Depok | Sketsa Online – Ada yang berbeda dari PDI Perjuangan Kota Depok kali ini. Untuk pertama kalinya, DPC PDI Perjuangan Depok menggelar Maulid Nabi Perjuangan di tingkat DPC. Di bawah kepemimpinan Hj. Yuni Indriany, S.E., M.Si., agenda itu memadukan peringatan keagamaan dengan pesan kebangsaan dan keberagaman.
Maulid Nabi Perjuangan berlangsung di Alun-Alun Kota Depok, Grand Depok City (GDC), Minggu (20/9/2026). Kegiatan dirangkai dengan santunan anak yatim dan Sapa Budaya, menghadirkan suasana yang berbeda dari agenda politik partai pada umumnya.
Juru Bicara DPP PDI Perjuangan, M. Guntur Romli, memberi perhatian khusus pada langkah DPC Depok itu. Dalam sambutannya, ia membawa kembali pembicaraan pada sejarah Bung Karno dan tradisi peringatan Maulid Nabi di lingkungan kenegaraan.
Guntur menyebut peringatan Maulid Nabi telah berlangsung pada masa Presiden Soekarno, termasuk ketika Yogyakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia pada 1946. Tradisi itu kemudian berlanjut dengan penyelenggaraan Maulid Nabi di Istana Negara.
“Jadi jangan lupa bahwa tradisi peringatan Nabi Besar Muhammad SAW itu dimulai di Bung Karno di Istana Negara,” kata Guntur.
Ia kemudian melihat penyelenggaraan Maulid Nabi Perjuangan di Depok sebagai langkah yang memiliki hubungan dengan akar sejarah PDI Perjuangan. Menurutnya, peringatan itu dapat menjadi ruang untuk kembali menghadirkan nilai kebangsaan yang diwariskan Bung Karno.
“Nah karena itu, ketika peringatan Nabi Besar Muhammad SAW di Kota Depok kemudian dilaksanakan oleh DPC PDI Perjuangan Kota Depok, sebenarnya sudah kembali kepada jati diri dari PDI Perjuangan itu sendiri,” ujarnya.
Pesan yang dibawa Guntur tidak berhenti pada hubungan antara agama dan sejarah partai. Ia juga menyoroti keberagaman sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat Depok.
Semangat kebangsaan, kata dia, harus berjalan bersama penghormatan terhadap perbedaan agama, suku, dan budaya. Ruang kebersamaan pun perlu terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Guntur mencontohkan Bung Karno yang hadir dalam berbagai momentum keagamaan. Dari sana, ia melihat kehidupan kebangsaan Indonesia sebagai ruang yang dibangun bersama oleh masyarakat dengan latar agama, suku, dan budaya yang beragam.
“Semua suku, semua agama, semua lapisan, itu adalah citra Depok yang baru,” ucapnya.
Pesan itu sekaligus menjadi harapan bagi PDI Perjuangan Kota Depok di bawah kepemimpinan Hj. Yuni Indriany. Guntur menyebut nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, yakni semangat menghadirkan kemaslahatan yang dapat dirasakan seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
Rangkaian Maulid Nabi Perjuangan juga melibatkan jajaran DPC, PAC, ranting, anak ranting, serta unsur masyarakat. Kehadiran berbagai elemen itu membuat agenda perdana ini tidak hanya berisi kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan sosial di tengah kemajemukan Kota Depok.
Di penghujung sambutannya, Guntur menyampaikan apresiasi kepada DPC PDI Perjuangan Kota Depok dan Hj. Yuni Indriany. Ia berharap Maulid Nabi Perjuangan dapat berkembang melampaui seremoni dan menjadi bagian dari pengabdian partai kepada masyarakat.
“Semoga PDI Perjuangan Kota Depok terus menjadi bagian dari masyarakat, menjadi rahmat bagi seluruh warga Depok, dan bersama-sama membangun Depok yang semakin maju dan sejahtera,” pungkas Guntur. (el’s)







