Depok | Sketsa Online – Di tengah meningkatnya timbulan sampah perkotaan, tantangan pengelolaan sampah kini tidak lagi sekadar mengangkut atau mengolah limbah. Pemerintah daerah juga dituntut mampu membangun sistem yang menghasilkan data akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan.
Tanpa data yang valid, efektivitas pengurangan sampah dari sumber, peningkatan kapasitas pengolahan, hingga evaluasi program lingkungan akan sulit diukur secara objektif. Karena itu, transformasi digital menjadi kebutuhan untuk mewujudkan tata kelola persampahan yang lebih modern, transparan, dan terukur.
Kesadaran tersebut mendorong Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok menggandeng Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) mengembangkan sistem pengelolaan sampah organik berbasis Internet of Things (IoT). Kolaborasi itu diawali melalui Pelatihan Pengelolaan Sampah Organik Terintegrasi Berbasis IoT yang digelar pada Jumat (31/7/2026).
Bagi Kota Depok, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi menjadi langkah awal membangun fondasi pengelolaan sampah yang bertumpu pada teknologi dan data sebagai dasar pengambilan keputusan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Siti Nuraeni adalah S.Si., M.Si., mengatakan kerja sama dengan PNJ diarahkan untuk membangun sistem informasi yang mampu memantau sekaligus mencatat seluruh proses pengolahan sampah organik secara digital.
“Melalui kolaborasi dengan Politeknik Negeri Jakarta, kami akan mengembangkan sistem informasi pemantauan dan pencatatan berbasis Internet of Things (IoT) yang mendukung pengolahan sampah organik menjadi kompos maupun melalui biokonversi menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot,” ujar Reni.
Ia menilai, sistem tersebut akan mempercepat proses pencatatan yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual. Dengan IoT, setiap tahapan pengolahan dapat terdokumentasi secara otomatis, mulai dari volume sampah yang masuk, proses pengolahan, durasi pengolahan, hingga hasil akhir berupa kompos maupun maggot.
“Kami ingin setiap proses pengolahan dapat dipantau secara akurat. Dengan begitu, pemerintah memiliki data yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengevaluasi program sekaligus menyusun kebijakan yang benar-benar sesuai kondisi di lapangan,” katanya.
Internet of Things (IoT) merupakan teknologi yang memungkinkan berbagai perangkat saling terhubung melalui jaringan internet untuk mengirim dan menerima data secara otomatis. Dalam pengelolaan sampah, teknologi ini memungkinkan informasi diperoleh secara real time tanpa bergantung pada pencatatan manual.
Melalui sistem tersebut, pemerintah dapat mengetahui jumlah sampah yang berhasil dikurangi sejak dari sumbernya, memantau kapasitas fasilitas pengolahan, mengukur produktivitas, hingga mendeteksi kendala operasional lebih cepat. Ketersediaan data yang akurat akan membuat setiap kebijakan lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran.
Data yang dihasilkan melalui sistem tersebut juga akan menjadi dasar untuk mengevaluasi efektivitas program dan mengukur keberhasilan pengurangan sampah dari sumber. Menurut Reni, kehadiran sistem digital sekaligus mengubah paradigma pengelolaan sampah yang selama ini lebih berorientasi pada penanganan akhir.
“Dengan sistem ini, pengelolaan sampah tidak lagi hanya berorientasi pada penanganan akhir. Kami ingin setiap proses menghasilkan data secara real time sehingga keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan kondisi di lapangan,” jelasnya.
Pengembangan sistem difokuskan pada sampah organik karena masih mendominasi timbulan sampah rumah tangga. Apabila tidak dipilah sejak dari sumbernya, sampah organik akan menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), menimbulkan bau, menghasilkan air lindi, serta melepaskan gas metana yang memiliki potensi pemanasan global lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida.
Sebaliknya, jika dikelola dengan baik, sampah organik memiliki nilai manfaat yang besar. Melalui proses pengomposan, sampah dapat diolah menjadi pupuk organik untuk penghijauan maupun pertanian.
Sementara melalui biokonversi menggunakan larva BSF atau maggot, sampah organik dapat menghasilkan sumber protein alternatif bagi pakan ikan dan ternak, dengan residunya tetap dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
“Karena itu kami terus mendorong agar pengelolaan sampah dimulai dari sumbernya. Semakin banyak sampah organik yang diolah, semakin kecil beban yang harus ditangani di TPA,” ujar Reni.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai.
Selain mengurangi pencemaran lingkungan, pengelolaan sampah organik juga membuka peluang ekonomi melalui produksi kompos, budidaya maggot, hingga pengembangan usaha berbasis pengelolaan sampah.
Kolaborasi DLHK Kota Depok dengan PNJ menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan memerlukan sinergi lintas sektor. Perguruan tinggi menghadirkan inovasi berbasis riset dan teknologi, sementara pemerintah daerah memastikan inovasi tersebut dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Ke depan, sistem digital berbasis IoT diharapkan menjadi fondasi pengelolaan sampah yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Data yang dihasilkan akan membantu pemerintah menetapkan prioritas program, meningkatkan efisiensi anggaran, sekaligus mengukur pencapaian target pengurangan sampah secara berkelanjutan.
Menutup keterangannya, Reni menegaskan bahwa transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bagi kota yang ingin membangun sistem pengelolaan sampah modern.
“Pengelolaan sampah di masa depan harus bertransformasi dari sistem konvensional menuju tata kelola berbasis data dan teknologi. Kami berharap langkah ini mampu mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih modern, efektif, berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan hidup di Kota Depok,” tutupnya. (el’s)







