Depok | Sketsa Online — Kesadaran terhadap bahaya kanker masih menjadi pekerjaan rumah di Kota Depok. Minimnya pemahaman mengenai gejala awal, faktor risiko, dan pentingnya pemeriksaan membuat sebagian kasus berpotensi terlambat diketahui hingga penyakit berkembang lebih serius.
Persoalan itu menjadi perhatian Ikatan Keluarga Besar Alumni SMP Negeri 3 Depok (IKABENTO) bersama Yayasan Peduli Kanker Indonesia (YPKI). Keduanya menggelar penyuluhan kesehatan di Ruang Serbaguna Bank BJB Margonda, Depok, Sabtu (8/8/2026), dengan fokus pada pemahaman mengenai kanker, pencegahan, serta pentingnya deteksi dini.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok serta para pejuang kanker.

Ketua IKABENTO, H. Hamzah, S.E., M.M., mengatakan penyampaian informasi menjadi langkah awal untuk membangun kepedulian. Pengetahuan tentang kanker, perlu diberikan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami dan mendorong seseorang lebih peka terhadap kondisi tubuhnya.
“Hari ini kita memberikan penyuluhan tentang kanker, mulai dari gejala hingga risikonya. Ini penting karena masih banyak masyarakat yang belum memahami tanda-tanda awal penyakit ini,” ujar H. Hamzah.
Mengenali tanda-tanda awal bukan sekadar menambah wawasan. Pemahaman tersebut dapat menentukan seberapa cepat seseorang mencari pertolongan ketika menemukan kondisi yang patut dicurigai.
“Kalau masyarakat bisa mengenali sejak awal, maka penanganannya juga bisa lebih cepat dan peluang sembuh jauh lebih besar,” katanya.
Lebih lanjut, Ia menyampaikan, membangun kesadaran kesehatan juga tidak cukup dilakukan melalui satu forum. Pesan mengenai pencegahan dan deteksi dini perlu terus disampaikan melalui berbagai lingkungan agar menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Atas dasar itu, IKABENTO menggandeng YPKI untuk memperluas jangkauan penyuluhan. H. Hamzah menilai kolaborasi antara komunitas, yayasan, tenaga kesehatan, pemerintah, dan keluarga diperlukan agar upaya tersebut memiliki dampak yang lebih luas.
“Kita ingin ini menjadi gerakan bersama. Tidak bisa hanya satu pihak. Harus ada kolaborasi antara komunitas, yayasan, dan pemerintah,” jelasnya.
IKABENTO pun membuka ruang sinergi dengan Pemerintah Kota Depok maupun berbagai elemen masyarakat. Dukungan lintas sektor dinilai dapat membuat upaya pencegahan dan deteksi dini tidak berhenti sebagai agenda sesaat.
“Kami berharap bisa bersinergi lebih luas dengan pemerintah kota. Kalau dilakukan bersama-sama, dampaknya akan jauh lebih besar untuk masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya itu, semangat H. Hamzah dalam menjalankan kegiatan sosial juga berangkat dari pesan almarhum ibunya. Ia mengaku sejak dahulu mendapat nasihat bahwa jabatan, rezeki, dan kesempatan yang dimiliki seharusnya digunakan untuk memberi manfaat bagi orang lain.
“Ibu saya selalu berpesan, ketika kita punya jabatan atau rezeki, harus bisa bermanfaat untuk orang lain. Itu yang saya pegang sampai sekarang,” tuturnya.
Pesan tersebut kemudian ia wujudkan melalui berbagai aksi yang menyentuh kebutuhan warga secara langsung. Memberi manfaat tidak selalu harus berupa bantuan materi.
Pengetahuan yang dapat mengubah perilaku, mendorong kepedulian, bahkan membantu seseorang mengambil keputusan lebih cepat terhadap persoalan kesehatan juga memiliki nilai besar.
“Harta bukan segalanya. Tapi bagaimana kita bisa membantu orang lain, itu yang menjadi amal dan keberkahan,” ucapnya.
H. Hamzah berharap penyuluhan yang digelar tidak berhenti ketika acara selesai. Informasi yang diterima peserta diharapkan dibawa pulang, diterapkan, lalu diteruskan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
“Kita ingin masyarakat bukan hanya datang, mendengar, lalu selesai. Tapi setelah pulang, mereka punya kesadaran untuk menjaga kesehatan dan mengajak keluarganya melakukan hal yang sama,” katanya.
Keberhasilan sebuah gerakan sosial, bukan semata-mata dilihat dari jumlah orang yang hadir. Perubahan perilaku justru menjadi ukuran yang lebih penting. Satu orang yang mulai peduli terhadap kesehatan dan mengajak keluarganya melakukan hal serupa dapat menjadi awal dari dampak yang lebih besar.
Ia juga mengingatkan agar kepedulian tidak baru muncul setelah penyakit dirasakan. Mengenali gejala, menjaga pola hidup, berkonsultasi, serta melakukan pemeriksaan ketika diperlukan merupakan bagian dari upaya menghindari keterlambatan penanganan.
“Jangan menunggu sakit baru peduli. Kalau kita bisa mencegah dan mengetahui lebih awal, kenapa harus menunggu sampai terlambat?” tegasnya.
Menutup pernyataannya, H. Hamzah menegaskan, penyuluhan yang digelar IKABENTO bersama YPKI bukan sekadar forum untuk menyampaikan informasi mengenai kanker. Lebih jauh, kegiatan itu menjadi upaya mengubah pengetahuan menjadi kepedulian dan kepedulian menjadi tindakan.
Pesan almarhum ibunya untuk selalu memberi manfaat menjadi benang merah dari langkah H. Hamzah. Ia ingin apa yang dimulai dari ruang penyuluhan dapat bergerak ke lingkungan keluarga dan masyarakat, sehingga kesadaran menjaga kesehatan tumbuh secara berkelanjutan.
“Insyaallah, selama kami masih diberi amanah, kami akan terus berbuat untuk masyarakat. Harapannya, apa yang kami lakukan bersama IKABENTO ini bukan hanya menjadi kegiatan hari ini, tetapi bisa menjadi gerakan nyata yang manfaatnya dirasakan banyak orang dan, mudah-mudahan, bisa menyelamatkan banyak nyawa,” tutupnya. (el’s)







