Milad ke-26 KOOD, H. Hamzah Soroti Potensi Ekonomi dan Peran Generasi Muda Depok

Depok | Sketsa Online – Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD) memperingati Milad ke-26 dengan menghadirkan rangkaian agenda yang memadukan pelestarian budaya, aktivitas komunitas, dan keterlibatan generasi muda.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian ialah kontes batu akik tingkat nasional di Pesona Square Depok, Sabtu (26/9/2026).

Ketua Komisi B DPRD Kota Depok, H. Hamzah, S.E., M.M., melihat kontes batu akik tidak sebatas menjadi ruang bagi penghobi dan kolektor. Kehadiran peserta dari berbagai daerah turut mempertemukan komunitas sekaligus menciptakan peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk dan layanan mereka.

“Ya, hari ini adalah perayaan milad KOOD yang ke-26 tahun, di mana ini kontes batu akik tingkat nasional. Insyaallah ini ribuan peserta yang mengikutinya. Diawali tahun 2025 yang lalu, lalu kita tetap berjalan di tahun 2026 ini,” ujar H. Hamzah.

Peserta kontes berasal dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk Malaysia dan Singapura. Sejumlah kategori batu akik turut dipertandingkan, di antaranya pirus dan bacan, yang menjadi bagian dari rangkaian kompetisi dalam perayaan milad KOOD tahun ini.

Jumlah peserta yang ditargetkan tahun ini meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Pada 2025, jumlah peserta berada di kisaran 4.200 orang. Sementara pada 2026, penyelenggara menargetkan sekitar 6.000 peserta dari berbagai daerah.

“Targetnya kan tahun kemarin 4.200-an. Tahun ini ditargetkan 6.000 peserta untuk ikut kontes batu akik. Karena dari Sabang sampai Merauke, semuanya hadir,” katanya.

Besarnya cakupan peserta dari luar daerah turut membuka peluang bagi pergerakan ekonomi di Kota Depok. Kehadiran mereka berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap berbagai layanan selama berada di kota ini, mulai dari penginapan dan konsumsi hingga produk UMKM di sekitar lokasi acara.

“Orang-orang dari luar Kota Depok datang ke Depok. Tentunya mereka bisa menginap di hotel-hotel di Depok. Lalu kita lihat dari bawah sampai atas ini ada UMKM yang berjualan, dan tentunya ini membantu UMKM untuk peningkatan penghasilannya dari tanggal 25, 26, 27 nanti,” tuturnya.

Di sisi lain, Milad KOOD juga memberi ruang bagi generasi muda untuk mengambil bagian dalam menggerakkan organisasi. H. Hamzah menyebut Ronda KOOD menjadi salah satu wadah yang diisi anak-anak muda, termasuk kalangan pengusaha muda yang terlibat dalam berbagai agenda organisasi.

“Ronda KOOD ini semuanya anak-anak muda. Ketuanya Bang Denta. Banyak pengusaha-pengusaha muda yang masuk di Ronda KOOD. Mereka inilah yang ikut menggerakkan kegiatan-kegiatan KOOD,” ungkapnya.

Keterlibatan generasi muda itu turut terlihat dalam agenda seni dan budaya yang menjadi bagian dari perayaan Milad KOOD. Sejumlah pertunjukan dan kegiatan digelar, mulai dari tari, gambang kromong, lenong, pentas pantun, cerita bocah Depok hingga kontes batu akik.

H. Hamzah mengaku bangga karena pelestarian budaya Depok tidak hanya dilakukan oleh masyarakat yang terlibat langsung dalam KOOD. Keterlibatan berbagai pihak dalam mengenalkan dan menjaga seni budaya lokal dinilai menjadi bagian penting agar warisan budaya Depok tetap dikenal dan mendapat ruang di tengah perkembangan zaman.

“Yang pertama memang penyuluhan pelestarian seni budaya, kebudayaan-kebudayaan Depok, mulai dari tari, gambang kromong, lenong, pentas pantun, pentas cerita bocah Depok, kontes batu akik, dan banyak hal lainnya yang menjadi budaya seni budaya Betawi, seni budaya orang-orang Depok,” pungkasnya.

Rangkaian Milad ke-26 KOOD akhirnya mempertemukan beragam unsur dalam satu perhelatan, mulai dari komunitas, pelaku UMKM, pegiat seni, kolektor hingga generasi muda. Selain menghidupkan aktivitas komunitas, rangkaian ini menjadi ruang bagi seni dan budaya lokal untuk terus hadir di tengah masyarakat.

H. Hamzah berharap keterlibatan berbagai kalangan, khususnya generasi muda, dapat terus berkembang sehingga pelestarian budaya berjalan beriringan dengan munculnya ruang-ruang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Dengan regenerasi yang berjalan, budaya Depok diharapkan tidak hanya terjaga sebagai warisan, tetapi mampu tumbuh mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” tutupnya. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler