbagai jenjang.
“Targetnya adalah menguasai materi-materi kaderisasi partai di setiap jenjang,” katanya.
Penguasaan materi kemudian diarahkan pada penguatan struktur organisasi. Ade menyebut terbentuknya kepengurusan mulai tingkat kecamatan hingga kelurahan dan jenjang berikutnya sebagai salah satu perubahan konkret yang ingin diwujudkan.
“Perubahan konkret yang diharapkan adalah terbentuknya pengurus partai mulai tingkat kecamatan sampai kelurahan dan seterusnya. Pengurus yang dimaksud juga sebagai kader yang mempunyai loyalitas terhadap partai,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ade menilai struktur organisasi perlu ditopang kader yang memiliki kapasitas serta mampu menjalankan tanggung jawab secara berkelanjutan. Peserta yang telah mendapatkan pembekalan dapat menjadi penghubung untuk meneruskan materi kepada kader lain.
“Pada akhirnya diharapkan mampu membawa dan mengembangkan program-program partai kepada masyarakat,” jelasnya.
Pendidikan instruktur diarahkan agar tidak berhenti pada penguasaan materi internal. Kemampuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam kerja organisasi serta dikembangkan menjadi gagasan dan program yang lebih dekat dengan masyarakat.
Hasil pendidikan selanjutnya diarahkan untuk diterapkan setelah kegiatan selesai. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh menjadi bekal memperkuat organisasi sekaligus mendorong lahirnya gagasan yang dapat diwujudkan dalam kerja nyata.
“Semoga kader yang telah mengikuti pendidikan ini tidak hanya mampu memahami dan menjalankan program-program partai, tetapi menjadi penggerak yang mampu mengembangkan gagasan dan menghadirkannya dalam kerja nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkas Ade. (el’s)







