Depok | Sketsa Online – Di tengah perubahan zaman, Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD) menjadikan Milad ke-26 sebagai momentum memperkuat regenerasi budaya dengan memberikan ruang kepada generasi muda untuk belajar sekaligus mengambil peran.
Semangat itu diwujudkan melalui keterlibatan RONDA atau Rombongan Anak Muda dalam kepanitiaan. Mereka tidak sekadar hadir sebagai peserta, tetapi diberi kesempatan merancang, mengelola, berkoordinasi hingga menyukseskan rangkaian kegiatan yang digelar di Pesona Square Depok, Sabtu (26/9/2026).
Sekretaris Umum (Sekum) KOOD Kota Depok, Nina Suzana, S.Sos., M.Si., mengatakan pelibatan anak muda menjadi bagian penting untuk menjaga kesinambungan seni, budaya, dan bahasa Depok.
“Tagline KOOD itu melestarikan, mengembangkan seni, budaya, dan bahasa. Kita ingin menunjukkan bahwa bukan hanya tampilan seni budaya, tetapi ada budaya yang harus dikembangkan, dipertahankan, dan dikenalkan,” ujar Nina.
Menurutnya, regenerasi tidak cukup dilakukan dengan menyampaikan pengetahuan. Kepercayaan dan pengalaman perlu diberikan agar generasi penerus memiliki kesempatan memahami sekaligus menjalankan tanggung jawab organisasi.
“Kalau sebelumnya panitianya didominasi orang-orang tua, sekarang kita ingin anak-anak muda yang mengambil peran. Orang tua cukup memberikan arahan dan pengalaman, sementara generasi muda kita beri ruang untuk belajar dan melanjutkan estafet,” katanya.
Melalui keterlibatan tersebut, RONDA belajar bahwa sebuah kegiatan membutuhkan proses panjang, mulai dari menyusun konsep, membangun komunikasi, menjalin kerja sama hingga menyelesaikan berbagai persoalan di lapangan.
“Agar mereka paham bahwa enggak gampang mendesain satu acara berhari-hari. Ini baru Milad, belum Lebaran Depok dengan segala problematikanya,” tuturnya.
Pembelajaran itu turut diterapkan melalui pengelolaan kegiatan secara mandiri. KOOD tidak menggunakan event organizer (EO), melainkan menyusun dan menjalankan sendiri rangkaian acara. Pola ini sekaligus menjadi ruang partisipasi anggota sekaligus bagian dari efisiensi anggaran.
“Kita enggak pakai EO, tetapi kita mendesain sendiri acara. Kita efisiensi anggaran, hemat anggaran, segala macam, tetapi kita ingin menghadirkan acara yang bermakna,” ungkap Nina.
Pelestarian budaya dalam Milad ke-26 KOOD tidak hanya diwujudkan melalui pertunjukan seni. Kontes batu akik yang kembali memperebutkan Piala Wali Kota Depok menjadi salah satu upaya mengenalkan kembali tradisi yang pernah lekat dengan kehidupan masyarakat kepada generasi muda.
“Batu akik ini merupakan bagian dari budaya yang dulu dekat dengan kehidupan orang-orang tua kita. Makanya, kita coba kenalkan kembali kepada generasi muda. Alhamdulillah, Pak Wali Kota pun mendukung,” ungkapnya.
Nina menilai modernisasi merupakan bagian dari perubahan zaman yang tidak dapat dihindari. Namun, kemampuan mengikuti perkembangan teknologi perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap tradisi agar generasi muda tetap memiliki akar budaya.
“Modernisasi tetap harus kita ikuti, karena kita tidak boleh ketinggalan zaman. Namun, tradisi harus tetap dijaga. Minimal anak-anak kita mengenal tradisinya, jangan sampai kebablasan,” tegasnya.
Ia menambahkan, paparan berbagai kebiasaan dan nilai dari luar melalui gadget serta televisi menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan identitas lokal. Kondisi itu membuat ruang interaksi anak muda dengan seni, tradisi, bahasa, dan sejarah daerah menjadi semakin penting untuk diperkuat.
“Harapan kita, anak-anak muda ini bukan hanya tahu, tetapi merasa memiliki. Kalau sudah merasa memiliki, mereka akan punya kepedulian untuk menjaga dan mengembangkan apa yang menjadi identitas daerahnya,” pungkas Nina. (el’s)







