Lintas Generasi Bersatu di Panggung Gembira, H. Igun Dorong Gen Z Teruskan Estafet Indonesia Emas

Depok | Sketsa Online – Panggung Gembira dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di RW 01, Sukamaju, Kota Depok, Sabtu (19/9/2026), menjadi ruang perjumpaan lintas generasi sekaligus wadah bagi anak muda untuk belajar mengambil peran di tengah masyarakat.

Digagas oleh anak-anak Gen Z, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan untuk memeriahkan kemerdekaan. Panggung Gembira memberi kesempatan kepada generasi muda untuk tampil, berkarya, bekerja sama, berkomunikasi, sekaligus belajar memikul tanggung jawab dalam sebuah kegiatan bersama warga.

Ketua DPD PAN Kota Depok sekaligus Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Depok, serta pembina dan penasihat acara, H. Igun Sumarno, S.Pd., M.M., mengapresiasi inisiatif tersebut., H. Igun Sumarno, S.Pd., M.M., mengapresiasi inisiatif tersebut.

Menurutnya, keterlibatan anak muda sejak tingkat lingkungan merupakan bagian penting dari proses membangun pengalaman sosial dan mempersiapkan generasi penerus.

“Yang luar biasanya, kegiatan HUT RI ini digagas oleh anak-anak Gen Z. Biasanya orang tua kalau sudah upacara 17-an selesai. Tetapi anak-anak ini justru ingin membuat panggung gembira untuk berkarya dan berkreasi. Ini menjadi ruang bagi mereka untuk belajar tampil, berani mengambil peran, dan mempersiapkan diri menjadi generasi penerus,” ujar H. Igun.

Kegiatan yang bermula dari RT 01/RW 01 itu kemudian berkembang dengan melibatkan masyarakat Sukamaju hingga sebagian wilayah Tapos.

Kehadiran orang tua dan tokoh masyarakat membuat panggung tersebut tidak hanya menjadi ruang ekspresi anak muda, tetapi juga tempat bertemunya kreativitas generasi baru dengan pengalaman generasi sebelumnya.

Pertemuan itu membuka ruang bagi kedua generasi untuk saling belajar. Anak muda memperoleh pengalaman mengelola kegiatan, membangun koordinasi, bekerja dalam tim, dan berkomunikasi dengan warga. Di sisi lain, generasi yang lebih senior dapat berbagi pengalaman sekaligus memberikan kepercayaan dan pendampingan.

“Menjaga Depok enggak bisa hanya orang tua. Membangun Depok kudu bareng-bareng sama anak-anak Gen Z. Kalau saya perhatikan dari kegiatan ini, mereka juga ingin berperan, ingin ikut, dan ingin memiliki Depok yang lebih maju. Ini menunjukkan bahwa anak-anak muda sudah mulai siap mengambil bagian dalam masa depan Depok,” katanya.

Ia menilai, proses tersebut menjadi latihan nyata bagi Gen Z. Mulai dari menyiapkan acara, membangun komunikasi, membagi tugas, bekerja sama, hingga tampil di hadapan publik merupakan pengalaman yang dapat membentuk keberanian dan tanggung jawab sosial.

“Ini ajang latihan kedewasaan. Kita harapkan mereka menjadi pemimpin, menjadi leader. Dengan mereka mau tampil dan bicara di depan orang banyak, ini sebagai ajang latihan,” tuturnya.

Dari pengalaman sederhana di lingkungan warga itu, H. Igun melihat adanya pesan yang lebih besar tentang regenerasi. Estafet kepemimpinan, kata dia, tidak cukup hanya dibicarakan ketika pergantian peran sudah di depan mata. Generasi muda perlu diperkenalkan, dilibatkan, dipercaya, dan didampingi sejak sekarang.

“Kalau bukan mereka, pengganti kita siapa? Kita bakal pensiun, kita bakal tidak ada. Kalau mereka tidak diajarkan, tidak diajak, dan tidak dituntun, mereka seperti jalan di tengah malam yang tidak ada sinarnya. Estafet kepemimpinan, estafet regenerasi harus dipupuk dari sekarang,” tegasnya.

Gagasan tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045. Anak-anak muda yang hari ini belajar berorganisasi, berkomunikasi, berkarya, dan berinteraksi dengan masyarakat kelak akan menghadapi tanggung jawab yang lebih besar dalam pembangunan.

Bekal itu pun tidak hanya menyangkut kemampuan akademik. Adab, pengetahuan, keterampilan, keberanian, serta kemampuan bekerja sama menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang mampu beradaptasi dan mengambil peran.

Semangat lintas generasi turut tercermin dalam tema Panggung Gembira, “Penampilan Budaya, Kreasi Budaya”. Kreativitas anak muda bertemu dengan budaya yang diwariskan generasi sebelumnya, menjadikan seni sebagai ruang bersama yang mempertemukan warga dari berbagai kelompok usia.

“Budaya ini salah satu pemersatu bangsa. Dengan budaya, mereka tidak melihat dia siapa atau dari mana asalnya. Pada saat ke sini hanya satu warna, yaitu merah putih,Indonesia,” ucapnya.

Selain pengalaman sosial, pendidikan menjadi fondasi penting dalam mempersiapkan generasi penerus. Kesempatan untuk belajar, mengembangkan keterampilan, dan membangun karakter menjadi bekal yang tidak kalah penting agar anak-anak muda mampu menghadapi tantangan masa depan.

Pesan tersebut juga dikaitkan H. Igun dengan pentingnya memastikan anak-anak tetap memperoleh akses pendidikan. Ia menyampaikan bahwa Wali Kota Depok Supian Suri telah menekankan agar tidak ada anak yang putus sekolah di Kota Depok.

“Pak Wali Kota Depok Supian Suri sudah menekankan bahwa tidak boleh ada anak yang putus sekolah di Depok. Anak-anak di Sukamukti dan Sukamaju, silakan segera daftar. Gratis,” katanya.

Pendidikan dan pengalaman sosial, dalam konteks itu, menjadi dua bekal yang saling melengkapi. Gen Z tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga ruang untuk berlatih berkomunikasi, bekerja sama, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan masyarakat.

Pada momentum 81 tahun kemerdekaan, Panggung Gembira menjadi ruang bagi Gen Z untuk berkarya sekaligus belajar mengambil peran di tengah masyarakat. Di ruang yang sama, generasi yang lebih senior berbagi pengalaman, memberikan pendampingan, dan menumbuhkan kepercayaan sebagai bagian dari proses menyiapkan generasi penerus.

Dari lingkungan warga, proses regenerasi itu mulai dipupuk. Kreativitas mendapat ruang, pengalaman diwariskan, dan kesempatan untuk mengambil peran diberikan kepada generasi yang kelak melanjutkan pembangunan Depok dan Indonesia.

“Kenapa sekarang kita bisa berkumpul, bercita-cita, bermimpi, dan membangun Depok? Karena Indonesia sudah merdeka. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan harapan anak-anak kita menjadi orang yang pintar dan cerdas, punya adab, punya pengetahuan, dan punya keterampilan,” pungkas H. Igun. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler