Depok | Sketsa Online – Wali Kota Depok Supian Suri mendorong perubahan arah ajang Abang Mpok Depok 2026. Ia mengatakan, ajang tersebut harus bertransformasi menjadi ruang kolaborasi nyata antara generasi muda dan pemerintah dalam menjawab berbagai persoalan kota, mulai dari lingkungan hingga pembangunan infrastruktur.
Pernyataan itu disampaikan Supian saat membuka Grand Final Abang Mpok Depok di Aula Serbaguna Lantai 10, Gedung Dibaleka II, Balai Kota Depok, Sabtu (8/8/26). Ajang tersebut diikuti 20 finalis dan dihadiri Ketua Komisi B DPRD Kota Depok, Forkopimda, serta jajaran Pemerintah Kota Depok.
“Ini menjadi ikhtiar kita bagaimana potensi anak-anak muda Depok bisa dirangkul dan mendukung perjalanan pemerintahan, yang pada akhirnya mereka punya tanggung jawab melanjutkan pembangunan ini,” katanya.
Ia menekankan, ke depan peran Abang Mpok harus lebih konkret. Tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi juga terlibat aktif dalam menyampaikan program pemerintah sekaligus menyerap aspirasi masyarakat.
“Yang kita dorong adalah mereka menjadi bagian dari penguatan komunikasi dan kolaborasi, termasuk dalam mendukung program-program pemerintah di berbagai sektor, seperti lingkungan, infrastruktur, pendapatan daerah, ekonomi, sosial, pendidikan, dan kesehatan. Ini yang akan menjadi fokus mereka,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda penting untuk mencegah kebijakan berjalan sepihak. Ia menginginkan Abang Mpok berfungsi sebagai kanal komunikasi dua arah, yakni menyampaikan program sekaligus menangkap kritik dan masukan masyarakat.
“Sehingga mereka bisa menginformasikan sekaligus menerima masukan dari masyarakat yang pada akhirnya menjadi bahan evaluasi kebijakan kita,” ucapnya.
Lebih lanjut, Ia juga menyinggung sejumlah pekerjaan rumah Pemerintah Kota Depok yang belum tuntas, seperti kualitas jalan dan drainase, penataan kawasan, hingga layanan publik yang dinilai masih perlu disesuaikan dengan kebutuhan warga. Dalam konteks tersebut, ia membuka ruang bagi Abang Mpok untuk berperan sebagai agen edukasi sekaligus pengawas sosial.
Peran tersebut menuntut fleksibilitas. Ia bahkan membolehkan para finalis bergerak tanpa atribut formal agar lebih leluasa berbaur dan menjalankan tugas di tengah masyarakat.
“Saya minta kesediaan para finalis untuk menjadi duta Pemerintah Kota Depok dengan bidang yang saya minta. Bahkan, tidak harus selalu memakai atribut Abang Mpok supaya lebih leluasa bergerak,” katanya.
Sorotan juga diarahkan pada persoalan sampah yang hingga kini masih menjadi isu krusial di Depok. Supian menilai, pendekatan di hilir tidak lagi cukup. Intervensi di hulu melalui perubahan perilaku masyarakat juga perlu diperkuat.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan program di hilir, tetapi harus mengejar dari hulu. Dukungan RT, RW, kader, dan PKK penting agar sampah bisa terpilah dan memiliki nilai ekonomis,” ujarnya.
Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Kota Depok memberikan hadiah Rp1 juta kepada masing-masing finalis. Namun, bagi Supian, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah ajang berakhir, yakni bagaimana para finalis mampu menjalankan peran baru yang lebih berdampak.
“Saya titip, ini bukan hanya harapan keluarga, tetapi harapan kita semua agar mereka bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi Kota Depok, Jawa Barat, dan Indonesia,” tutupnya. (el’s)







