Beda Pemimpin, Satu Tujuan: Jiacep Tegaskan Toleransi dan Persatuan Depok Lewat Budaya

Depok | Sketsa Online – Pesan toleransi dan persatuan hadir melalui panggung budaya dalam peringatan HUT ke-26 Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD) di Pesona Square Depok, Sabtu (26/9/2026). Pesan itu disampaikan melalui Teater “Toleransi” yang dipentaskan Sanggar Teater Tim Ilustrasi dengan melibatkan Jiacep sebagai salah satu aktor.

Melalui keterlibatannya sebagai aktor, H. Acep Azhari, tokoh masyarakat Kota Depok yang akrab disapa Jiacep, turut menyampaikan pesan toleransi bukan hanya melalui gagasan, tetapi juga lewat seni pertunjukan.

Ia melihat kesenian sebagai sarana yang dekat dengan kehidupan masyarakat untuk menyampaikan nilai sosial sekaligus mempertemukan perbedaan pandangan.

“Cara memimpin boleh berbeda. Pendekatan boleh berbeda. Tetapi kalau tujuannya sama, yaitu membangun dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat, perbedaan jangan sampai membuat kita terpecah,” ujar Jiacep.

Gagasan itu ia kaitkan dengan edukasi mengenai sejarah dan proses pembangunan Masjid Istiqlal yang sebelumnya ia peroleh. Dari materi tersebut, Jiacep menangkap pelajaran bahwa sebuah tujuan besar dapat diwujudkan melalui cara dan kepemimpinan yang berbeda, tanpa kehilangan arah yang hendak dicapai.

“Waktu mengikuti edukasi tentang Masjid Istiqlal, saya menangkap satu hal. Pemimpin bisa berbeda, cara memimpinnya bisa berbeda, tetapi tujuan membangun dan menghadirkan sesuatu yang bermanfaat tetap satu,” katanya.

Pandangan itu kemudian ia tarik pada kehidupan masyarakat Depok yang memiliki latar belakang serta cara pandang yang tidak sama. Kebersamaan tidak harus dibangun dengan menyeragamkan pemikiran, melainkan melalui kemauan untuk saling menghormati dan menemukan titik temu.

“Tidak semua orang harus berpikir sama dengan kita. Kalau kita ingin hidup bersama, kita harus bisa menghargai perbedaan. Yang penting ada rasa saling menghormati dan ada tujuan bersama yang kita jaga,” tuturnya.

Teater “Toleransi” menunjukkan bahwa kesenian dapat menjadi sarana menyampaikan pesan sosial dengan cara yang lebih cair. Cerita dan karakter di atas panggung mengajak masyarakat melihat pentingnya menghargai sesama dan membangun kehidupan yang harmonis.

“Budaya bukan cuma tontonan. Ada nilai yang bisa kita pelajari di dalamnya. Ada kebersamaan, saling menghormati, gotong royong, dan bagaimana kita hidup berdampingan dengan orang lain,” ucapnya.

Peringatan HUT ke-26 KOOD juga menjadi ruang perjumpaan masyarakat sekaligus momentum menjaga nilai lokal agar tetap hidup. Pewarisan tradisi perlu berjalan seiring dengan perkembangan zaman, terutama melalui pendekatan yang dapat diterima generasi muda.

“Anak-anak muda harus maju dan mengikuti perkembangan zaman. Tetapi jangan sampai kemajuan itu membuat mereka kehilangan akar. Budaya harus tetap dikenal, dipahami, lalu dikembangkan sesuai zamannya,” katanya.

Nilai-nilai lokal akan tetap bermakna ketika tidak berhenti sebagai pertunjukan, tetapi hadir dalam perilaku sehari-hari. Sikap menghormati sesama, gotong royong, dan semangat seduluran dapat menjadi bagian dari modal sosial untuk menjaga kehidupan masyarakat tetap rukun.

“Kalau budaya hidup, nilai kebersamaan juga ikut hidup. Dari situ kita belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, tetapi kesempatan untuk saling mengenal dan berjalan bersama,” ujarnya.

Di tengah perbedaan latar belakang dan cara pandang masyarakat Depok, Jiacep menekankan pentingnya dialog dan kepentingan bersama dalam menyikapi perbedaan gaya kepemimpinan.

“Depok ini rumah kita bersama. Boleh berbeda cara memimpin, boleh berbeda cara pandang, tetapi tujuan kita tetap bagaimana Depok menjadi lebih baik. Budaya dan toleransi harus menjadi bagian dari kekuatan kita untuk membangun Depok maju,” pungkas Jiacep. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler