Depok | Sketsa Online – Pemerintah Kota Depok terus memperkuat strategi pengurangan sampah dari sumber sebagai langkah jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipayung.
Salah satu upaya yang ditempuh adalah memperluas kolaborasi dengan Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP) melalui program pendampingan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Program yang akan berlangsung selama 10 bulan tersebut menetapkan tujuh kelurahan sebagai wilayah percontohan untuk membangun sistem pengelolaan sampah mandiri.
Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak lagi diposisikan hanya sebagai penghasil sampah, melainkan menjadi pelaku utama dalam upaya pengurangan, pemilahan, dan pemanfaatan sampah sejak dari sumbernya.
Komitmen tersebut mengemuka dalam audiensi antara Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok dengan tim ISWMP pada Kamis (30/7/2026).

Pertemuan itu menjadi bagian dari rangkaian dukungan ISWMP dalam memperkuat tata kelola persampahan di Kota Depok melalui penguatan kelembagaan masyarakat, pendampingan teknis, peningkatan kapasitas warga, serta pembentukan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Kepala DLHK Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, S.Si, M.Si, menegaskan bahwa tantangan pengelolaan sampah di kawasan perkotaan tidak dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan kapasitas pengangkutan maupun memperluas fasilitas pemrosesan akhir.
Menurutnya, solusi yang lebih mendasar adalah membangun kesadaran kolektif masyarakat agar mampu mengurangi timbulan sampah sejak dari tingkat rumah tangga.
Ia menilai keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat dalam mengurangi, memilah, dan mengolah sampah di lingkungan masing-masing.
“DLHK Kota Depok menyambut baik program pendampingan ini dan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya agar seluruh tahapan kegiatan dapat berjalan optimal. Kami berharap program ini mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, memperkuat kelembagaan pengelolaan sampah di tingkat lingkungan, serta mendorong lahirnya praktik pengelolaan sampah mandiri yang berkelanjutan sehingga dapat mengurangi timbulan sampah yang masuk ke TPA Cipayung,” ujarnya pada Sabtu (1/8/26).
Lebih lanjut, Ia menjelaskan, penguatan kelembagaan masyarakat merupakan salah satu faktor kunci agar program pengelolaan sampah tidak berhenti setelah masa pendampingan berakhir.
Keberadaan organisasi atau kelompok pengelola sampah di tingkat lingkungan diharapkan mampu menjaga keberlanjutan kegiatan, mulai dari edukasi, pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
Ia menambahkan, perubahan perilaku masyarakat merupakan fondasi utama dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan. Ketika warga memiliki pengetahuan, keterampilan, serta kelembagaan yang kuat, volume sampah yang harus diangkut ke TPA akan berkurang secara bertahap.
Di sisi lain, kualitas lingkungan permukiman juga akan meningkat karena masyarakat menjadi bagian dari solusi dalam pengelolaan sampah.
Sebagai bentuk dukungan terhadap target tersebut, program pendampingan akan dilaksanakan mulai Agustus 2026 hingga 10 bulan ke depan dengan melibatkan 19 personel ISWMP yang terdiri atas koordinator kota, koordinator wilayah, asisten data, dan pendamping lapangan.
“Program pendampingan dijadwalkan berlangsung mulai Agustus 2026 hingga 10 bulan ke depan dengan melibatkan 19 personel ISWMP yang terdiri atas koordinator kota, koordinator wilayah, asisten data, dan pendamping lapangan. Pelaksanaannya akan dilakukan secara kolaboratif bersama DLHK, pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan, serta perangkat daerah terkait,” ungkapnya.
Pada tahap awal, pendampingan difokuskan di tujuh kelurahan, yakni Cipayung, Ratujaya, Cipayung Jaya, Bojong Pondok Terong, Pondok Jaya, Baktijaya, dan Duren Seribu. Ketujuh wilayah tersebut diproyeksikan menjadi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dapat direplikasi di kelurahan lain di Kota Depok.
Melalui pola pendampingan yang terstruktur, Pemerintah Kota Depok berharap setiap kelurahan mampu membangun sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA Cipayung, tetapi juga menumbuhkan budaya baru yang menjadikan pemilahan dan pengolahan sampah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Menutup pernyataannya, Reni menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari berkurangnya timbulan sampah yang masuk ke TPA Cipayung, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Keberhasilan program ini diharapkan tidak hanya tercermin dari menurunnya timbulan sampah yang masuk ke TPA Cipayung, tetapi juga dari terbentuknya budaya baru di tengah masyarakat yang menjadikan pemilahan dan pengelolaan sampah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari serta fondasi menuju kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” tutupnya. (el’s)







