Bukan Hanya El Nino, Ini Penyebab Depok Terasa Makin Panas

Depok | Sketsa Online – Suhu udara di Kota Depok belakangan ini terasa semakin menyengat. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, S.Si., M.Si., membenarkan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi mulai munculnya fenomena El Nino.

Meski demikian, ia menegaskan cuaca panas yang dirasakan masyarakat tidak hanya disebabkan oleh fenomena iklim tersebut. Dampaknya turut diperkuat oleh pemanasan global serta perubahan lingkungan di kawasan perkotaan yang menyebabkan suhu terasa lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Menurut Reni, El Nino merupakan fenomena iklim alami yang terjadi akibat meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Fenomena yang berlangsung secara siklus ini menyebabkan curah hujan berkurang dan suhu udara meningkat di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.

“Benar, saat ini kita mulai memasuki periode El Nino sehingga berpengaruh terhadap meningkatnya suhu udara. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa cuaca panas yang kita rasakan tidak hanya disebabkan oleh El Nino. Ada juga pengaruh pemanasan global yang diperkuat oleh aktivitas manusia,” ujarnya, Minggu (2/8/2026).

Ia menjelaskan, El Nino dan pemanasan global merupakan dua fenomena yang berbeda. El Nino bersifat alami dan terjadi secara periodik, sedangkan pemanasan global merupakan dampak jangka panjang dari meningkatnya emisi gas rumah kaca akibat berbagai aktivitas manusia.

“Pemanasan global dipengaruhi oleh pola pembangunan yang belum sepenuhnya ramah lingkungan, pengelolaan sampah yang belum optimal, penggunaan energi yang menghasilkan emisi, hingga semakin berkurangnya tutupan lahan hijau. Faktor-faktor inilah yang membuat suhu udara di perkotaan semakin tinggi,” katanya.

Reni menilai, berkurangnya pepohonan dan ruang terbuka hijau membuat kemampuan lingkungan menyerap panas terus menurun.

Semakin luasnya permukaan yang tertutup beton dan aspal menyebabkan panas lebih mudah terserap pada siang hari dan dilepaskan kembali secara perlahan, sehingga udara di kawasan perkotaan terasa lebih panas.

“Jadi memang benar El Nino menjadi salah satu penyebab meningkatnya suhu udara. Namun ketika dampaknya bertemu dengan kondisi lingkungan yang sudah terpengaruh pemanasan global, panas yang dirasakan masyarakat menjadi jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya,” jelasnya.

Ia mengatakan, berdasarkan perkembangan kondisi iklim, Indonesia saat ini mulai memasuki periode El Nino meski belum mencapai fase puncak. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September, meski intensitas dan durasinya masih bergantung pada dinamika atmosfer serta kondisi laut.

Mengantisipasi dampak musim kemarau yang lebih kering, DLHK Kota Depok memperkuat langkah mitigasi, terutama untuk mencegah potensi kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dan kawasan rawan lainnya.

“Kami terus memantau perkembangan El Nino karena kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran. Fokus kami memastikan seluruh langkah mitigasi berjalan optimal agar potensi kebakaran, terutama di kawasan TPA, dapat dicegah sejak dini,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ia menambahkan, mitigasi dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), pemerintah kecamatan, serta pemerintah kelurahan.

DLHK juga menyiapkan embung dan tangki air sebagai cadangan, meningkatkan patroli dan pemantauan kawasan TPA, memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta memperketat penerapan standar operasional prosedur (SOP).

Tak hanya itu, Reni mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama suhu udara masih tinggi. Warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari saat cuaca sangat terik.

Apabila harus beraktivitas, masyarakat dapat menggunakan pelindung seperti payung atau topi serta mengikuti anjuran Dinas Kesehatan, termasuk menjaga kecukupan cairan tubuh dengan memperbanyak minum air putih.

Menutup pernyataannya, ia menegaskan bahwa upaya menghadapi perubahan iklim tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Partisipasi masyarakat menjadi kunci untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus mengurangi dampak pemanasan global.

“Masyarakat dapat berkontribusi dengan mengelola sampah sejak dari sumber, tidak membakar sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat energi, serta menanam pohon di lingkungan sekitar. Semakin baik lingkungan yang kita jaga hari ini, semakin besar peluang Kota Depok menjadi kota yang lebih sejuk, sehat, dan tangguh menghadapi perubahan iklim di masa depan,” tutupnya. (el’s)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler