Depok | Sketsa Online – Menjaga tradisi bukan hanya mempertahankan warisan masa lalu, tetapi memastikan nilai dan identitas budaya tetap dikenal oleh generasi berikutnya. Semangat itulah yang akan mewarnai Seren Taun Desa Citorek Barat 2026, Kabupaten Lebak, Banten, yang digelar pada 20–22 September 2026.
Rangkaian kegiatan dirancang dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Olahraga, kreativitas warga, gotong royong, hingga pertunjukan seni tradisional disatukan dalam satu perhelatan. Pola ini membuat Seren Taun tidak berhenti sebagai acara seremonial, tetapi menjadi ruang perjumpaan warga dan pengenalan budaya kepada generasi muda.
H. Igun Sumarno, Ketua DPP PAN Kota Depok sekaligus Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Depok, dipercaya sebagai penanggung jawab acara. Keterlibatannya diarahkan pada upaya menjaga agar tradisi tetap memiliki ruang di tengah perubahan zaman, terutama melalui partisipasi generasi muda.

“Seren Taun bukan hanya tentang perayaan. Ada nilai syukur, kebersamaan dan gotong royong yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda. Jangan sampai anak-anak kita mengenal budaya hanya dari cerita, tetapi tidak pernah ikut merasakan dan menjalaninya,” kata H. Igun Sumarno pada Kamis (17/9/26).
Pesan itu diterjemahkan melalui rangkaian kegiatan yang membuka ruang partisipasi warga sejak awal. Lomba Voli Ball Putra Tingkat RT digelar pada 20–21 September, mempertemukan perwakilan warga dalam suasana kompetitif sekaligus mempererat interaksi di lingkungan masing-masing.
“Kami ingin warga ikut menjadi bagian dari acara. Ada olahraga, ada gotong royong, ada seni. Semuanya bisa menjadi ruang untuk berkumpul dan membangun kekompakan,” ujarnya.
Pada 22 September, perhatian beralih pada Lomba Gotongan dan Arak-Arakan Tingkat RT serta Lomba Tumpeng Tingkat RT. Kegiatan ini mengandalkan kreativitas sekaligus kerja bersama warga sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.
“Gotongan dan arak-arakan memiliki pesan sederhana, yaitu bagaimana masyarakat bekerja bersama. Lomba tumpeng juga bukan hanya melihat hasil akhirnya, tetapi bagaimana warga berkreasi dan saling membantu dalam prosesnya,” tutur H. Igun.
Setelah aktivitas warga, unsur seni tradisional menjadi bagian yang memperkuat suasana budaya. Pagelaran Wayang Golek “Medal Asih” dengan dalang Ade Sopian Jamar Putra serta Pagelaran Kendang Penca “Tarikolot Cimande Bogor” dijadwalkan pada 22 September.
Kedua pertunjukan itu sekaligus membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal kesenian tradisional melalui pengalaman langsung, bukan sekadar dari cerita atau dokumentasi.
“Wayang golek itu bukan hanya tontonan. Ada cerita, pesan dan nilai kehidupan yang bisa dipelajari. Karena itu, anak muda perlu diberi kesempatan untuk melihat langsung kesenian tradisional seperti ini,” kata H. Igun.
Bagi H. Igun, pengenalan budaya kepada generasi muda menjadi bagian penting dari keberlanjutan tradisi. Perkembangan zaman tidak harus membuat budaya lokal kehilangan tempat selama ada ruang bagi generasi penerus untuk mengenal dan terlibat.
“Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan kehilangan akar. Teknologi dan budaya modern terus berkembang, sementara budaya daerah juga harus diberi ruang agar tetap dikenal. Pemuda punya peran penting dalam estafet ini,” ujarnya.
Seren Taun Citorek Barat 2026 melibatkan Olot Umar dari Kesepuhan Kampung Cibengkung, H. Karjaya selaku Kepala Desa Citorek Barat, H. Igun Sumarno sebagai penanggung jawab acara, serta Maryani sebagai panitia pelaksana. Keterlibatan unsur adat, pemerintah desa, panitia, dan masyarakat menjadi bagian dari penyelenggaraan kegiatan.
Keterlibatan H. Igun dalam kegiatan budaya di Lebak juga sebelumnya terlihat saat menghadiri Seren Taun di Desa Adat Guradog. Dalam kegiatan itu, ia hadir bersama Tokoh Adat Guradog Abah H. Rahmat, Kapolres Lebak Arninsih, Ketua Gapensi Bapak Nabil Jaya Baya, serta Wakapolres Lebak Mayor Edy.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan adat dapat menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan tokoh adat, masyarakat, dan berbagai unsur lainnya.
“Kegiatan adat juga bisa menjadi ruang silaturahmi. Ketika tokoh adat, masyarakat dan berbagai unsur bisa bertemu, kita tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga memperkuat hubungan antarmasyarakat,” jelasnya.
Rangkaian Seren Taun Citorek Barat 2026 akhirnya bertemu pada satu pesan: tradisi membutuhkan generasi penerus. Olahraga menghadirkan sportivitas, gotongan dan arak-arakan menghidupkan kerja bersama, sementara wayang golek dan kendang penca menghadirkan seni yang dapat dikenalkan kepada anak muda.
Di tengah perubahan zaman, keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar warisan budaya tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Ketika tradisi dipahami dan dijalankan bersama, estafet budaya dapat terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Harapannya, Seren Taun ini bukan hanya menjadi acara yang meriah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan mengenalkan budaya kepada generasi muda. Kita boleh maju mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan akar budaya sendiri. Estafet tradisi ini harus terus berjalan,” pungkas H. Igun Sumarno. (el’s)







